Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 1 - Permulaan


__ADS_3

"Apakah saya di terima, Pak?" Dengan gugup Tania bertanya pada pria yang merupakan penyalur tenaga kerja tempat ia mendaftarkan diri, namanya Hermanto.


Tania mengenal pak Hermanto dari teman sekolahnya, karena beliau juga yang memberikan pekerjaan pada temannya itu. Bekerja di Kota sebagai Asisten Rumah Tangga, dengan gaji yang lumayan.


Pak Hermanto lantas meletakkan kertas yang berisi formulir data diri Tania, tatapannya sangat tajam ke arah gadis itu. Entah apa yang di perhatikan nya, matanya bergerak dari atas hingga ke bawah seolah mencari cela pada diri Tania. Sangat membuat risih.


Tania gadis yang lumayan. Di berikan sedikit polesan ia akan terlihat cantik. Walau tubuhnya tak begitu berisi alias krempeng ia juga bisa masuk kategori yang pak Hermanto butuhkan melihat dari wajahnya yang manis. Dari pada tak ada sama sekali, pikir pak Hermanto.


"Apa kau yakin?" Tanya pria itu sangat serius.


Walau ragu, namun tekad Tania sudah bulat. Ia ingin mengobati ibunya yang sedang sakit-sakitan. Hanya sang ibu yang ia miliki di dunia ini. Bayangan wajah ibunya yang semakin menua semakin membulatkan tekad.


Pria paruh baya yang berada di hadapan Tania lalu berdiri, mengelilingi gadis itu masih dengan tatapan yang tajam. Entah kategori seperti apa yang dia inginkan, tapi Tania berharap ia bisa mendapatkan pekerjaan ini. Karena cuma pekerjaan ini yang tak memiliki banyak syarat, sedangkan ia hanya lulusan Sekolah Menengah Atas. Jaman sekarang, sangat susah mencari kerjaan. Lagi pula, apapun pekerjaannya yang penting berkah. Iya, kan?


"Yasudah. Besok kau ku antar ke Kota. Persiapkanlah dirimu."


Seperti mendapat angin segar, Tania sangat senang di berikan kesempatan ini.


"Terimakasih banyak, Pak." Senyum tak henti mengembang di bibirnya.


"Ya. Kau boleh pulang. Besok aku akan menjemputmu."


"Baik, Pak. Sekali lagi terimakasih."


Tania bergegas pulang, rasa tak sabar ingin menyampaikan kabar gembira ini pada ibunya. Ibunya pasti senang. Walau sebenarnya Tania melamar pekerjaan ini tanpa sepengetahuan sang ibu.


***


Tania, ia seorang gadis desa biasa yang tinggal berdua bersama ibunya di gubuk mereka yang kecil. Bapaknya sudah lama meninggal, hingga mengharuskan ia dan sang ibu harus hidup tanpa sosok lelaki perkasa yang menjadi pelengkap keluarga.


Ibu Tania--Bu Ayu, sudah lama sakit-sakitan, walau beliau selalu berusaha terlihat kuat, tapi Tania tau jiwa wanita itu begitu rapuh. Kalau mengenang tentang sosok ibu, air mata Tania selalu mendesak menerobos hingga terjatuh dengan sendirinya.

__ADS_1


***


"Bu..." Panggil Tania lembut pada ibunya yang sedang menjahit baju.


"Sudah pulang, Nak?"


"Iya, Bu." Tania lantas mencium punggung tangan Bu Ayu yang sudah mulai keriput itu. Tangan yang selalu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.


"Aku mau memberi kabar gembira, Bu." Tania sangat bersemangat, membuat ibunya sangat antusias mendengarkan.


"Kabar apa, Nak?"


"Besok aku akan berangkat ke Kota. Aku sudah di terima bekerja, Bu."


Raut wajah Bu Ayu berubah seketika. Sontak beliau menghentikan aktivitas menjahitnya. Tak ada tanda-tanda kesenangan atau kegirangan. Malah sekarang, beliau memalingkan wajah seperti menahan kesedihan.


"Bu? Maaf aku tak memberitahu Ibu kalau aku sudah melamar pekerjaan." Tania menggenggam tangan ibunya. Tubuh wanita yang ada di hadapannya itu bergetar. Isak tangis mulai terdengar.


"Bu," Tania tak kuasa menahan tangis. Segera ia memeluk tubuh bu Ayu yang lemah. Mengusap pelan punggung ibunya itu dan menenangkannya.


"Ibu tidak salah, yang aku butuhkan sekarang adalah restu Ibu. Jika Ibu ridho, maka Tuhan pun akan ridho."


Dalam pelukan Tania, bu Ayu mengangguk tapi air matanya tak henti mengalir.


"Aku janji akan mengobati Ibu sampai sembuh, dan mengubah keadaan keluarga kita, Bu."


"Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak. Semoga apa yang kau cita-citakan tercapai dan dapat kau raih."


"Terimakasih, Bu. Doamu akan menjadi bekalku."


'Ibu adalah penguat ku.'

__ADS_1


*****


Pagi,


Cuaca terlihat mendung. Langit gelap, seperti akan segera turun hujan.


Tania mendorong kursi roda Bu Ayu, sudah satu tahun ini ibunya tak bisa berjalan karena kakinya mendadak lumpuh. Tania membawa ibunya ke rumah bu Rohimah, beliau adalah tetangga yang paling dekat dengan mereka. Dan beliau adalah seorang janda yang tinggal seorang diri.


Sesuai yang mereka bicarakan tadi malam, bu Ayu akan dititipkan pada bu Rohimah. Bu Rohimah yang memang orang baik tak merasa keberatan jika bu Ayu yang harus tinggal bersamanya, malah bu Rohimah merasa senang karena mempunyai teman di rumahnya.


Tentu saja, Tania tetap tau diri. Ia akan mengirimi ibunya dan Bu lek-nya itu uang setiap bulan saat ia gajian.


Sembari menunggu jemputan, Tania dan ibunya duduk sambil terus berpegangan tangan. Banyak nasihat dari sang ibu yang ia tanamkan di dalam hati dan akan selalu ia ingat.


Hingga sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti tepat di depan rumah Tania. Pak Hermanto muncul dari dalam mobil, mengenakan jas hitam dan kacamata hitam. Dia tampak sendiri tanpa di temani satu orangpun.


Tania mencium ibunya begitu juga sebaliknya. Walau berat hati, ia harus kuat.


"Jaga dirimu baik-baik," ucap bu Ayu melepaskan kepergian anaknya itu.


"Iya, Ibu juga."


Tania mencium punggung tangan ibunya dan bu Rohimah, lalu ia bergegas masuk ke dalam mobil sambil menenteng tas yang berisi pakaian seadanya, karena sepertinya pak Hermanto tak bisa untuk menunggu lebih lama lagi.


Hingga perlahan mobil itu mulai melaju, tatapan Tania masih tertuju pada ibunya. Perlahan mobil semakin menjauh, dan menjauh. Hingga Ibunya kini hilang dari pandangan.


'Kadang untuk mencapai sebuah angan kau harus memerlukan tekad yang kuat.'


*****


__ADS_1


Ilustrasi rumah bu Rohimah


__ADS_2