
Pagi sekali Rakha sudah berada di ruang kerjanya. Banyak kerjaan yang harus ia kerjakan, terutama hasil pertemuan ia bersama klien beberapa hari yang lalu.
Tak sengaja tangan Rakha menyentuh kotak merah yang ada di sebelah mouse komputernya. Ia lantas memicingkan alis, menatap sangat lama pada kotak itu.
"Sejak kapan ada benda ini di sini?" Rakha bertanya pada diri sendiri, dan perlahan tangannya mulai mengambil kotak itu. "Seperti tak asing," sambungnya.
Lantas Rakha membuka kotak merah itu. Isinya berhasil membuat matanya terbelalak.
Lembar demi lembar foto dari dalam kotak ia keluarkan. Memandangi, dan mengusap wajah wanita yang terpampang jelas di foto itu.
"Karisma," Rakha mulai terisak. Begitu rapuhnya ia sekarang. Setiap kali ia memandangi foto wanita bernama Karisma itu, bulir bening itu selalu menggenang di matanya.
"Kenapa kau pergi, Karisma? Kenapa kau lebih memilihnya? Apa kurang ku padamu?" Teriak Rakha. Foto yang ada di tangannya kini ia remas hingga tak berbentuk. Di susul oleh berhamburannya isi kotak merah itu setelah ia lempar.
Rakha terisak. Berkali-kali ia memukul meja kerjanya. Untuk kesekian kalinya ia menangisi wanita yang bernama Karisma.
*
"Tuan, ini kopi Tuan," ucap Tania meletakkan kopi hitam yang masih hangat di atas meja kerja Majikannya itu.
"Ya." Jawab Rakha singkat.
Tania memperhatikan Rakha yang sudah kembali fokus pada komputernya. Lalu pandangan Tania beralih pada kotak merah yang berada di lantai, serta foto-foto yang berhamburan.
Tania lantas memunguti foto-foto itu dan kembali meletakkannya ke dalam kotak.
"Tuan, kenapa kotak ini malah di buang?"
__ADS_1
"Di mana kau menemukannya, Tania? Kenapa kau malah menaruhnya di meja kerjaku? Mengganggu saja!"
"Aku menemukannya di bawah kursi, Tuan. Ku kira ... Tuan akan membutuhkannya."
"Jangan sok tau! Bawa saja kotak itu, kalau perlu di buang."
"Ba--baik, Tuan."
Tania lantas bergegas.
"Tania!" Rakha mencegahnya.
"Ya, Tuan?"
"Aku ingin kamar dan ruang kerjaku di tata ulang. Aku ingin suasana baru."
"Kenapa? Kau keberatan? Tak sanggup?"
"Bu-bukan. Bukan begitu, Tuan. Untuk mengerjakan semuanya tentu butuh waktu. Gak mungkin akan selesai dalam sehari."
"Ya. Aku paham. Kau tak usah khawatir."
Tania mengernyitkan alis. "Apa ia akan menyewa Pekerja lain untuk membantuku?" Benak, Tania. "Tapi, jika benar? Baguslah!"
Tania berlalu dari ruang kerja Rakha.
*****
__ADS_1
"Karisma,"
"Aku akan mencoba melupakanmu, dan lebih fokus pada hidupku."
"Aku tau ini sangat sulit, tapi apa salahnya untuk mencoba?"
"Bertahun-tahun kamu pergi, dan aku masih saja mengharapkan kamu kembali dengan membawa cintamu yang tak sepenuhnya untuk ku."
"Jujur dalam hati ini tak ada wanita lain selain kamu, Karisma."
"Kamu yang sudah meluluhkan hatiku. Kamu yang sudah membawa cintaku. Kamu sepenuhnya memiliki cintaku."
"Tak ada cinta lain selain kamu. Tak ada sayang lain selain kamu. Tak ada rindu lain selain merindukanmu."
"Bahkan hingga saat ini,"
"Tapi aku tak ingin semakin terpuruk. Perlahan cinta ini harus ku hilangkan."
"Walau sulit, namun aku ... harus bisa."
*****
Rakha kembali menitikkan air mata. Hanya Karisma yang bisa membuat seorang Rakha seperti ini.
Bertahun-tahun terbuang sia-sia hanya untuk mengharapkan orang yang tak mungkin kembali kepadanya.
"Karisma,"
__ADS_1
"Semoga kamu selalu bahagia bersama dia ... orang yang kamu sayangi dan cintai."