Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 38 - Dunia Itu Sempit


__ADS_3

Setelah selesai membeli semua keperluan Tania, Rakha mengajak gadis itu pulang. Tania segera mengekor di belakang tuannya itu dengan membawa sendiri barang-barang belanjaannya. Banyak!


Langkah Tania melambat kala melihat seorang pria yang tak asing berada tak jauh darinya. Pria itu terlihat hendak masuk ke dalam mobil.


"Rey?" Ucap Tania seraya menepuk pundak pria itu.


Ternyata Tania benar. Ia tak salah orang, pria itu adalah Rey. Rey pernah bilang, kalau ia sedang kuliah di Kota itu.


"Tania?" Ucap Rey, menatap Tania heran.


"Astaga! Dunia benar-benar sempit. Kita bisa bertemu di sini."


"Iya, Nia. Kamu ngapain di sini?"


"Aku ... aku berbelanja." Jawab Tania sedikit ragu.


Rey menatap tangan gadis itu yang membawa banyak sekali barang belanjaan. Raut wajahnya seketika berubah. Seperti heran, dan bingung.


Tania sendiri menjadi semakin gugup melihat wajah Rey yang seketika berubah. Pria itu bertanya-tanya di dalam hati, bagaimana Tania bisa membeli semua barang-barang yang ia pegang? Secara ia hanyalah seorang Pekerja biasa. Lagi pula, Rey tau barang-barang di Mall ini adalah barang-barang branded.


Suara klakson berkali-kali dari mobil Rakha mengagetkan Tania. Ia segera bergegas menuju mobil Rakha, tanpa pamitan pada Rey.


Dan Rey, ia hanya diam. Sebelum itu, ia terlihat menatap Tania sinis. Pikiran jelek seolah datang tentang gadis itu.


"Semoga saja tidak seperti yang ku pikirkan." Ucap Rey. Ia takut saja kalau Tania terjebak dalam pergaulan hitam. Menjual diri demi mendapatkan uang. Karena itu yang sering terjadi pada kebanyakan gadis-gadis yang mengadu nasib di Kota.


*


"Kau sedang apa? sudah di tunggu dari tadi juga!" Bentak Rakha.

__ADS_1


"Aku tidak ngapa-ngapain, Tuan." Jawab Tania, Matanya sesekali masih melihat ke arah Rey.


"Kau pikir aku buta, Tania? Itu pacarmu yang di Desa itu, bukan?"


Tania menggelengkan kepala sangat cepat. Karena memang benar, ia dan Rey tidaklah pacaran.


"Cih!"


*


"Apa kau senang sudah bertemu dengan pacarmu itu, Tania?" Tanya Rakha tiba-tiba, membuat Tania kesal mendengarnya.


"Kami tidak pacaran, Tuan."


"Apa kalian sudah janjian untuk bertemu?"


"Bisa jadi kau menghubunginya diam-diam, menggunakan telepon rumah."


Tania menarik nafas dalam, lalu menghembuskan nya perlahan. Berusaha tetap sabar menghadapi orang seperti Rakha itu, yang bicara kadang suka seenaknya.


"Apa kau senang, Tania?" Rakha mengulangi pertanyaannya.


Tania hanya bisa mengelus dada, mencoba bersabar.


"Sudah berapa kali aku katakan, Tuan? Aku dan Rey tidaklah pacaran!" Jawab Tania sudah mulai emosi jiwa.


Rakha tersenyum. Senyum mengejek.


"Kau kira aku percaya?"

__ADS_1


"Rey itu anak baik-baik. Ia tidak mengajakku pacaran, tapi ingin segera menikahi ku." Ucap Tania sengaja, untuk menyinggung lelaki b@jingan itu.


"Andai saja aku sedang tidak bekerja pada Tuan, tentu saja aku akan menerima lamaran, Rey." Sambung Tania.


Rakha hanya tersenyum kecil. Senyum yang bermakna entahlah.


"Ingat Tania, kau tak akan bisa kemana-kemana, apalagi menikah saat kontrak kerjamu masih ada. Kau kira aku mau berbagi atas dirimu?"


Selalu saja itu yang menjadi senjata utama Rakha. Kontrak kerja dan kontrak kerja. Kontrak kerja itu benar-benar tak bisa membuat Tania berkutik. Dan ia, ia selalu saja kalah saat berdebat dengan Rakha.


Rakha benar. Untuk saat ini, ia berkuasa sepenuhnya atas diri Tania. Tania sangat menyedihkan, karena tak bisa berbuat apa-apa.


*****


Sesampai di rumah Tania segera masuk ke kamar membawa semua barang belanjaan. Seperti biasa, ia melipat semua pakaian yang dibelikan Rakha. Ia menata rapi pakaian itu di dalam lemari, begitu juga sendal dan sepatu yang mulai ia susun rapi di rak khusus.


Tania merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit yang berwarna putih.


Kembali ia teringat raut wajah Rey tadi, saat pria itu melihatnya yang membawa banyak barang belanjaan.


"Tapi tak salah jika Rey mengira aku menjual diri di Kota ini. Karena pada dasarnya itu memang benar adanya." Tania merasa sedih.


"Dari mana mendapatkan uang untuk berbelanja sebanyak itu kalau bukan di bayarin? Di bayarin karena sudah mau di ajak tidur dan sebagainya."


Tania mengusap matanya.


"Apa sekarang aku menangis?" Tania tersenyum miris meratapi dirinya.


Rasa lembab itu dapat ia rasakan disudut matanya. Ia membiarkan, tanpa menyekanya. Menangis membuat jiwanya terasa sedikit plong.

__ADS_1


__ADS_2