
"Ah, ada Kang sayur, Nia." Ucap bu Rohimah melihat abang-abang jualan sayur tepat di depan warung bu Endang.
"Yaudah, Bu lek beli sayur, ya. Buat lauk ntar siang. Nia beli beras dulu."
"Wokeh!" Bu Rohimah begitu antusias.
Tania lantas masuk ke warung bu Endang, sementara bu Rohimah mulai memilah-milah sayuran.
*
"Eh, ada Tania." Ucap bu Endang pemilik warung begitu ramah.
"Ah, iya, Bi."
"Mau beli apa?"
"Biasa, Bi. Beras, mie."
"Tunggu, Bibi siapkan dulu."
"Iya, Bi."
Sambil menunggu bu Endang menyiapkan pesanannya, sayup-sayup Tania mendengarkan Ibu-ibu yang asik memilah sayur sedang bergosip. Tania tak begitu mendengar jelas, hanya saja ia mendengar nama teman sekolahnya dulu di sebut-sebut oleh mereka semua.
Tangan asik bergerak, mulut pun demikian. Begitulah pemandangan ibu-ibu di Kang sayur pagi ini.
Setelah semua selesai, Tania dan bu Rohimah bergegas pulang.
*
"Bu lek, tadi ibu-ibu ngomongin apaan. Kok aku denger nama Dahlia?"
"Oh itu. Dahlia sekarang udah jadi orang berduit. Udah bisa buat rumah. Pake baju bagus. Gak susah lagi dah hidupnya."
__ADS_1
"Ya bagus, dong."
"Tapi katanya Dahlia itu jual diri di Kota." Sambung bu Rohimah.
"Oh," lirih Tania.
"Iya. Ibu-ibu di sana tadi pada mencaci, menyumpahi gak akan berkah hidupnya. Bahkan ada yang jijik mendengar nama Dahlia."
Tania terdiam. Ada rasa bergejolak di dalam dada. Jantungnya seperti bergemuruh. Ia terpikirkan pada dirinya, yang fakta sama seperti temannya yang bernama Dahlia itu. Berkali-kali Tania menelan ludah.
"Kenapa ngelamun?" Bu Rohimah menepuk bahu Tania membuat gadis itu tersadar.
"Enggak, Bu lek."
"Semoga kamu di jauhkan dari perbuatan kayak gitu ya, Nak." Ucap bu Rohimah.
Tania tersenyum mendengar ucapan bu Rohimah.
"Ayo, Bu Lek buruan kita jalannya."
*****
"Bagaimana kalau orang-orang tau aku yang tak ada bedanya dengan Dahlia?"
"Pasti ibu sangat malu mempunyai anak sepertiku."
"Apa yang harus aku lakukan Tuhan?"
"Apa jika aku meminta, Tuan Rakha mau melepaskan ku? Tapi itu sangat mustahil."
"Aku tak ingin semakin lama berada di dalam lingkaran dosa ini. Tapi, bagaimana?"
Tania menangis. Sengaja ia memeluk bantal sangat erat, membenamkan wajahnya di sana agar suara tangisnya tak terdengar hingga keluar.
__ADS_1
Malam ini Tania lalui dengan kegundahan hati. Pikirannya berkecamuk. Ingin marah tapi pada siapa? Semua sudah terjadi dan ia harus menjalani hidup ini, walaupun dengan rasa tak suka.
*****
Pagi selanjutnya,
Sudah dua hari Tania berada di Kampung halamannya, tapi sosok Rey belom juga ia temui.
Ketidakhadiran cowok itu tentu membuat hati Tania bertanya-tanya. "Apakah ia lupa? Atau pura-pura lupa?" Tania mendengus. Ia menarik napas, kemudian melanjutkan aktivitasnya menyapu halaman. Pikiran tentang Rey ia buang jauh-jauh, karena tak ingin menaruh harapan lebih.
"Nia!" Seseorang memanggil, membuat Tania refleks menoleh.
Sosok cowok tinggi keren itu sudah berada di belakang Tania dengan senyumnya yang khas.
"Rey?" Tania di buat gelagapan karenanya.
"Aku dari tadi merhatiin kamu loh."
"Ish. Sejak kapan kamu di sini?" Tania mulai tersipu malu.
"Kamu sih ngelamun mulu sampai gak sadar aku di sini."
Tania tersenyum getir.
"Mikirin apa?" Goda Rey.
"Enggak, kok."
"Pasti mikirin aku, kan?"
"Dih, kepedean!"
Rey tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Tania meletakkan sapu lidi yang ia pegang. Kemudian mengajak Tamunya itu duduk di teras rumah.