
"Tania!" Panggil Rakha. Suaranya begitu menggema.
"Kenapa ia malah menggangguku? Bukankah ia tadi minta kamarnya untuk di tata ulang?" Gerutu Tania.
"Ya, Tuan?" Ucapnya kemudian datang menghampiri Rakha dengan membawa kemoceng dan juga sapu.
Namun ada yang aneh. Kenapa penampilan Rakha seperti ini? Tania hanya bisa menahan tawa, dan menahan anu ...
Pria itu hanya memakai boxer pendek sepaha, serta baju kaos putih tipis yang tak berlengan. Dari balik kaos itu masih terlihat jelas bentuk dadanya, serta terlihat pula bentuk lengannya yang sedikit berotot. Wajah Tania tiba-tiba terasa panas, serta jantung yang deg-degan.
"Untuk kali ini, aku akan membantumu, Tania." Ucap Rakha yang membuat Tania seperti tak percaya.
"Iyakah? Kenapa? Apa Tuan lagi gabut?" Tanya Tania.
"Jangan banyak bicara! Seharusnya kau bersyukur ku bantu."
"I--iya, Tuan."
Tania mengekor di belakang Rakha. Melihatnya berpenampilan seperti ini, membuat gadis itu agak sedikit kurang fokus.
*****
Rakha memulai dengan menyibak gorden kamar. Dinding kaca itu mulai terlihat.
"Aku ingin gorden ini di ganti dengan warna silver." Ucapnya.
"Aku sudah memesannya, kalau sudah datang nanti di ganti." Sambungnya lagi.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
"Kau bersihkan saja dulu."
"Em,"
Tania mulai membersihkan perabotan-perabotan dengan kemoceng, sebenarnya tak begitu banyak debu. Ya ... dari pada gak ada kerjaan.
Tania merhatikan Rakha melepas beberapa foto dan lukisan yang ada di dinding. Entah sejak kapan ia membawa plastik hitam besar kemari. Plastik itu pun mulai berisi foto-foto, lukisan, dan beberapa buku yang mungkin Rakha sudah tak menginginkannya.
"Uh, sayang banget! Masa bingkainya juga di buang? Kalo mau beli kan mahal!" Lagi-lagi Tania menggerutu.
Lalu, Rakha mengambil foto yang ada di meja sebelah kasurnya. Foto wanita itu. Foto yang waktu itu, yang membuat Rakha menangis ripuh.
Sangat lama Rakha memandangi dan mengelus foto itu. Lalu kemudian ia masukkan juga ke dalam plastik hitam.
"Iya. Aku sudah tidak membutuhkannya."
"Sayang banget! Kenapa tidak di kasihkan ke orang lain saja."
"Mau mengasih orang jangan dengan barang-barang yang sudah lama seperti ini, Tania."
"Kenapa di buang? Apa Tuan tak sayang? Pasti setiap benda ini mempunyai kenangan, kan?"
"Justru itu. Aku ingin membuang semua ini bersama kenangannya. Kau jangan coba menghalangiku, karena kau tak tau apapun!"
"Ba--baik, Tuan."
__ADS_1
Tania melanjutkan membersihkan debu-debu. Tetap, matanya sesekali memperhatikan gerak-gerik Rakha.
Kali ini, pria itu memutar lemarinya. Dan Tania baru tau, kalau lemari itu bisa di putar. Kali ini Tania di buat terbelalak saat lemari itu ia buka.
Baju-baju wanita tersusun rapi di dalam lemari. Sangat banyak. Jiwa kewanitaan Tania tentu meronta-ronta melihatnya. Beberapa gaun menggantung, berbagai macam warna dan bentuk.
"Punya siapa? Apa sebelumnya Tuan Rakha mempunyai istri? Ta--tapi, bukan itu ..."
Tak menunggu-nunggu lagi, baju-baju itu ikut masuk ke dalam plastik hitam yang kini jumlahnya bertambah.
"Astaga! Baju-baju sebagus ini mau di buang juga? Kenapa? Bukankah masih layak pakai?"
"Tu--tuan? Kenapa baju-baju ini juga di buang?" Tania mencoba mencegah Rakha.
"Jangan ikut campur, Tania! Kau cukup diam, dan lakukan saja pekerjaanmu!"
Tania tak bisa berkutik, selain hanya diam memperhatikan apa yang di lakukan majikannya itu.
"Apa kenangannya begitu buruk? Kalau indah, kenapa barang-barang ini harus di singkirkan? Tapi, apapun itu ... itu adalah keputusan Tuan Rakha, aku tak bisa menghalanginya. Karena benar, aku tak tau apapun."
*
"A--apa ini baju Istri Tuan?" Tanya Tania perlahan.
Rakha menoleh. Ia menatap Tania sangat lama.
"Bukan," jawaban yang membuat Tania bingung.
__ADS_1
"Kalau bukan, kenapa ada baju-baju ini di sini? Masa punya Tuan Rakha? Kan tidak mungkin. Ah, ada-ada saja!" Batin Tania, tapi dia lebih memilih untuk diam.