Cintai Kami Papa

Cintai Kami Papa
26 - Tidak Dihargai


__ADS_3

Sebulan pun berlalu.


Shena pun akhirnya mendapatkan gaji pertama nya dari Kika, ini murni dari hasil kerja keras nya sendiri menghasilkan uang.


Meski tidak banyak, tapi Shena merasa sangat senang, ia bisa merasakan lelah nya bekerja.


Saat Tama pulang ke rumah, ia lansung di sambut oleh Shena yang sudah menunggu nya sejak tadi. ia menghampiri laki-laki itu dan berdiri tepat di depan nya, sontak saja menghentikan langkah Tama yang berjalan masuk.


"Tama, Lihat ini, Aku sudah bisa bekerja dan menghasilkan uang."Shena memberikan sebuah Amplop pada Tama.


Tama yang mendengar Shena bekerja pun agak terkejut. Ia mengambil Amplop yang di sodorkan Shena pada nya dan membuka nya.


"Itu masih seperempat dari uang yang ku pakai, tapi sisa nya nanti akan ku cicil lagi dengan gaji ku."Ucap Shena.


Tama menghela nafas berat. "Sejak kapan kamu mulai bekerja?." Tanya Tama.

__ADS_1


"Sejak aku memberitahu mu waktu itu."raut wajah Shena menjadi binggung dan heran.


"Memberitahuku?." Shena menganggukan kepala nya menatap Tama dengan bingung. Tama seolah tidak ingat kapan Shena memberitahu nya.


"Dengar Shena, Apa kau sudah lupa kalau kau tengah mengandung?, ibu dan ayah mu bahkan memarahi ku hanya karena aku lembur bekerja, bagaimana kalau mereka tahu kau bekerja di luar, kau ingin aku lebih lagi di hina oleh keluarga mu karena aku tidak mampu?." Ucapan Tama seolah mematahkan semangat dan antusias nya saat memberikan gaji pertama nya pada Tama.


"Tapi aku baik-baik saja, dan Mama dan Papa juga tidak tahu soal ini." dengan suara yang pelan Shena berkata, tangisan nya ingin pecah Jika suara nya lebih besar sedikit, ia masih mencoba memberi pengertian pada Tama kalau ia baik-baik saja.


"Berhenti dari pekerjaan mu, aku sudah tidak butuh uang mu lagi."Ucap Tama. lalu meraih tangan Shena dan mengembalikan amplop Shena kembali


Shena duduk di ruang tamu, Ia tidak lagi memiliki gairah apa pun, perjuangan nya bekerja selama ini tidak di hargai sama sekali oleh Tama.


Sementara Tama masuk ke ruangan kerja nya, Shena mendengar ia mengunci dari dalam, membuat Shena semakin sedih.


•••

__ADS_1


Keesokan harinya.


Kika kembali mendengar cerita Shena, Shena pun menangis menceritakan pada Kika, dengan sesegukan seperti anak kecil Shena tak bisa mengendalikan dirinya di depan sahabat nya yang selalu mendengar keluhan nya.


"Gila ya sih Tama, mau nya apa sih Diaz dia sendiri yang minta kamu kembalikan uang nya dengan kerja keras kamu sendiri, tapi sekarang malah begitu, ga bisa menghargai orang sekali ya."Kika merasa sangat kesal mendengar cerita Shena.


"Ki, emang nya aku ga pantas ya di cintai, Aku tu udah berusaha jadi yang terbaik untuk Tama, Aku belajar masak, belajar jadi istri yang baik, belajar hidup sederhana sama dia, tapi kenapa Tama masih begitu dingin sama aku Ki."Shena menangis sesegukan, bahkan ia terbata-bata dalam berkata-kata.


"Sabar ya She, Aku nyakin suatu hari Tama pasti akan bisa melihat ketulusan hati kamu."Ucap Kika.


Shena hanya bisa mengangguk, namun hati nya tetap terluka. air mata nya masih menetes namun ia menyekat nya dengan tissu.


"Shena, saran aku, kamu harus mencoba untuk menjauh Tama, coba untuk menghiraukan nya saat ini."Ucap Kika.


"Aku engak bisa Ki, aku takut..., Takut dia akan semakin membenci ku." Jawab Shena.

__ADS_1


Melihat kebucinan sahabat nya, Kika pun hanya bisa mengusap wajah nya sendiri, bahkan diri nya sendiri saja geram dengan sikap Tama, tapi Shena memilih untuk bertahan.


__ADS_2