Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
51 - Tama Berbeda


__ADS_3

Tama pun mengangguk, dan kembali duduk, melanjutkan makanan yang di masak oleh Shena. Shena yang melihat pun ingin bertanya kenapa kau makan selahap itu. tapi gengsi Shena masih tinggi, ia pun tanpa memikirkan apa pun memakan makanan nya.


Shena tercenung karena masakan Tama sangat enak, ia melihat laki-laki itu yang tampak makan dengan lahap, tak menyangka kalau Tama sangat jago memasak. Hal itu pun menambah nafsu makan Shena malam ini.


•••


Saat di tengah makan, Tama dan Shena mendengar suara tangisan Thalia di dalam kamar. Shena pun ingin bangkit berdiri dan mengambil thalia.


"Biar aku saja. lanjutkan makan mu."Ucap Tama menahan Shena.


Shena yang melihat Tama telah menyelesaikan makan nya pun mengiyakan tanpa balasan.


Saat Tama pergi, Shena mencoba kembali masakan yang ia masak tadi. mengira kalau ia mungkin tadi salah, mungkin saja rasanya enak.


Namun Shena kembali memuntahkan nya, karena rasa nya memang tidak enak, sangat asin. Shena merasa sangat bersalah karena membiarkan Tama memakan nya. Tapi rasa kekecewaan nya pada Tama membuat ia menutup mulut nya, dan membiarkan nya.


Saat Shena selesai mencuci piring dan membereskan dapur, Shena masuk ke kamar dan melihat pemandangan yang begitu sejuk.


Tampak Tama tengah berbaring di samping thalia, menepok nya dengan pelan untuk menidurkan nya.


Shena menelan Saliva nya, binggung ia harus bersikap seperti apa, sejak di dapur itu Tama telah membuat ia di lema.

__ADS_1


Shena perlahan ke tempat tidur dan mengambil Thalia dan menyusui nya, Shena duduk membelakangi Tama yang hanya bisa melihat punggung Shena. setelah selesai menyusui, Shena menidurkan nya di dalam keranjang bayi.


Saat ia membalikkan tubuh nya menatap Tama, Tama tampak sudah tertidur pulas. Sejenak Shena melihat wajah laki-laki itu, sebelum ia pun ikut membaringkan tubuh nya di samping Tama.


Namun hal tak terduga Tama lakukan pada nya. Tama memeluk nya dari belakang. tentu saja Shena menolak, Ia menyingkirkan tangan Tama dari nya, Tama pun tersenyum dan berbaring pada posisi awal nya.


Shena menghela nafas berat setelah berhasil melepaskan pelukan Tama, dengan berbaring membelakangi Tama, Shena pun tertidur.


•••


Keesokan pagi nya.


Shena terbangun saat mendengar suara thalia yang merengek tidak nyaman karena thalia Bab, Shena melihat ke sebelah nya dan melihat Tama sudah tidak ada di tempat tidur.


Tubuh Thalia yang sudah besar seperti bayi pada Umum nya, tidak seperti saat di lahirkan karena tidak cukup bulan. membuat Shena merasa senang, ia memandangi kan putri nya sembari merasakan jatuh cinta pada putri kecil nya itu.


Setelah selesai menyiapkan Thalia, Tama masuk ke dalam kamar, Shena mengira Tama telah berangkat ke tempat kerja. melihat laki-laji telah rapi Shena pun hanya diam tanpa bertanya.


Tama lalu mengambil thalia dari Shena.


"Ayo sarapan."Ucap Tama.

__ADS_1


"Kau menyiapkan sarapan?." tanya Shena yang akhirnya membuka mulut.


"Iya, Ayo." Ajak Tama.


"Kau seharusnya tidak melakukan itu, itu bukan tugas mu."Ucap Shena.


"Aku akan berhenti memasak, sampai kau nyakin dengan masakan mu sendiri. kalau kau takut tidak enak, kau bisa belajar kan."Ucap Tama. Shena terdiam.


Tama melangkahkan kaki nya keluar dari kamar, Shena pun mengikuti dari belakang.


Harus Shena akui kalau Tama sangat jago memasak, mungkin bakat yang terpendam, gumam Shena.


Tama mengendong Thalia dan menunggu Shena makan.


"Biar aku saja, kau juga harus makan dan kekantor."Ucap Shena.


"Aku sudah siapkan untuk makan di kantor."Balas Tama.


Shena pun tak lagi bicara atau pun bertanya, kenapa tidak makan disini saja.


Setelah Shena selesai, Tama pun memberikan thalia pada Shena, mengecup kening thalia lalu juga mengecup kening Shena sebelum berangkat.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu." Apa yang di lakukan Tama membuat Shena duduk membeku. tak mengira Tama akan mengecup kening nya sebelum ia pergi.


Shena yang masih duduk menoleh melihat Tama keluar dari rumah.


__ADS_2