
"Tuan!" Panggil Tania berualang-ulang, seraya mengetuk pintu.
Tak lama kemudian Rakha keluar.
"Tuan, boleh aku pinjam jaket yang tadi?"
"Untuk apa?"
"I-itu ... ada benda punya ku masih tersimpan di kantong jaketnya."
"Terus?"
"Aku pinjam sebentar saja."
Rakha kembali masuk ke kamar. Ia keluar lagi dengan membawa jaket yang tadi ia bawa.
Tania segera menerima jaket itu dan mulai meraba isi kantongnya. Beberapa kali ia mengulangi, tapi yang ia cari tetap tak di temukan.
"Emang apa yang di cari?" Tanya Rakha.
"Itu, Kartu nama."
"Kartu nama?"
"Iya. Apa Tuan melihatnya?"
"Tidak,"
"Atau mungkin terjatuh di kamar Tuan?"
Rakha merespon hanya dengan mengangkat kedua bahunya.
Tania celingak-celinguk untuk memastikan. Sama sekali tak ada.
"Yasudah, aku permisi, Tuan. Nanti kalau Tuan ada menemukan, tolong kasih kan ke aku, ya."
"Ya,"
Tania berlalu meninggalkan Rakha. Matanya menelusuri setiap sudut rumah, siapa tau ada. Ia hanya bisa bertanya pada diri sendiri dan menerka. "Mungkin terjatuh waktu di jalan? Atau ... terjatuh di Bioskop.
__ADS_1
Tania mendengus. "Rey pasti menunggu kabar dariku."
*****
Sementara itu,
Rakha tampak duduk di sofa kamarnya. Jelas sekali di tangannya ia memegang kartu nama yang malam itu Rey kasihkan ke Tania.
"Mau di cari sampai kiamat pun tak akan kau temukan, Tania." Ucap Rakha sembari melemparkan kartu nama itu ke tong sampah.
*****
"Ada?" Tanya Rakha tiba-tiba, mengagetkan Tania yang masih sibuk mencari. Ia terlihat membongkar baju-bajunya, kali aja ia lupa menaruhnya di antara lipatan-lipatan baju. Kali ini Rakha begitu menikmati aktingnya yang seolah-olah tak tau.
"Belum, Tuan."
"Kartu nama siapa? Kok seperti penting sekali?"
"A--anu. Itu ..." Tania menggigit bibir bawahnya. Ia tak mungkin menyebutkan, karena ia tau Rakha sangat tak suka ia berhubungan dengan Rey.
"Kalau tidak penting amat, yasudah jangan di cari lagi."
Rakha menyunggingkan senyum.
"Apa itu kartu nama pacar kamu itu, Tania?"
Tania terdiam. Ia menyembunyikan perasaan dengan kembali melipat baju.
"Sudahku bilang, kau boleh berhubungan dengan lelaki mana saja saat kontrak kerjamu sudah habis." Ucap Rakha dengan nada marah.
"Saat kau masih terikat kontrak kerja denganku kau di larang keras berhubungan dengan laki-laki, apalagi diam-diam menjalin hubungan di belakang sana. Aku tidak suka itu! Berkali-kali ku katakan aku tak ingin berbagi." Sambung Rakha.
"Aku tidak pacaran, Tuan. Apa salahnya jika aku ingin berteman?"
"Iya itu katamu."
Rakha berlalu meninggalkan Tania. Ia kembali ke kamarnya. Tapi kali ini, ia berdiam diri di balkon kamar.
Yang paling sulit di lupakan adalah kenangan. Semakin berusaha melupakan, semakin kuat pula ingatan.
__ADS_1
Rasa trauma tak bisa hilang begitu saja dari diri Rakha. Peristiwa kelam itu kembali melintas.
*****
"Bro! ini pacar gua, namanya Karisma." Ucap Rakha pada sahabatnya--Dani.
Untuk beberapa saat Dani seperti terpaku menatap Karisma. Gadis ini benar-benar bisa menghipnotis dengan kecantikan wajahnya.
Karisma dan Dani kemudian berjabat tangan.
Tak terduga. Ini adalah pertemuan yang akan menghancurkan segalanya. Niat Rakha mengenalkan Karisma pada sahabatnya berujung pengkhianatan dari keduanya.
Dani dan Karisma memang terlihat akrab. Rakha begitu percaya pada keduanya sehingga tak begitu memperdulikan kedekatan mereka yang ternyata sudah melampaui batas.
'Hanya teman dan tak mungkin lebih.'
Kalimat yang selalu Karisma ungkapkan. Saat Rakha memergoki mereka pernah jalan dan makan bersama.
"Aku jalan dan makan sama Dani saat kamu ke luar kota kemarin, sayang. Aku suntuk gak ada kegiatan." Ucap Karisma menjelaskan.
Rakha masih tak bergeming.
"Lagian, masa kamu cemburu sama sahabat kamu. Sahabat kamu kan sahabat aku juga. Ku pikir, tak apa karena Dani kan orang yang kamu percayai." Lanjut Karisma.
"Iya, aku percaya."
"Lagian, aku dan Dani cuma teman, gak lebih."
"Iya, sayang. Maafin aku sudah marah sama kamu."
Rakha merangkul Karisma, dan menundukkan gadis itu ke pangkuannya.
"Maaf," ucap Rakha, setelah bibirnya mendarat di bibir pujaan hatinya itu.
*****
Rakha tersenyum miris.
"Kau selalu berlindung di balik kata 'lagian' untuk memberikan alasan."
__ADS_1