Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 51 - Tak Jadi Pulang


__ADS_3

Hari terus berlalu. Akhir bulan yang di tunggu Tania sudah datang, itu berarti ia bisa pulang lagi ke Desa untuk menemui ibunya.


Tania tak sabar menantikan ke datangan Rakha di meja makan, karena ia akan meminta izin saat pria itu sudah berada di hadapannya.


Beberapa lama menunggu Rakha tak kunjung datang. Akhirnya Tania berinisiatif naik ke lantai atas. Menebak mungkin saja pria itu langsung bekerja di ruang kerjanya tanpa sarapan.


Saat sampai di ruang kerja, Tania sama sekali tak menemukan Rakha. Bahkan tak ada tanda-tanda kalau pria itu ada di sana.


Akhirnya Tania memberanikan diri menemui majikannya itu di kamarnya. Tania tak ingin menunda untuk meminta izin. Bukankah lebih cepat akan lebih baik?


"Tuan?" Tania mengetuk pintu secara perlahan.


"Tuan, apa Tuan masih tidur?"


Tania tak mendapatkan jawaban. Tapi, ia mendengarkan lirihan Rakha dari dalam sana yang berkata, "Masuklah."


Tania menekan gagang pintu, kemudian pintu itu terbuka. Tania mendapati Rakha yang masih berbaring di kasurnya.


"Tuan? Kenapa tak turun untuk sarapan?" Tanya Tania. Rakha masih diam saja, matanya masih terpejam.


"Tuan?" Tania lebih mendekat. Ia melihat ada yang aneh pada majikannya itu.


Tania memberanikan diri memegang kening Rakha. ia begitu kaget, karena suhu tubuh tuannya itu sangat panas.


"Astaga, Tuan! Kenapa tak bilang kalau Tuan sedang sakit?" Tania sangat panik.


"Cuma demam biasa," jawab Rakha masih memejamkan matanya.


"Apa perlu aku memanggil Dokter, Tuan?"


"Tak usah, sebentar lagi juga membaik."


Tania tak bisa membantah ucapan majikannya itu. Ia kemudian mengambil kompresan seperti biasanya.


Tania begitu memperhatikan Rakha. Ia membawakan pria itu sarapan dan menyuapinya. Sesekali ia memegang kening Rakha untuk memastikan apakah panasnya sudah turun.

__ADS_1


Rakha menatap Tania. Ia sangat terkesima dengan perhatian gadis itu.


"Tuan makan yang banyak biar cepat sehat." Ucap Tania terus menyuapi Rakha makan.


"Abis ini, Tuan jangan kemana-mana. Istirahat saja. Kalau ada apa-apa, Tuan panggil saja. Aku masih harus membersihkan rumah." Sambung Tania lagi.


Rakha kemudian memegang tangan gadis itu. "Untuk hari ini, biarlah kau di sini saja. Tak perlu kemana-mana."


Tania tak jadi beranjak. Ia menuruti kemauan Rakha itu. Bahkan, ia sudah lupa tujuan ia datang ke kamar itu, yaitu untuk meminta izin pada Rakha untuk pulang ke Desa besok.


Melihat keadaan Rakha yang sedang demam, Tania mengurungkan niatnya itu. Ia tak sampai hati jika harus meninggalkan Rakha yang sedang sakit seorang diri. Ia tentu masih mempunyai hati nurani, walau harus merelakan tak jadi pulang ke Desa.


"Kenapa kau terlihat sangat gelisah, Tania?"


"Tidak apa-apa, Tuan." Tania menyembunyikan perasaanya.


Tania di kamar Rakha hingga malam tiba. Ia keluar saat izin untuk makan karena perutnya juga perlu di isi. Tentu setelah ia selesai menyuapi Rakha.


"Tuan, apa aku boleh meminjam telepon rumah?" Tanya Tania memberanikan diri.


"Menelpon ibuku."


Rakha teringat, ini adalah akhir bulan di mana Tania seharusnya besok pulang ke Desanya. Akh! kenapa ia harus sakit, saat Tania akan pulang? Ia pasti akan kesusahan mengurus dirinya apalagi dalam keadaan seperti ini.


Rakha menyerahkan HPnya yang sudah terhubung di nomor bu Rohimah. Berdering ... kemudian terdengar suara bu Rohimah di seberang sana.


"Halo, Bu lek?" Ucap Tania lembut, ia sengaja berpindah tempat agak menjauh dari Rakha karena merasa tak enak hati.


"Halo, Nia."


"Apa kabar, Bu lek?"


"Baik, Nak."


"Syukurlah. Ibu ada?"

__ADS_1


"Ada, tunggu ya, Bu lek panggilkan."


Tak lama kemudian berganti suara bu Ayu.


"Halo, Nak?"


"Bu? Apa kabar, bu?"


"Baik, Nak. Kamu apa kabar? Jadi pulang ke Desa besok?"


"Nia baik, Bu. Maaf ... " Ucapan Tania terputus, ia memperhatikan Rakha yang sedang terbaring lemah di kasur.


"Nia bulan ini belum bisa pulang, soalnya ... majikan Nia lagi sakit."


"Oh, iya. Tidak apa-apa. Kamu jaga dirimu baik-baik ya, Nak. Jaga kesehatan."


"Iya, Bu. Ibu juga. Kalau begitu, sudah dulu ya, Bu."


"Iya, Nak. Ibu sayang kamu."


"Tania juga, Bu."


Tania mematikan telepon. Ia menyerahkan HP itu pada Rakha.


Rakha menatap raut wajah yang terlihat sedih itu.


"Kamu kenapa? Jadi pulang?"


"Tidak, Tuan. Bagaimana mungkin aku meninggalkan Tuan yang sedang sakit?"


Rakha menatap Tania sangat lama. Ia semakin terkesima dengan gadis itu. Gadis itu rela mengorbankan waktu berliburnya untuk mengurus dirinya yang sedang sakit.


"Terimakasih," lirih Rakha.


Tania hanya menyunggingkan senyum kecil. Walau tak bisa di bohongi, ada kesedihan di sana. Kesedihan karena ia juga merindukan ibunya.

__ADS_1


__ADS_2