
"Rey?" Tania menghampiri Rey.
Tatapan Rey masih tertuju pada Rakha. Pria itu tetap stay kalem tak menghiraukan.
"Kamu mau ajak aku jalan, kan?" Tanya Tania sengaja membesarkan volume suara, agar Rakha mendengarkan.
Rey kebingungan dengan sikap Tania saat ini. "Tapi, Nia. Aku ke sini cuma mau ..."
"Yaudah, kamu tunggu di sini bentar. Aku mau pamitan sama Ibu." Sambung Tania memotong pembicaraan Rey. Rey hanya mematung dengan raut wajah semakin heran.
Setelah berpamitan pada ibunya yang entah mengizinkan atau tidak, Tania tetap pergi bersama Rey.
Tania menggandeng tangan Rey melewati Rakha. Ia sengaja melirik Rakha seolah mau pamer. Mereka pergi dengan menaiki motor.
Tania tak peduli setelah ini ia pasti akan menjadi bahan gosip emak-emak desa setelah kedapatan jalan bersama dengan anak 'saudagar kaya' dari Desa sebelah. Apalagi sekarang saudagar itu sedang menjadi trending topik di Desa itu.
*****
"Itu tadi siapa, Nia?" Tanya Rey tiba-tiba saat mereka sudah berhenti dan turun dari motor.
Tania tak langsung menjawab. Ia memilih untuk duduk di bawah sebuah bangku yang menghadap ke sungai. Sekarang mereka berada di tempat yang biasa muda-mudi desa berkumpul. Yaitu Taman Desa.
Rey duduk di sebelah Tania. Cukup lama mereka saling hening. Tatapan mereka sama, yaitu tertuju pada sungai yang airnya berwarna kuning kemerahan terkena pantulan cahaya matahari yang mulai terbenam.
__ADS_1
"Itu majikan di tempat ku bekerja, Rey." Jawab Tania tiba-tiba.
Rey termanggut-manggut.
"Aku kira tadi orang yang mau ngelamar kamu. Aku udah deg-degan, loh!" Ucap Rey di sertai tawa.
"Ih! Mana ada!" Sergah Tania tentu dengan tawa juga.
"Jadi gimana?"
"Apanya?"
"Apa kamu terima lamaran ku?" Rey menatap Tania lekat.
"Kalau kamu mau, aku akan ajak ortu ku buat lamar kamu, Nia." Sambung Rey.
Tania semakin tak bisa berkata-kata. Terlalu banyak yang harus ia pertimbangkan.
"Jujur Rey, aku merasa sangat senang dengan apa yang kamu ucapkan. Tapi maaf, aku ..."
"Kenapa?"
"Aku masih belum siap."
__ADS_1
"Kenapa, Nia? Apa yang membuatmu belum siap?"
"Aku masih harus membahagiakan Ibuku, Rey. Masih banyak cita-cita yang ingin ku capai." Jawab Tania mencoba menjelaskan.
Rey diam. Ia terlihat menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya secara perlahan.
"Baiklah, Nia. Tapi aku akan tetap menunggu sampai kau siap." Rey kembali menatap gadis itu.
"Sebaiknya kamu mencari gadis lain saja, Rey. Lusa aku harus pergi lagi ke Kota untuk kembali bekerja. Kontrak kerjaku masih lama. Kau akan jarang sekali bertemu denganku."
"Tak apa, Nia. Aku tetap akan menunggumu bersama rinduku."
Tania tak tau harus bicara apalagi. Apa seperti ini kalau pria sudah terlanjur cinta? Ia sama sekali tak paham.
"Aku juga akan kembali ke Kota untuk melanjutkan kuliahku. Ku harap, kita bisa berbarengan saat kembali ke Desa."
"Aku kembali setiap akhir bulan, Rey. Dan itu hanya tiga hari."
"Aku akan usahakan pulang saat kamu pulang, Nia. Biar kita bisa bertemu."
Tania menyunggingkan senyum pada Rey. Baru kali ini ada cowok yang seperti ini padanya. Tentu saja ini membuatnya terbawa perasaan, karena tak pernah ia rasakan hal seperti ini sebelumnya.
Apakah cintanya akan tumbuh pada Rey? Entahlah, ia pun tak tau. Kalau sudah berbicara soal hati dan perasaan tak akan ada yang bisa menebak.
__ADS_1
Hari ini kau bicara benci, atau tak suka. bisa jadi besok kau akan menjadi cinta atau bahkan berubah menjadi budak cinta alis BUCIN.