
Pintu kamar Tania di ketuk begitu cepat, ia yang baru saja selesai mandi bingung antara segera membukakan atau memakai baju terlebih dahulu. Sedangkan, suara Rakha terdengar sangat keras dan begitu tak sabar ingin segera di bukakan pintu dari luar sana.
"Tania! Sedang apa kau di dalam sana?! Kenapa lama sekali?!" Teriak Rakha.
"Astaga! Apa dia tak bisa menunggu sebentar saja? Baru juga mau pakai baju, masa nemuin dia cuma memakai handuk? Kan gak lucu!" Celetuk Tania.
"Tania! Buka sekarang juga atau kau ku pecat!" Teriak Rakha lagi, membuat Tania segera bergegas mendengar ancaman itu, tak perduli dirinya yang dalam keadaan seperti itu.
Perlahan Tania membuka pintu, hanya sedikit. Cukup untuk kepalanya saja.
"Kenapa kau begitu lama?" Tanya Rakha curiga.
"Aku--aku baru saja selesai mandi, Tuan."
Rakha memaksa masuk ke kamar Tania dengan mendorong pintu, tapi Tania berusaha mendorong balik agar pria itu tak bisa masuk.
"Kenapa kau ini, hah?!" Ucap Rakha menatap tajam. Tania mulai ketakutan. Lagi pula, untuk apa pria ini ingin masuk? Bukankah laki-laki masuk ke kamar perempuan itu tak dibenarkan?
"Minggir, Tania! Biarkan aku masuk!"
"Buat apa, Tuan?!" Suara Tania mulai bergetar, gemuruh dalam dadanya kian menjadi.
__ADS_1
Hingga akhirnya Rakha berhasil masuk, ia lekas mengunci pintu kamar dengan Tania dan dirinya yang berada di dalam sana.
Jantung Tania berdebar sangat kencang, sangat takut itu yang ia rasakan. Ia berusaha menyembunyikan bagian tubuhnya yang terbuka dengan tangan, walau Rakha masih dengan leluasa bisa melihatnya.
"Kau kenapa seperti ketakutan?"
"Tuan yang membuatku takut." Tania tetap menjaga jarak dari Rakha dengan terus mundur tapi Rakha semakin mendekat ke arahnya.
"Kenapa? Bukankah ini sudah kesepakatan kita?" Rakha masih menatap tajam.
"Kesepakatan apa Tuan? Aku--aku sama sekali tak mengerti."
"Kau harus tidur denganku!"
"Kenapa kau malah terkejut, hah?! Kau sudah menerima uangku, berarti kau sudah setuju dengan segala tugas di rumah ini."
"Tapi ... tapi, tapi aku benar-benar tidak tau kalau ini adalah bagian dari tugas ku, Tuan." Rasa takut akan Rakha semakin menjadi.
"Aku kira aku hanyalah seorang Pekerja biasa yang mengurus rumah Tuan dan Keperluan Tuan." Tania masih berusaha menjelaskan ketidaktahuannya itu.
"Kau pikir aku membayar mahal hanya untuk semua itu?!"
__ADS_1
Rakha mendorong Tania hingga terjatuh di kasur. Ia lantas menindih tubuh gadis itu, dan menyibak handuk yang ia gunakan.
Yang di rasakan Tania saat ini adalah malu dengan keadaannya sekarang. Karena ia benar-benar tidak tau dengan semua ini.
Tania berusaha melepaskan diri dari Rakha. Tapi tenaga pria itu jauh lebih kuat dan tak sebanding dengannya.
"Tuan ku mohon! Jangan lakukan ini!" Tania berteriak sejadinya-jadinya, walau Rakha yang semakin membabi buta.
"Jangan pura-pura menolak, kau sendiri yang datang ke rumahku dan meminta pekerjaan. Sekarang lakukanlah pekerjaanmu dengan baik!"
"Tapi tidak untuk ini, Tuan!" Dengan tenaga seadanya Tania masih tetap melawan.
Rakha semakin menjadi dan tak menghiraukan jeritan Tania, entah berapa kali ia mencium bagian tubuh gadis itu yang tak seharusnya ia lakukan.
"Tuan!!!" Tangis Tania pecah saat itu juga. Ia tak peduli Rakha akan iba atau tidak. Tapi ia benar-benar tidak siap dengan semua ini.
Suasana menjadi hening, yang terdengar hanyalah lirihan Tania. Ia sangat ketakutan sekaligus malu.
Rakha menatapnya sekilas lalu membuang muka. Kemudian ia berlalu meninggalkan Tania yang masih sesenggukan menangis. Ia terlihat sangat marah, dengan membanting pintu saat keluar dari kamar itu.
Tania mengambil handuk yang telah terlepas dari tubuhnya, menangis adalah caranya menyesali semua ini.
__ADS_1
'Kenapa?' Tangis Tania semakin terisak.