Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 40 - Kotak Merah


__ADS_3

Seharian Tania berberes-beres, ia sengaja mencari kegiatan untuk mengisi kekosongan. Biasanya ia tak sesibuk ini. Ia merasa lebih bebas saja kalau tak ada Rakha di sana. Bebas untuk membersihkan semuanya.


Tania masuk ke ruang kerja Rakha untuk membersihkan dan merapikan kembali apa yang berantakan. Semua sudut tak ia lewatkan, termasuk di kolong-kolong meja dan kursi.


Saat sapu ia tarik dari bawah kursi, sebuah kotak ikut tertarik keluar. Kotak yang warnanya sudah mulai pudar dan terlihat sangat berdebu itu membuat ia penasaran apa yang ada di dalamnya.


Lantas ia mengambil kotak merah itu, membersihkan debu-debu yang menempel.


Kotak ini tak terlalu tinggi, dan ukurannya juga tak terlalu besar. Tania duduk, ia lalu membukanya karena benar-benar penasaran apa isinya.


Matanya terbelalak melihat isi dalam kotak itu. Banyak sekali foto-foto. Foto Rakha, bersama seorang wanita. Wanita yang sama wajahnya dengan foto yang terletak di kamar Rakha.


Tania memandangi foto-foto itu dan foto lainnya. Berbagai pose dan berbagai tempat, tentu saja foto-foto ini sangat mesra seperti menunjukkan kalau mereka itu sepasang kekasih. Atau ... bisa jadi pasangan suami-istri.


"Kenapa foto-foto ini di simpan di bawah kursi dan seperti tak pernah tersentuh lagi? Siapa wanita ini? Tapi ... wajahnya sangat mirip dengan wanita yang tadi pagi datang ke rumah ini. Apa ia istri tuan Rakha? Lalu kenapa ia tak di sini lagi? Kenapa ia membiarkan tuan Rakha memiliki asisten seperti aku ini?" Tanya Tania pada dirinya sendiri.


"Akh, terlalu banyak rahasia tentang Tuan Rakha. Apa aku berhak mengetahuinya? Tapi aku, aku benar-benar penasaran. Apakah ada masa lalu hingga membuat Tuan Rakha menjadi seperti sekarang?"


"Kenapa?"


"Apa yang terjadi?"


"Apakah masalah hati dan perasaan?"

__ADS_1


Tania kembali merapikan foto-foto yang berada di tangannya. Ia meletakkan kembali foto-foto itu ke dalam kotak. Tapi kotak itu tak ia letakkan kembali di bawah kursi, ia lebih memilih meletakkannya di atas meja kerja Rakha. Kali aja pria itu akan senang, atau mungkin saja Rakha sudah lama kehilangan kotak itu.


*****


Kalau biasanya Tania akan duduk di tepi kolam di malam hari, tapi tidak untuk malam ini. Ia terlalu takut, karena tak ada orang yang bisa di mintai tolong kalau saja terjadi suatu hal.


Ia lebih memilih diam di dalam kamar, sambil rebahan yang sebenarnya sangat membosankan.


Tiba-tiba terdengar dering telepon dari ruang tamu. Suaranya nyaring sekali membuat Tania segera bergegas. Ini kali pertama ia mengangkat telepon setelah beberapa bulan berada di rumah itu.


"Ha--halo?" Ucap Tania, ia sangat deg-degan.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya seseorang di seberang telepon. Tania sangat mengenali suara itu.


"Apa kau baik-baik saja, Tania?" Rakha mengulangi pertanyaannya.


"I--iya, aku baik-baik saja, Tuan."


"Apa semuanya aman?"


"Sejauh ini aman, Tuan. Tidak ada hal-hal buruk terjadi."


"Lalu sedang apa kau? Kenapa lama sekali mengangkat telepon ku?"

__ADS_1


"Aku tidak ngapa-ngapain, Tuan. Cuma diam di kamar. Perasaan, baru saja teleponnya berdering."


"Di kamar? Apa kau bersama seseorang?"


"Tidak! Aku sendirian."


"Jangan macam-macam denganku, Tania."


"Aku sudah berkata jujur, Tuan. Tak ada siapapun di rumah ini. Kenapa Tuan selalu berfikir negatif? Berfikir negatif hanya akan membuat kesehatan otak terganggu, Tuan."


"Kau menggurui ku?"


Tania mendengus kesal.


"Kenapa menelpon kalau cuma untuk marah-marah?" Tanya Tania. Rakha hanya diam.


Lalu kemudian telepon mati.


"Huh! Benar-benar gaje ntuh orang! Marah-marah mulu kerjaannya. Dari jauh pun sama. Marah, marah, dan marah." Gerutu Tania.


*****


__ADS_1


*Ilustrasi*


__ADS_2