
Pak Anton kembali ke rumah dengan yang lain pun menghampiri Shena yang tengah mengendong bayi nya duduk bersama Bu Ratna dan Bu Sisil.
"Bagaimana Pa dengan rumahnya?." Tanya Bu Ratna.
"Sudah, semua beres, sisa nya Tama yang akan mengurus nya."Balas Pak Anton.
Tama pun tersenyum kecil dan mengangguk.
"Bagus lah kalau begitu."
"Ma, Pa, Ayo kita pulang, kita sudah 2 hari disini!." Ajak Kak Brams.
"Iya, boleh, Ayo pa, Kita pulang."Ajak Bu Sisil.
"Kenapa cepat sekali sih Mbak." ujar Bu Ratna.
"Rumah kosong Mbak, Nanti kapan-kapan main lagi kesini."Balas Bu Sisil.
__ADS_1
"Tama, Kamu disini saja Nak, Temani Shena."Ucap Bu Sisil.
"Iya Ma."Balas Tama.
Shena pun tampak hanya diam, namun masih menyematkan senyuman tipis di wajah nya agar tidak terlalu menyinggung siapa pun yang ada di rumah ini, Walau sebenarnya ia sangat enggan tersenyum untuk Tama.
Setelah mengantar keluarga Pak Toni sampai teras rumah dan Pergi, Tama pun tampak Izin pada Bu Ratna dan Pak Anton untuk pulang ke rumah mengambil laptop nya untuk bekerja besok. Pak Anton pun mengizinkan, Tama lalu masuk ke kamar untuk memberitahu Shena, tak ingin mengulangi kesalahan yang sama mengacuhkan Shena.
Saat masuk ke kamar, Tama mendekati Shena dan buah hati mereka yang ada di tangan wanita itu. semakin dekat dan membuat Shena pun jadi salah tingkah, namun masih dengan wajah dingin ia menatap laki-laki itu tampak membelai Thalia putri kecil mereka. Lalu melihat Tama mencium pipi putri nya. Kedua mata Shena berkaca-kaca, namun ia masih mencoba menahan cairan bening yang sudah siap di ujung mata, cinta yang tak pernah di dapatkan putri nya saat dalam kandungan, kini bisa ia lihat dengan jelas di depan mata nya.
Tama lalu mengangkat wajah nya dan menatap Shena.
Melihat tatapan mata ketulusan Tama, Membuat Shena lekas membuang wajah ke sembarangan arah.
"Aku akan pulang ke rumah dulu, ambil barang-barang untuk ke kantor besok." Ucap Tama saat Shena mengacuhkan nya. Shena mengangguk kecil kepala dengan datar dan dingin.
•••
__ADS_1
Setelah Tama pergi, Shena yang sudah menidurkan Thalia pun menghampiri ayah nya yang bicara dengan Ibu nya.
"Ada apa Ma, Pa?." Tanya Shena saat melihat keseriusan orang tua nya saat itu.
"Tama tidak mau menerima rumah Yang Papa berikan secara percuma, dia akan mencicil dengan gaji nya selama bekerja di kantor Papa."Ucap Pak Anton memberitahu Shena dan Bu Ratna.
"Bagus lah, yang penting dia mau menerima nya."Balas Bu Ratna.
"Iya pa, Biar lah begitu saja, yang penting aku tak lagi ingin hidup susah dengan nya, dia tidak selevel dengan Shena, tak mampu, tapi terlalu sok."Balas Shena.
Ucapan putri nya masih terdengar tajam. dan akan menyakitkan jika Tama mendengar hal ini, membuat Pak Anton mengelengkan kepala nya. beruntung Tama sudah sudah pergi sejak tadi pikir Pak Anton.
"Jangan terlalu keras hati Shena, Coba lah untuk memaafkan, baru bisa bahagia menjalani sebuah rumah tangga."Ucap Pak Anton. Bu Ratna pun memandang putri nya dengan Ibah, meski pun tahu putri nya tidak bahagia dengan kembalinya bersama Tama, tapi ia tetap tak membenarkan sikap Putri nya itu.
"Iya Shena, Mama tidak suka kamu merendahkan orang seperti itu, apa lagi suami mu."Ucap Bu Ratna.
"Mama juga gak setuju kan Awal nya Shena sama Tama, karena Tama miskin, sekarang pikiran Shena sudah sama dengan Mama." Ucap Shena.
__ADS_1
"Shena, jaga bicara mu." Bentak bu Ratna.
Shena dengan kesal berjalan pergi ke kamar nya dan menangis di dalam kamar.