
"Tuan," Tania memberanikan diri berbicara pada Rakha karena ingin menyampaikan suatu hal.
"Ada apa?" Tanya Rakha tanpa melihatnya, tangannya terlihat sangat sibuk memencet tombol-tombol di keyboard komputernya.
"Besok aku sudah satu bulan bekerja,"
"Terus?"
"Aku minta izin untuk kembali ke Desa."
Rakha hening, tak langsung mengiyakan permintaan Tania itu.
Karena sesuai kesepakatan mereka waktu itu, setiap satu bulan bekerja Tania meminta izin untuk kembali ke Desa untuk menemui ibunya.
"Iya, pergilah. Tapi kau hanya ku izinkan selama tiga hari. Setelah tiga hari kau sudah harus kembali ke rumah ini."
"Baik, Tuan. Terimakasih."
"Ya."
Tania sangat sumringah karena sudah mendapat izin.
"Ingat, Tania. Kontrak kerjamu masih lima bulan lagi. Jadi jangan lupa untuk kembali lagi ke sini."
"Iya, Tuan."
***
Tania memasukan beberapa helai baju ke dalam tas untuk ia selama beberapa hari di Desa.
__ADS_1
"Ah, tak sabar menunggu esok. Aku sudah merindukan ibu. Bahkan sangat rindu."
*****
"Tuan, aku pulang dulu." Pamit Tania pada tuannya itu yang sudah berdiri di tengah pintu. Wajah pria itu sama seperti biasa, dingin dan tanpa ekspresi.
"Kau tak ingin membawa oleh-oleh untuk Ibumu, Tania?"
"Nanti aku bisa belikan di Terminal, Tuan."
"Bagaimana kau pulang ke Desa tanpa membawa uang?"
"Aku punya uang Tuan. Uang yang dulu Tuan berikan."
"Masih ada?"
Tania mengangguk. Rakha terlihat mengernyitkan dahi. Ia keheranan.
"Tidak, aku rasa semua kebutuhan ku sudah terpenuhi di rumah ini, Tuan."
"Ini ambilah, ini gaji mu bulan ini." Rakha menyodorkan amplop kecil seukuran uang berwarna cokelat, amplop itu sangat tebal.
"Ta--tapi, bukankah di awal-awal Tuan sudah memberiku gaji?" Kali ini Tania yang keheranan dan hanya bisa menatap majikannya itu.
"Anggap saja ini bonus karena kau sudah bekerja dengan baik."Jawab Rakha.
Akh! Pria ini. Ia benar-benar tak perhitungan kalau masalah uang.
Dengan tangan gemetar Tania mengambil amplop yang di berikan Rakha itu.
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan." Ucap Tania, tak hanya tangannya ... bibirnya juga bergetar.
"Ya."
*****
Hari yang cerah, pukul 10 pagi tapi panasnya sudah mulai menusuk kulit.
Perjalanan yang jauh tak begitu terasa, karena Tania begitu menikmati perjalanannya, yang sangat jarang ia lakukan. Karena ia terbiasa menghabiskan waktu di rumah saja, dan membantu ibunya berjualan.
Tak ada waktu untuk sekedar mencuci mata, atau kumpul-kumpul seperti kebanyakan gadis-gadis biasanya. Ia terlalu sibuk untuk itu semua.
Jam demi jam berlalu,
Gerbang Desa sudah terlihat, sebentar lagi Tania akan sampai. Tinggal menaiki Ojek menuju rumahnya.
*****
"Bang, bisa antar ke Jalan Pinang?" Tanya Tania pada seorang pemuda yang merupakan Kang ojek. Sekarang ia berada di gerbang Desa yang ramai oleh tukang ojek dan orang-orang yang berlalu lalang.
Pria itu lantas bergegas turun dari posisinya yang tadi duduk di atas motor. Lalu ia mengelap jok motornya. Untuk beberapa detik ia memperhatikan wajah Tania. Gadis itu hanya diam keheranan.
"Bisa, bisa. Yok, naik." Ucap pria itu ramah dengan senyuman. Gigi gingsulnya jelas terlihat. Wajah pemuda ini tak asing di mata Tania.
Siapa?
Seorang pemuda berperawakan tinggi dan berisi. Walau hanya ngojek ia terlihat sangat rapi dengan baju kaos putih panjang. Ia juga terlihat lebih mencolok dari pada Kang Ojek yang lain. Aihhh...
Tania naik ke motor, dan menempatkan dirinya senyaman mungkin di belakang pria itu. Sangat ramai orang-orang menyoraki mereka, dan berdehem-dehem. Pria itu hanya tersenyum begitu juga Tania yang tersipu malu.
__ADS_1
Motor pun melaju, menuju Jalan Pinang. Alamat rumah Tania.