
Tania mengemas baju ibunya, karena mereka akan kembali ke rumah mereka lagi. Tania dan Ibunya tak ingin merepotkan bu Rohimah lebih banyak.
"Nia!" Bu Rohimah menghampiri Tania. Raut wajahnya seperti ketakutan.
"A--ada apa, Buk lek?" Tania heran.
"I--itu ..." Jawab bu Rohimah terbata-bata dengan menunjuk ke arah pintu depan.
Tania mengernyitkan dahi, tapi tetap melanjutkan mengemas baju ibunya.
"I--itu, Tania." Bu Rohimah semakin panik.
"Iya, Bu lek?"
"A--ada, co--cowok!"
"Cowok?" Tania semakin heran,
"Iya, itu di depan. Ia mencari mu."
Jantung Tania berdetak kencang. 'Cowok? Mencari ku? Jangan, jangan...'
Tania bergegas menuju pintu depan, dan membukanya. Benar saja, di depan rumah bu Rohimah sudah terparkir mobil mewah berwarna hitam. Tania pernah melihat mobil ini, ini adalah mobil...
"Tuan Rakha?" Tania terbelalak saat pria itu turun dari mobil. Orang-orang yang lewat bahkan ikut keheranan menatap pria tinggi, tampan, berjas lengkap dan memakai kacamata hitam itu.
"Dia siapa, Tania? Tanya bu Rohimah.
"Dia Majikan ku di Kota, Bu lek."
"Ouh, tak kira penjahat." Bu Rohimah cekikikan.
"Akh! Bu lek," Tania memijat keningnya.
Bu Rohimah kembali masuk ke dalam rumah, karena merasa semua baik-baik saja.
*****
Rakha sekarang berada di hadapan Tania. Tania hanya mematung dengan mata yang melotot. Dalam hati bertanya-tanya. Mau apa pria itu datang kemari?
"Akhirnya aku menemukan mu." Ucap Rakha,
"Ke--kenapa Tuan ke sini?"
__ADS_1
"Entah." Jawab Rakha santai, dan jawabannya sama sekali tak memuaskan.
"Tuan pasti takut kan, aku gak bayar hutang? Makanya Tuan mengikuti ku biar tau rumahku?"
Mendengar ucapan Tania, Rakha hanya mengernyitkan dahi. Lalu bu Rohimah datang menghampiri, mengusir ketegangan di antara mereka.
"Ayo Nia, tamunya di ajak masuk dulu." Ucap bu Rohimah. Dan Rakha ... pria itu dengan santai berjalan masuk ke dalam rumah. Tania semakin melotot tak percaya.
Tania mengekor dari belakang dengan mulut tak berhenti menggerutu.
"Tuan! Tuan jangan takut, ya! Kan aku sudah bilang bakal bayar!" Ucapnya pada Rakha, tapi pria itu sama seki tak menghiraukan, malah mempercepat langkahnya.
***
Di sini mereka sekarang.
Di ruang tamu rumah bu Rohimah. Hati Tania terasa sangat dongkol dengan kedatangan Rakha kemari, ia menatap tajam pada pria itu. Tatapan tak suka. Ini daerah kekuasaannya. Ia memastikan Rakha tak akan macam-macam di sini.
Sedangkan bu Rohimah, ia sangat girang dengan kedatangan Rakha, ia membuatkan teh hangat dan membawakan roti kering untuk menjamu 'si ganteng' katanya.
'Astaga! Bu lek tak tau dengan pria ini, pria kejam dan suka seenaknya.' Batin Tania berteriak.
"Mas ganteng, silahkan di minum dan di makan kue nya." Ucap bu Rohimah tersenyum manis mempersilahkan. Dan itu membuat Tania semakin dongkol.
"Yaudah, kalian ngobrol aja. Anggap aja rumah sendiri ya, Ganteng." Lanjut bu Rohimah kemudian berlalu.
Kini Rakha dan Tania hanya berdua.
Baru saja Tania akan merasakan ketenangan terbebas dari pria itu. Tapi sekarang, pria itu malah kemari dan bersikap sok akrab dengan orang-orang terdekatnya.
"Kenapa kau seperti tak suka dengan kedatangan ku?" Tanya Rakha santai menikmati teh hangat di depannya.
"Aku benci melihatmu, Tuan."
"Kenapa?"
"Tuan malah bertanya kenapa? Setelah Tuan merenggut hal berharga dariku dan sekarang Tuan malah bertanya kenapa?"
"Aku tidak melakukan kesalahan karena aku hanya menuntut hak ku atas tugasmu."
Tania terdiam.
"Lalu kenapa Tuan kemari?"
__ADS_1
"Kau sudah menanyakan itu tadi."
"Tapi aku belum mendapat jawaban."
"Menemui mu."
Tania kembali diam. Menatap curiga pada Rakha. Ia bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang di rencanakan pria ini?
"Ke--kenapa?"
"Mengajak mu pulang."
"Apa?" Tania tersentak kaget. Berusaha mencerna maksud dari perkataan Rakha itu.
"Kau tidak bisa pergi sebelum aku menyuruh mu pergi, Tania."
"Bukankah Tuan sudah mengiyakan aku untuk berhenti?" Tania kembali naik darah, dadanya terasa panas.
"Kapan?"
"Tadi malam."
"Kapan aku berkata 'iya'?"
Lagi-lagi Tania terdiam tak berkutik dengan perkataan Rakha.
"Sekarang sudah habis masa libur mu, ayo pulang."
'Santai sekali dia berkata. Semalam ia seolah mengizinkan, sekarang ia malah menyuruh ku pulang. Ada-ada saja!'
"Tania!" Pekik bu Rohimah membuat Tania terperanjat, begitu juga Rakha.
Tania segera berlari menemui bu Rohimah yang arah suaranya berasal dari kamar ibunya.
"Ada apa, Buk lek?" Tania panik.
"Ibumu pingsan," jawab bu Rohimah membuat Tania semakin panik.
"Ibu!" Pekik Tania
Rakha datang, mungkin karena ia mendengar kegaduhan dari Tania dan juga bu Rohimah. Rakha lantas menggendong bu Ayu.
"Sudah jangan panik. Ayo kita ke Rumah Sakit." Ucap Rakha bergegas membawa bu Ayu ke dalam mobil. Tania dan bu Rohimah juga ikut masuk ke sana.
__ADS_1
Tania menggenggam erat tangan ibunya, terasa sangat dingin. Bibirnya begitu pucat. Tania menangis dalam kepanikan. Tak ada hal lain yang ia pikirkan saat ini. Hanya Ibunya, Ibunya, dan Ibunya.