Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 11 - Ingin pulang


__ADS_3

"Tuan," Tania memberanikan diri masuk ke ruang kerja Rakha untuk berbicara pada majikannya itu. Malam ini, Tania berniat ingin mengakhiri semuanya.


"Kenapa?" Jawab Rakha tanpa menoleh sedikitpun.


Keraguan dan ketakutan berbaur jadi satu. Tania terlalu takut untuk berbicara pada Rakha. Hingga suasana menjadi hening kembali. Sedangkan detak jantungnya bergejolak di dalam sana.


"Aku ..."


"Bicaralah, Tania. Jangan berlama-lama, karena aku sedang sibuk." Rakha masih tetap tak menoleh. Ia masih sibuk dengan komputernya.


"Aku ingin mengundurkan diri, Tuan." Akhirnya kalimat itu keluar dari bibir Tania, walau sebenarnya terlambat. Seharusnya ia bicara sebelum Rakha melakukan itu padanya. Tapi Tania sudah pasrah. Nasi sudah menjadi bubur.


Jika tetap di sini, ia tak akan sanggup karena terlalu benci untuk bertemu Rakha setiap hari.


Rakha masih hening,


"Tuan," panggil Tania, lagi.


Rakha menghentikan aktivitasnya. Ia memutar kursinya hingga sekarang mereka saling berhadapan.


"Yakin?" Tanya Rakha dengan senyum sinis.


Tania mengangguk pelan.


"Bersedia membayar denda?"


Tania mengangguk lagi, walau sebenarnya ia sangat pusing dan bingung memikirkan denda yang jumlahnya tak sedikit itu.


"Tapi beri aku waktu, Tuan. Aku janji aku akan melunasi semuanya." Ucap Tania meyakinkan.


Rakha menatap lekat.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan memberikan kesempatan untuk orang sombong sepertimu." Rakha kembali ke komputernya, sedangkan Tania semakin canggung.


'Apa sudah selesai? Apa aku sudah bukan pekerjanya lagi? Apa sekarang aku boleh pergi?'


"Aku ... aku permisi, Tuan." Tania berlalu dari ruangan Rakha. Pria itu sama sekali tak perduli bahkan wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. Sepertinya memang benar ... Rakha sudah tak punya hati nurani.


*****


Pagi menjelang,


Tania sengaja menunggu siang untuk keberangkatannya pulang ke Desa. Tas yang sudah berisi pakaian sudah ia tenteng. Ia pergi tanpa membawa apapun dari rumah itu. Bahkan uang yang sempat di berikan Rakha waktu itu ia tinggalkan, karena ia tak ingin menambah hutang pada pria itu. Yang Tania bawa hanyalah baju-baju yang pertama ia bawa saat datang kemari.


Saat Tania keluar dari rumah, ia melihat Rakha yang memperhatikannya dari kejauhan. Entah apa maksudnya. Tapi Tania tak perduli. Ia merasa tenang karena terbebas dari orang seperti Rakha. Ada rasa lega di dalam hati.


*****


Setelah berhari-hari di perjalanan, akhirnya Tania sampai juga di Desa. Desa tempat ia berasal.


"Iya, Bu." Jawab Tania santai.


"Kok sudah pulang? Cepet banget. Kena pecat?"


"Ah, enggak, kok."


"Ih, kamu sih sok-sokan mau kerja di Kota, orang kayak kamu kan gak biasa hidup di Kota lama-lama makanya sekarang pulang cepet. Kamu mah cocoknya di sawah, di kebun, jualan kue keliling. Lagian mimpinya ketinggian." Cerocos bu Sari. Tania hanya tersenyum dan berlalu.


Ya, percuma juga meladeni orang seperti bu Sari, yang akan tetap kokoh pada pendapatnya sendiri dan tak akan mengalah dalam berdebat.


"Ih, dasar gak sopan! Bukannya permisi, kek. Apa, kek. Main nyelonong pergi aja!" Ocehan bu Sari masih bisa Tania dengar.


*****

__ADS_1


Tania mengetuk rumah bu Rohimah perlahan dan berulang. "Bu lek," panggilnya.


Tak lama muncul sosok bu Rohimah membuka pintu. Wanita paruh baya itu meletakkan jari telunjuk di bibir sebagai isyarat Tania jangan terlalu berisik.


"Ibu mu sedang istirahat, ia demam." Bisik bu Rohimah, membuat Tania seketika mengkhawatirkan ibunya.


"Ya, Tuhan, Ibu!" Mata Tania mulai berkaca-kaca. Ia bergegas masuk, ingin segera menemui sang ibu.


***


"Bu," lirih Tania. Ia menatap ibunya yang sedang tertidur. Saat Tania menggenggam tangan ibunya, tangan itu begitu panas karena demam.


"Ibu," lirih Tania lagi. Ia menciumi tangan ibunya yang semakin hari semakin kurus.


"Nak..." Bu Ayu terbangun dan berusaha untuk bangkit, tapi Tania mencegahnya. Tania menuntun ibunya ntuk kembali berbaring.


"Sudah, Ibu Istirahat, saja."


"Kamu sudah pulang, Nak?" Tanya Bu Ayu dengan suaranya yang lemah.


"Sudah, Bu. Aku rindu pada Ibu. Aku tidak akan meniggalkan Ibu lagi." Tania kembali menciumi tangan ibunya.


"Ibu juga rindu. Sudah, Ibu tidak apa-apa. Cuma demam biasa." Bu Ayu berusaha membuat Tania tak khawatir. Hal ini selalu saja bu Ayu lakukan untuk menenangkan hati anaknya itu.


"Maaf gak ngabarin, Nia. Abisnya Bu lek gak tau mau hubungi kamu di nomor yang mana." Ucap bu Rohimah memegangi pundak Tania.


"Gak apa-apa, Bu lek. Makasih, Bu lek sudah merawat Ibu."


"Iya, sama-sama. Jangan sungkan."


Tania bertekad tak ingin pergi lagi meninggalkan Ibunya. Ia ingin di sini saja berada di dekat sang ibu. Fokus mencari kerjaan dekat-dekat sini agar bisa mengobati Ibunya dan membayar hutang pada Rakha.

__ADS_1


"Semoga aku bisa!"


__ADS_2