
Pagi sekali Tania sudah bangun. Semua pekerjaan rumah sudah ia selesaikan sebelum ibunya dan bu Rohimah terbangun. Tinggal sarapan yang kini harus ia siapkan.
Untung saja semalam ia sempat ke warung bu Ndang untuk membeli beberapa butir telur, kecap, mie instan, ikan kaleng, dan juga kerupuk.
Untuk sarapan ia bisa memasak bahan yang ada saja. Nanti kalau sudah agak siangan ia akan pergi ke pasar membeli keperluan yang lain.
"Siang?"
Seketika Tania teringat pada Rey. Cowok itu, ia pasti akan kemari nanti jam 11.
"Apa aku harus menolak? Tapi, di lihat-lihat Rey itu orang baik. Tutur katanya juga sopan. Juga ... Rey sangat manis. Ah! Apa yang aku pikirkan?"
Jantung Tania terasa berdebar-debar. Bayangan wajah Rey yang sedang tersenyum seketika melintas di pikiran. Ia hanya bisa mengulum senyum.
"Kalau sekedar ingin menambah teman tak salah bukan? Untuk selanjutnya, aku serahkan saja pada takdir."
"Nak? Pagi-pagi sudah melamun. Ntar kesambet, loh." Ucap bu Ayu menepuk pundak anaknya itu. Tania benar-benar tak menyadari kehadiran ibunya. Sejak kapan ibunya berada di sana?
"Ah. Ibu sudah bangun." Tania tersenyum getir.
"Iya. Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Tidak kok, Bu. Kemarin aku bertemu sama Rey."
"Rey yang mana?"
"Itu loh anak pak Rustam. Dulu mereka orang sini tapi sekarang udah pindah ke Desa seberang."
Bu Ayu terlihat termanggut-manggut.
"Oh, anak pak Rustam. Pak Rustam itu orang yang terkenal kaya di Desa Rawa Indah, bukan? Ibu sering dengar ibu-ibu di sini sering membicarakan beliau."
__ADS_1
"Iya kah?" Seketika Tania menjadi minder. Ia menyadari siapa dirinya. Nanti apa yang orang-orang katakan? Ia pasti menjadi buah bibir di Desa ini jika bersama dengan Rey.
"Lha kok sekarang cemberut?"
"Hari ini Rey mengajak aku jalan, Bu."
Wajah bu Ayu seketika menjadi muram. Tania tau pasti ibunya tak akan mengizinkan, alasannya seperti yang Tania pikirkan tadi.
"Nanti Ibu saja yang bicara pada Rey." Ucap bu Ayu.
Tania mengangguk pelan. Lalu ia melanjutkan untuk menyiapkan sarapan.
*****
Tania melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11, ia semakin gelisah.
Deg-degan, itu yang ia rasakan. Apalagi sekarang ia mendengar suara motor yang berhenti tepat di depan rumah. Ia mengintip siapa yang datang melalui Jendela.
Tania semakin deg-degan.
Rey mengetuk pintu. Tania bingung harus bagaimana. Lalu bu Ayu datang memberi isyarat kalau beliau saja yang membukakan.
*
"Selamat pagi, Bi." Ucap Rey saat bu Ayu membukakan pintu. Tania bisa mendengar percakapan mereka karena ia berada tak jauh di belakang ibunya. Rey langsung bersalaman pada bu Ayu, mencium punggung tangan wanita itu sebagai rasa hormat.
"Pagi, nak Rey. Ayo masuk dulu." Ajak bu Ayu.
Rey kemudian masuk mengikuti bu Ayu. Sebelum ia duduk di kursi, matanya dan Tania saling bertemu. Tania hanya tersenyum kecil kemudian memalingkan wajah. Mereka semua duduk, begitu juga bu Rohimah yang baru saja datang ke ruang tamu.
Tania memberi isyarat pada bu Rohimah untuk tak berbicara. Membiarkan ibunya dan Rey saja yang berbicara.
__ADS_1
"Maaf nak Rey, Ibu dengar nak Rey sama Tania akan jalan-jalan?" Tanya bu Ayu.
"Iya, Bi. Makanya saya ke sini untuk meminta izin." Jawab Rey begitu ramah.
"Maaf sebelumnya, Nak. Bibi tau kamu adalah anak pak Rustam orang yang terkenal itu. Di sini Bibi bukan bermaksud menyinggung perasaan kamu atau apalah, tapi Bibi rasa kamu sudah paham."
Rey menatap Tania, ia merasa tak enak hati. Tapi Tania tau, Rey tipe orang yang mempunyai sikap dewasa dan pasti memahami apa yang di katakan ibunya tadi.
"Dalam keluarga kami tak ada yang mempermasalahkan status orang itu orang berada atau tidak, Bi."
"Syukurlah. Tapi kamu tau sendiri, melihat kamu bersama Tania tentu akan menjadi buah bibir orang-orang di Desa. Apalagi melihat kalian sampai jalan bersama. Ibu bukan melarang, hanya saja untuk menghindari."
"Sebenarnya, sejak pertemuan kemarin aku tak henti memikirkan Tania, Bi. Aku rasa kedatanganku pagi ini tak hanya untuk mengajak Tania jalan, tapi juga ingin menyampaikan perasaanku. Perasaan cinta."
Tania terbelalak mendengar ucapan Rey. Secepat itukah pria itu mempunyai rasa cinta padanya? Padahal mereka baru bertemu satu kali, yaitu saat kemarin sore setelah sekian lama tak pernah bertemu.
Tania tak bisa berkata-kata. Mulutnya seperti terkunci. Ini untuk kali pertama ada seorang pria yang mengutarakan rasa cinta padanya bahkan di depan ibunya.
"Aku ingin mempersunting mu, Tania." Sambung Rey.
Tania masih hening. Tentu semua ini harus di pikirkan secara matang.
'Apakah harus secepat ini Rey mengutarakan isi hatinya?
'Apakah setelah mengetahui diriku yang sudah tak suci ia masih mau menerimaku?' Kepala Tania terasa pusing memikirkannya.
'Hal ini yang selalu aku takutkan. Apakah suatu saat setelah aku menemukan jodohku, jodohku akan menerima diriku yang kotor ini?' Tania masih membenak.
"Na-nanti kita bicarakan lagi, Rey. Aku masih harus memikirkan semua ini." Tania berlalu meninggalkan semua orang, ia masuk ke dalam kamar.
Sayup-sayup ia mendengar ibunya berbicara pada Rey. Tak lama kemudian suara motor Rey terdengar dan suaranya semakin menjauh.
__ADS_1