
Sepulang dari Pasar Tania membawa dua keranjang yang sudah terisi penuh dengan bahan-bahan masakan dan juga bermacam-macam buah-buahan. Lumayan untuk stok selama satu minggu ke depan. Tentu saja semua itu, Rakha yang membayarnya.
"Ya ampun! kalian borong?" Teriak bu Rohimah saat Tania meletakkan semua belanjaannya di depan pintu. Sedangkan bu Ayu hanya tertegun memperhatikan.
"Sekali-kali, Bu lek." Jawab Tania sambil melirik Rakha yang masih dengan wajah anehnya itu. Pria itu terlihat mengambil nafas lega setelah sampai di rumah. Ini merupakan pengalaman yang tak akan pernah Rakha lupakan, yaitu pergi ke Pasar Desa.
Bu Rohimah membantu Tania mengemas semua belanjaan menuju dapur, sedangkan bu Ayu mengajak Rakha masuk dan duduk di ruang tamu. Bu Ayu benar-benar memperlakukan pria itu bagaikan Raja. Itu yang membuat Tania kesal.
***
Rakha masih di sana, hingga jam makan siang tiba.
'Untuk apa, sih? Kenapa ia tak kunjung pulang? Kenapa malah berlama-lama di sini? Apa dia gak menyadari aku begitu enek melihat wajahnya yang sok polos itu saat berada di sini.' Tania semakin kesal. Seharian ini wajahnya selalu di tekuk.
Mereka makan bersama di meja makan di dapur. Meja makan yang terbuat dari kayu ini menjadi saksi betapa risihnya Tania dengan Rakha yang berada di sana.
Tania menatap Rakha sinis, dengan mulut yang terus mengunyah.
__ADS_1
"Makan yang banyak, nak Rakha. Kan nak Rakha jarang-jarang bisa main ke sini." Ucap bu Ayu membuat kuping Tania terasa panas.
"Iya, Ganteng. Ini semua Tania loh yang masak. Tania memang top markotop." Tambah bu Rohimah yang sebenarnya tak membuat Tania merasa terpuji di depan Rakha.
Tania melihat Rakha menyunggingkan senyum. Tatapan pria itu tertuju padanya, secepat mungkin Tania memalingkan wajah.
Rakha mulai menikmati suapan demi suapan ke dalam mulutnya. Ia terlihat sangat lahap. Padahal hari ini Tania sengaja memasak masakan khas desa biar pria itu tak nafsu makan. Tapi, ... pria itu malah makan lebih lahap dari yang biasanya.
Lagi-lagi, Rakha tersenyum pada Tania. Senyum yang bermakna entahlah.
*****
"Tuan, kenapa Tuan belum pulang juga?" Tanya Tania ketus.
Saat ini Tania dan Rakha berada di teras rumah bu Rohimah. Rakha terlihat sangat santai menikmati semilir angin.
"Kenapa? Ibu sama Bu lek kamu saja belum menyuruh pulang." Jawab Rakha yang memang benar adanya. Bu Ayu dan bu Rohimah sama sekali tak ada niat untuk menyuruh pria itu pulang.
__ADS_1
"Kenapa Tuan mengganggu waktu liburku?" Tania semakin kesal.
"Aku tidak mengganggu, aku hanya ingin bertamu."
"Tapi Tuan membuatku merasa terganggu."
"Saat berada di sini kau begitu galak, Tania. Berbeda saat kau sedang berada di kasur." Ucap Rakha semakin membuat Tania kesal. Sesegera mungkin Tania menutup mulut pria itu, tak ingin ada orang yang mendengarkan, apalagi sampai terdengar oleh Bu Ayu.
"Tuan! Cobalah untuk tidak membahas masalah itu di sini!" Sergah Tania dengan tatapan tajam.
Tania masih menutup mulut Rakha. Mata mereka saling beradu pandang, cukup lama dalam keheningan itu. Tania hanya berharap Rakha akan mengerti.
"Ehem!" Seseorang datang, membuat Tania dan Rakha menoleh secara bersamaan.
Entah sejak kapan Rey berada di sana. Ia terlihat heran, bukan melihat Tania tapi melihat Rakha.
Tania segera melepas tangannya dari mulut Rakha. Tatapan Rey masih tertuju pada pria yang kini bersama gadis itu. Rey sangat penasaran dan bertanya-tanya di dalam hati.
__ADS_1
Siapa orang ini?