
Belajar lah bersikap sebagai orang tua yang bijak Ma, Tama kini juga anak kita sama seperti Shena, Shena itu sangat mencintai Tama, Kenapa Mama malah bersikap terus membela Shena yang jelas-jelas bersalah."Pak Anton menasehati Istri nya yang ada di dapur menyiapkan makan malam untuk semua.
"Iya, Nama nya seorang ibu Pa, Melihat anak nya menangis seperti itu, mama kan khawatir. lagian kalau yang Papa katakan itu benar, tabungan Tama di pakai Shena sampai habis, Mama juga kasihan mendengar nya, Papa harus ganti uang nya Tama."Ucap Bu Ratna.
"Tama itu Pria mandiri, Dia tidak akan mau kita mengantikan uang nya."
"Kalau gitu nama nya egois Pa, untuk apa marah-marah kalau uang itu bisa kembali, apa lagi Shena lagi hamil, memang Tama nya saja yang keterlaluan."
Pak Anton mendengar ucapan istri nya mengelengkan kepala nya, Sementara Shena yang tidak jauh dari mereka, tanpa di sadari kedua orang tua nya, ia mendengar semua yang bicarakan ibu dan ayah nya.
•••
Malam hari nya.
Tama pulang dari tempat kerja dan melihat Kedua mertua nya berjalan keluar dari rumah karena akan segera pulang.
__ADS_1
Bu Ratna menatap Tama dengan raut wajah agak tidak suka.
"Baru pulang Tam?." Tanya Pak Anton.
"Iya Pa, Lembur di kantor, Papa dan Mama kapan datang?." Tanya Tama.
"Sejak Shena nangis-nangis." Agak ketus, Tama melihat Shena yang mulai tidak enak karena Ibu nya terlalu keras dengan tama.
"Kamu ini Tama, istri lagi hamil kok di tinggal kerja sampai larut malam begini, kalau sesuatu terjadi jadi sama Shena gimana, apa lagi Shena di rumah sendirian."lanjutnya lagi.
"Maaf Ma, Pa, Lain kali aku akan bekerja lebih cepat agar pulang lebih awal."jawab Tama.
"Sudah Tama, kami pulang dulu, titip jaga Shena ya."Ucap Pak Anton menepuk pundak Tama sembari mengandeng istri nya berjalan ke mobil.
"Iya Pa." jawab Tama setelah nya.
__ADS_1
Shena menatap Tama yang datar saja, dia pasti sangat marah karena di Tegur seperti itu oleh ibu nya, apa lagi ia pusing karena uang nya habis terpakai oleh nya.
Tama dan Shena melihat mobil orang tua Shena berlalu pergi, Tama lalu berjalan masuk setelah itu tanpa mengatakan apa pun. Shena pun dengan cepat berjalan masuk ke dalam rumah mengikuti Tama.
"Tama." Panggil Shena menghentikan langkah Tama. namun Tama tidak membalikan tubuh nya untuk melihat Shena.
"Maaf untuk hari ini, soal uang yang kupakai, nanti aku akan mengembalikan nya, Aku janji tidak akan mengunakan uang Papa, tapi mungkin butuh waktu."ucap Shena.
Mendengar hal itu, Tama sama sekali tidak perduli. "Terserah kau saja."Jawab nya datar lalu kembali melangkah pergi.
"Em, Mama ada masak untuk kita, ayo makan malam."Ajak Shena lagi. Tapi Tama tidak menjawab ucapan nya.
Shena melihat Tama masuk ke dalam kamar, Shena pun merasa lemah, karena lagi-lagi Tama mengacuhkan nya.
Shena duduk di meja makan, ia melihat makanan yang di buat oleh ibu nya, yang belum ia sentuh sama sekali karena menunggu Tama untuk makan bersama. berharap Tama mau makan masakan ibu nya, kalau memang ia tidak suka makan masakan yang ia masak.
__ADS_1
Berfikir Tama tidak akan mau makan bersama, Shena di kagetkan dengan Tama yang muncul dan duduk di kursi berhadapan dengan nya, lalu mulai mengambil makanan di piring nya. Shena di buat kaget. ia bahkan tak bisa berkata-kata, meski hanya begitu saja, ia merasa sudah sangat senang.
Meski ia merasa mual karena aroma bawang, namun Shena tidak mau melewatkan hal ini, ia makan dengan lahap sembari menatap Tama yang mata nya hanya melihat ke makanan yang ia makan.