
Pak Hermanto tampak sedang berbicara pada seorang pria. Entahlah siapa pria itu dan seperti apa rupanya. Sedangkan, Tania belum di perbolehkan masuk. Ia di suruh menunggu saja di luar, seperti tak ingin gadis itu mendengarkan obrolan mereka.
Beberapa menit berlalu, pak Hermanto keluar dari rumah dengan membawa dua amplop cokelat. Tania hanya diam memperhatikan, ia tak banyak bicara. Ia tetap menunggu instruksi selanjutnya. Karena bagaimana pun ini kali pertama ia bekerja pada seseorang. Karena selama ini, ia hanya berjualan kue buatan ibunya keliling Desa.
Tania tak ingin karena sikap atau sifatnya membuat ia batal mendapatkan pekerjaan ini. Sebisa mungkin ia harus pandai dalam bersikap mau pun bertutur kata.
"Kau sudah di terima bekerja di sini, dan ini gaji pertama mu!" Pak Hermanto menyerahkan satu amplop pada Tania dan satu amplop lagi masuk ke dalam saku jasnya. Tentu saja Tania bingung, belum juga bekerja ia sudah mendapatkan gaji. 'Ada-ada saja!'
"Ingat! Kau harus bekerja dengan baik. Kau harus nurut apa kata Majikan mu! Jangan sekali-kali kau mengecewakannya!"
"Ba-baik, Pak."
"Bagus, sekarang kau masuk dan temui Majikan mu!"
"Baik, Pak."
Pak Hermanto berlalu meninggalkan Tania yang bingung harus bagaimana dan berbuat apa. 'Langsung masuk apa gimana? Astaga!'
Tania masih mengatur nafas sebelum membuka pintu. Rumah ini sangat besar, tapi ia tak mendengar adanya suara-suara dari orang lain. 'Apa Majikan ku hanya tinggal seorang diri? Tinggal sendiri di rumah sebesar ini?'
"Masuklah!" Terdengar suara dari dalam sana membuat jantung Tania nyaris copot, dan hampir saja membuatnya terjatuh karena kaget. Suara berat khas seorang laki-laki dewasa.
'Astaga! Kenapa aku jadi takut begini?'
"Apa kau tuli?! Masuklah!" Teriak orang itu sekali lagi. Tania segera bergegas menemui asal suara itu.
Pria berperawakan tinggi, mirip dengan artis-artis di tv sekarang berada di hadapan Tania.
Tania seperti terpaku untuk terus menatap pria itu. Rambutnya yang sedikit acak, matanya tajam dengan alis yang seperti tersambung. Pria itu mengenakan jas hitam, yang menambah wibawanya.
"Berhenti menatapku dengan tatapan menjijikan mu itu!" Desis pria itu, membuat darah Tania seperti mendidih. Sontak Tania segera menunduk, ia hanya bisa meremas jari karena pria ini membuatnya takut.
'Aku tak berani untuk menatapnya lagi.'
"Siapa namamu?"
Tania masih hening,
__ADS_1
"Aku rasa kau ini memang tuli! Bisa-bisanya Hermanto memberiku pembantu tuli?"
"Namaku ... namaku Tania, Pak!" Ucap Tania spontan karena tak mau di kira tuli.
"Kau pikir aku sudah tua?"
Tania kembali meremas jari-jarinya.
'Astaga! Apa aku harus bekerja pada orang seperti ini?'
"Maaf, Tuan."
"Nah, bagus!"
"Mulai hari ini kau akan bekerja di sini. Uangnya sudah kau terima, bukan?"
"I--ya, Tuan."
"Berarti kau sudah siap mengerjakan segala tugasmu di rumah ini."
"Iya, Tuan."
"Sudah, Tuan."
"Ya, bagus! Kalau kau sudah masuk ke rumah ini, berarti kau sudah siap dengan semua perintahku."
Tatapan pria itu seolah-olah akan membunuh. Sangat tajam, dari caranya menatap Tania seperti ingin memangsa. Sekarang ia malah mengelilingi gadis itu, entah apa tujuannya.
"Lumayan." Ucapnya dengan nada yang seperti merendahkan.
"Kau boleh mengerjakan apapun di rumah ini, membersihkan, merapikan, atau apalah terserah. Aku hanya sendiri di sini, tak ada siapapun. Jadi kau yang bertugas mengurus semuanya."
"Kenapa Tuan hanya sendiri?" Pertanyaan Tania membuat pria itu melirik tajam,
'Apa aku menyinggung perasaanya? Atau pertanyaan ku ini salah?'
"Aku bilang kau boleh melakukan semuanya, bukan bearti kau boleh mengusik kehidupanku!" Desisnya lagi, membuat Tania mati kutu.
__ADS_1
"Sana pergilah ke kamarmu!" Lanjutnya sembari menunjuk arah kamar Tania dengan jari telunjuknya. Kamar yang berada di bawah anak tangga menuju lantai atas.
Tania segera bergegas. Tak ingin berlama-lama berharapan dengan orang seperti ini.
'Bisa jantungan karena sering mendapat bentakan.'
'Tapi, kenapa dia hanya sendiri di rumah sebesar ini?' Pertanyaan yang hanya bisa Tania simpan di benak. Tak ingin menanyakan hal itu lagi, karena bisa membuat tuan-nya itu marah.
*****
'Rakha Adimas Satya'
Tania menyisihkan sebuah name tag yang terletak di atas meja, karena ia akan menyapu debu-debu di atas meja itu.
Sepertinya ruangan ini sudah lama tak di gunakan, begitu pengap dan berdebu. Serta berkas-berkas yang berhamburan di bawah meja.
Tania kembali mengambil name tag yang sempat ia sisihkan tadi. Membaca nama itu berulang-ulang, mungkin itu adalah nama dari majikannya itu.
"Ehem!" Suara yang mengagetkan Tania.
"Tuan, Rakha?" Ucap Tania tak sengaja menyebutkan nama itu.
Sang majikan lantas mengernyitkan dahi. Tania gelagapan. Ia hanya bisa menyembunyikan raut wajah ketakutannya. Ia lantas menyerahkan name tag yang ia dapatkan.
"Maaf, Tuan."
"Kau ini." Ucap Rakha seperti sangat tidak suka pada Tania.
Tania hanya bisa tertunduk, pasrah saja jika akan mendapat bentakan lagi. Tapi ternyata tidak, pria itu berlalu dari hadapannya.
Tania kembali melanjutkan pekerjaannya, yaitu membersihkan ruangan ini. Ini seperti ruang kerja, dengan khasnya terdapat meja kerja lengkap, serta banyak berkas-berkas tersusun di rak. Dan juga terdapat beberapa komputer.
Tania membuka jendela agar udara di sini tak begitu pengap, dan membiarkan udara segar masuk. Pekerjaan yang menyenangkan selagi tak di awasi oleh majikan yang super menyeramkan itu.
'Besok aku akan segera mengirimkan uang pada Ibu. Biar ibu bisa segera pergi berobat.' Benak Tania merasa sangat senang.
__ADS_1
Rakha Adimas Satya