
Tania menangis terisak-isak dalam diam.
Sekarang ia merasa takut untuk menjalin hubungan bersama seorang lelaki, apalagi untuk menjalin hubungan yang lebih serius.
Tania yang ibunya dan orang-orang lain kenal adalah seorang gadis yang baik. Tapi ternyata gadis yang baik ini sudah tak suci lagi.
Bagaimana perasaan ibunya jika tau semua ini? Lalu bagaimana dengan perasaan suaminya nanti? Tania semakin benci dan kesal pada dirinya sendiri.
Apa sekarang ia harus menyalahkan Rakha? Atau aku harus menyalahkan takdir kenapa membawanya ke dalam dunia seperti ini?
Tania bahkan merasa tak pantas bersanding dengan Rey yang merupakan orang baik-baik. Ia hanya akan merasa berdosa jika mengiyakan niat serius pria itu.
Tania mengusap air mata saat bu Ayu masuk ke kamarnya.
"Nak?" Panggil bu Ayu.
Tania duduk di bibir kasur, begitu juga bu Ayu.
"Ibu serahkan semua keputusannya padamu menerima atau tidaknya nak Rey."
Tania hening. Kemudian menarik nafas.
"Sampai sekarang Tania belum kepikiran buat nikah, Bu. Tania masih ingin membahagiakan Ibu. Lagi pula, masih banyak impian-impian yang belum Nia capai."
"Ibu selalu mendukung apapun keputusanmu."
"Nanti kalo Rey datang lagi, tolong bilangin ya, Bu. Lagi pula kasian Rey, ia masih harus menyelesaikan kuliahnya dulu."
__ADS_1
"Iya." Ucap bu Ayu. Entah kenapa bu Ayu menatap anaknya itu sangat lama.
'Andai saja ibu tau kesedihan yang ada di dalam sini, Bu. Aku ingin bercerita betapa kotornya diriku. Tapi aku tak ingin membuat Ibu kecewa. Entah sampai kapan, semua ini harus aku pendam.'
'Aku pendam sendirian.'
*****
Malam,
Bu Rohimah memanggil-manggil nama Tania. Gadis itu masih rebahan di kasur. Menangis lama membuat badannya terasa lemas.
"Tania!" Panggil bu Rohimah menggoyang-goyangkan badan Tania.
"Em, apa Bu lek. Nia masih ngantuk." Rengek Tania.
"Nyariin aku? Siapa Bu lek? Aku gak ada kenalan di HP."
"Kata dia nama dia Rakha. Bukankah Rakha itu bos di tempat kamu kerja?" Ucap bu Rohimah.
Tania terperanjat dan langsung bangkit dari rebahan. Bu Rohimah lantas memberikan HPnya pada Tania kemudian keluar dari kamar itu.
"Tuan Rakha?" Tania melotot.
*
"Ha--halo?" Ucap Tania meletakkan HP di telinga.
__ADS_1
"Kapan pulang?" Tanya orang itu dari seberang telepon. Dari suara dan nada bicaranya itu benar--Rakha.
"Tuan? Kenapa bisa telpon ke nomor Bu lek? Dapat dari mana?"
"Di kamar kamu, di atas lemari." Jawab Rakha santai.
"Kapan pulang?" Rakha mengulangi pertanyaannya.
"Astaga! Baru saja satu hari aku di sini. Kan masih ada dua hari lagi." Tania protes.
"Lama! Kau tau, tak ada yang mengurusku di sini."
"Kan sudah kesepakatan kita, Tuan."
"Kau pasti bersenang-senang di sana, Tania."
"Pasti! Buat apalagi!"
Rakha hening. Tania mengira telepon sudah di matikan, ternyata belum.
"Kau harus pulang besok. Aku berubah pikiran, kau hanya boleh pulang selama satu hari."
"Apa-apaan, Tuan? Mana bisa begitu! Tuan sangat tidak konsisten!" Tania sangat kesal pada Rakha. Ia semakin ngomel-ngomel, tapi ternyata teleponnya sudah di matikan.
"Menyebalkan sekali! Suka seenaknya!" Umpat Tania pada Rakha yang sudah tak mungkin mendengarnya.
Tapi memang. Rakha enar-benar menyebalkan! Sangat menyebalkan! Tania seperti akan keluar tanduk dan berubah menjadi monster. Ini semua ulah Rakha.
__ADS_1
'Tapi bodoamat! Aku akan tetap menikmati masa liburku tiga hari. Kalaupun di pecat, ya baguslah! Berarti aku bisa terbebas dari Tuan Arogan dan suka memaksa itu!'