
Malam ini semua keluarga Tama menginap di rumah keluarga Shena, karena setelah makan malam, obrolan mereka pun membuat waktu semakin larut. hingga pak Toni dan Bu Ratna meminta semua untuk menginap.
Saat hari semakin malam, Tama baru saja selesai berbicara dengan Kakak dan Kedua ayah nya itu yang memberi nasehat pada nya dan obrolan kecil pun masuk ke kamar untuk beristirahat.
Tampak Shena sudah tertidur, tama mendekati wanita itu dan menutupi tubuh Shena dengan selimut. Tama lalu menghampiri keranjang bayi dimana bayi mereka di letakkan. Mengusap lembut dengan jemari nya pipi Thalia, sebelum akhir nya Tama membaringkan diri nya di samping Shena.
Ia tak lansung tidur, mata nya menatap ke langit-langit, semangat nya kini kembali bangkit ketika ia bertemu dengan buah hati nya dan juga Shena, kini harapan nya ia bisa lebih baik lagi dari saat ini.
•••
Keesokan pagi nya.
Tama terbangun dan melihat Shena tampak duduk membelakangi nya, memberi susu pada thalia. Tama lalu turun dari tempat tidur dan menghampiri Shena.
Namun ia lekas mengalihkan pandangan nya saat ia melihat Shena yang tengah memberikan susu pada Thalia. Shena melihat Tama mengalihkan pandangan nya pun merasa heran.
"Apa sepolos itu Tama??" Batin nya.
Karena ia tahu, Tama mengalihkan pandangan nya karena malu melihat susu gantung milik thalia.
__ADS_1
"Aku akan mandi dulu."Ucap Tama berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Shena menyunggingkan senyum kecil mengelengkan kepala nya. ia rasa laki-laki sekarang tidak sepolos itu, sampai melihat tonjolan kecil saja Tama sudah memalingkan mata nya tak mau melihat.
Setelah Selesai mandi, Tama kelaur dari kamar mandi, Melihat Shena menidurkan Thalia di tempat tidur.
"Aku..." Tama baru akan membuka mulut bicara. Shena lansung meminta nya untuk diam.
"Shutttttt. dia tidur."Ucap Shena pelan-pelan agar tidak membangunkan Thalia.
Tama lalu mendekati Shena, Shena yang di dekati seperti itu sontak saja terkejut, namun tubuh nya membatu. Wajah Tama perlahan mendekat dan mendekat sampai di samping wajah Shena, wajah kedua nya hanya berjarak 2 ruas jari saja.
Bisikan itu rasa nya membuat bulu kuduk Shena merinding. Shena pun mendorong Pelan Tama menjauh dari telinga nya.
Jantung nya berdetak kencang dan nafas Shena mendadak sesak, Perasaan yang dulu ia rasakan ketika ia bersama Tama selama ini. Kini ia rasakan kembali.
"Pergi lah." Ucap Shena pelan. lalu berjalan keluar dari kamar. Tama pun tersenyum kecil saat Shena berjalan pergi keluar dari kamar.
••••
__ADS_1
Rumah Baru.
Tama dan Brams ikut bersama Pak Toni Pak Anton ke sebuah rumah yang lumayan besar, Rumah yang di belikan Pak Anton untuk pernikahan putri nya.
"Tama, bagaimana menurutmu, apa ini rumah nya bagus?."Tanya Pak Anton. Tama diam agak canggung.
"Jangan malu Tama, Rumah ini saya belikan untuk pernikahan kalian, jadi rumah ini milik kalian, Cuman sekarang saya hanya ingin tanya kan pada mu, kalau kamu tidak cocok, kita akan Carikan yang lebih bagus."Ucap Pak Anton.
"Wah enak sekali Tama, Kalau aku nikah nanti, aku berharap bapak mertua ku sebaik om Anton." Goda Brams mencoba untuk mencarikan Suasana canggung di hati adik nya.
"Ha ha ha, Amin amin."Balas Pak Anton. Tama pun ikut tersenyum mendengar ucapan kakak nya yang konyol.
"Ini sudah bagus Pa, tapi aku benar-benar tidak enak menerima ini secara percuma dengan Papa." Tutur Tama.
Pak Anton menatap Tama, hingga akhir nya ia menjawab.
"Kalau kamu rasa begitu, kamu bisa mencicil nya dengan gaji kamu selama bekerja di kantor Papa setiap bulan nya, anggap saja kamu membeli rumah ini secara cicil."Ucap Pak Anton.
Tama pun tersenyum dengan semangat ia mengatakan. "Baiklah Pa, Aku setuju."Ucap Tama.
__ADS_1
Pak Anton menghela nafas lega mendengar hal itu, begitu pun pak Toni.