Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 35 - Apa Kau Hamil?


__ADS_3

Malam hari,


Tania celingak-celinguk mencari keberadaan Rakha. Ternyata pria itu sedang sibuk di ruang kerjanya. Di rasa situasi aman, Tania memutuskan keluar rumah, untuk Mencari Apotek.


*****


Tania berjalan tak begitu jauh dari kediaman Rakha, hingga akhirnya ia menemukan sebuah Apotek yang masih buka di jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam.


Bergegas Tania menyebrangi jalan raya karena Apoteknya berada di seberang sana. Ia tak ingin berlama-lama karena takut Rakha menyadari ia yang tidak berada di rumah.


"Selamat datang di Apotek Sentra Sehat, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" Ucap gadis yang usianya terlihat lebih muda dari Tania, ramah.


"Anu, aku ... aku ma--mau beli alat tes kehamilan." Ucap Tania dengan nada yang bergetar.


"Mau yang biasa atau yang digital, Mbak?" Tanyanya gadis itu lagi. Ia terlihat tak curiga sedikitpun pada Tania yang semakin gelisah. Ia tak tau yang membeli tes pack ini adalah wanita yang belum bersuami.


"Yang biasa aja," jawab Tania mencoba tenang.


"Mau berapa, Mbak?"


"Dua, biar bisa tes lagi kalo ragu sama hasilnya."


Gadis itu lantas memberikan sebuah plastik hitam yang berisi barang yang Tania beli. Lalu Tania membayar uangnya, dan segera pulang.


Selama perjalanan pulang pikiran Tania berkecamuk. Ada rasa deg-degan dan juga penasaran. Dalam hati ia bertanya-tanya, bagaimana kalau seandainya ia benar-benar hamil? Apa majikannya itu akan bertanggung jawab, secara ia hanya berhubungan dengannya saja.

__ADS_1


Dosa,


Tania merasa ia adalah wanita paling berdosa di dunia ini. Melakukan hubungan terlarang tanpa ikatan dan itu sudah sering ia lakukan.


Ingin rasanya menangis dan menyesali, tapi semua itu sudah tak ada artinya. Ia sudah tenggelam dalam lautan dosa, dan sulit untuk kembali ke permukaan. Bahkan sekarang ia semakin tenggelam ke dasarnya.


Tania memegang erat plastik hitam yang kini berada di tangannya. Jantungnya berdegub sangat kencang. Ini kali pertama ia membeli benda ini. Bukan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri.


*


"Dari mana?" Tanya Rakha saat Tania baru saja hendak masuk ke rumah. Ternyata pria itu sudah berdiri di tengah pintu.


Tania gugup. Sontak ia langsung menyembunyikan plastik hitam yang tadi ia genggam erat.


"A--aku, aku tadi keluar sebentar, Tuan." Jawab Tania tak mau menatap.


"Ta--tadi ... tadi Tuan sedang sibuk."


"Kalimat izin itu sangat gampang di ucapkan, Tania. Apa tujuan mu pergi diam-diam?"


Tania bingung harus menjawab apa. Hingga ia memutuskan untuk diam saja.


Rakha memperhatikan gadis itu dengan seksama. Ia mendapati raut wajah Tania yang sangat mencurigakan.


"Apa yang kau sembunyikan?" Tanya Rakha berusaha melihat di balik punggung gadis itu.

__ADS_1


"Ti--tidak ada, Tuan."


"Lalu apa yang berada di balik punggungmu?" Rakha mulai memaksa mengambil apa yang Tania sembunyikan.


"Jangan, Tuan! Ini bukan apa-apa. Hanya obat demam!" Teriak Tania, berusaha menghindar.


Tapi Rakha tetap tak mau mengalah. Tatapannya semakin penuh dengan kecurigaan pada gadis itu.


"Jangan, Tuan!" Tania masih menolak Rakha mengambil benda itu.


Hingga akhirnya plastik hitam itu berhasil Rakha dapatkan.


Perlahan Rakha membuka isi dari plastik itu. Benda berbungkus kemasan biru itu berhasil membuat matanya terbelalak.


"Untuk apa ini, Tania?" Tanya Rakha pada Tania dengan nada yang membentak.


Tania hanya diam tertunduk, tak berani untuk menjawab.


"Aku tanya padamu. Untuk apa kau membeli ini? Apa kamu hamil?" Tanya Rakha lagi.


Tania semakin tertunduk, ia takut untuk menjawabnya. Lagipula ia juga tidak tau, hamil atau tidaknya dirinya itu.


"Jawab, Tania!"


"A--aku tidak tau, Tuan! Tapi sampai hari ini, aku belum juga haid."

__ADS_1


Rakha menatap tajam. Apa ia akan marah? Bukankah jika Tania hamil ini semua kesalahannya?


__ADS_2