
Rakha belum juga keluar kamar sejak kejadian tadi pagi. Mungkin ia tak bekerja hari ini, karena ini adalah hari Minggu. Hari yang membuat Tania semakin was-was. Dan bi Ani ... wanita paruh baya itu sudah dua hari tak terlihat datang kemari.
Tania membuatkan Rakha sarapan, sebisanya saja. Ia tak tau makanan apa yang menjadi favorit majikannya itu. Lagi pula, Rakha juga tak meminta ingin di masakan sesuatu. Inisiatif, Tania akan membuatkannya nasi goreng.
Tania sangat kaget ketika ia membalikkan badan, Rakha sudah duduk di meja makan. Hampir saja ia menjatuhkan piring berisi nasi goreng yang sedang ia pegang. Entah sejak kapan pria itu berada di sana.
Hari ini Rakha terlihat berbeda dari hari biasanya. Jika biasanya ia selalu terlihat memakai jas lengkap dengan dasi, hari ini ia hanya memakai kaos tipis biasa berwarna putih. Dada kekarnya terlihat menjiplak dari balik kaos itu. Pemandangan yang membuat mata Tania seperti tak mau berkedip melihat sosok Rakha saat ini.
"Kau seperti melihat setan saja, Tania." Ucap Rakha mengernyitkan alisnya.
Tania mengatur nafas, supaya tetap tenang. Dalam hati ia hanya bisa membenak kalau Rakha lebih menakutkan dari setan.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Rakha dengan melipat ke dua tangan.
"Aku, aku membuatkan Tuan nasi goreng," jawab Tania sambil meletakan piring yang ia bawa.
"Ya, baguslah! Karena aku memang sudah lapar."
Tania memperhatikan Rakha yang sedang makan. Dalam hati ia bertanya-tanya. Apa rasa nasi goreng yang ia buat sesuai di lidah majikannya itu? Sampai majikannya itu makan segitu lahapnya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" Rakha kembali menatap ke arah Tania, tatapan tak suka.
"Ma--maaf, Tuan. Baiklah, aku permisi."
"Tunggu!"
"Ada apa lagi, Tuan?" Tania yang kesal, tetap berusaha bersikap manis.
"Apa kau ingin membuatku mati tersedak? Memberiku makan tanpa memberiku minum?"
"Astaga! I--iya, Tuan. Maaf aku lupa."
Bergegas Tania ke dapur, menuangkan air di dalam gelas.
__ADS_1
"Awh!" Tiba-tiba Tania menjerit, karena gelas yang ia pegang terasa panas dan ia sontak menjatuhkan gelas itu. Kini jarinya terasa melepuh. Baru ia sadari, yang ia tuang adalah air hangat dari dispenser.
Tania panik karena pecahan gelas yang berhamburan, ditambah air hangat yang juga mengenai kakinya. Tania bergegas berjongkok memungut tiap pecahan itu, tak peduli rasa sakit yang ia rasakan.
"Ada apa ini?" Teriak Rakha menghampiri, membuat Tania bertambah panik. Tania semakin mempercepat gerakannya agar Rakha tak marah melihat pecahan gelas yang berserakan.
"Maaf, Tuan. Aku ... aku tidak sengaja menjatuhkan gelasnya. Aku kaget karena gelasnya terasa panas."
"Karena yang kau tuang air panas!"
"Maaf , Tuan. Aku..."
"Ceroboh! Apa kau buta warna, Tania? Tak bisa membedakan antara warna merah dan hijau? Apa perlu aku membawamu ke Dokter Mata?"
"Maaf, Tuan. Aku lupa kalau dispenser ini mempunyai dua suhu air."
"Maaf, terus yang kau bisa! Bekerja seperti ini saja kau tidak becus!"
Sakit di tangan Tania tak sebanding dengan sakitnya ucapan Rakha. Ibarat memakan Bon Cabe, ucapan Rakha adalah Bon Cabe level 99. Sangat sangat sangat pedas.
Tania masih berjongkok memungut pecahan gelas. Ia terus saja memikirkan ucapan Rakha. Ia merasa memang tidak becus dalam bekerja. Dan ia benar-benar merasa bersalah.
*****
"Ini, obati tanganmu." Ucap Rakha menghampiri Tania yang sedang meniup jari-jarinya untuk mengurangi rasa nyeri.
"Ini apa, Tuan?"
"Salep. Pakai saja supaya tidak melepuh."
"Terimakasih, Tuan." Tania mengambil salep itu walau sebenarnya ia sungkan.
"Jangan ke-PD-an, aku tidak mau karena tangan yang sakit kau jadikan alasan untuk tidak bekerja." Ucap Rakha begitu jutek.
__ADS_1
"I--iya, Tuan."
"Lain kali harus di ingat! Merah--hangat, hijau--dingin!"
"Iya, Tuan."
Rakha hening.
Saat Tania melirik, tatapan Rakha tertuju padanya yang kesulitan membuka tutup salep. Pria itu lantas berdecak kesal, lalu mengambil salep itu, dan membukanya.
"Pakai tenaga mu, Tania!"
"Maaf, Tuan." Tania semakin tertunduk. Di depan Rakha, ia benar-benar tak boleh melakukan kesalahan.
"Bekerjalah dengan baik, karena kau sekarang satu-satunya Pekerja di rumah ini."
"Maksud, Tuan? Lantas, bi Ani?" Tania memberanikan diri mempertanyakan bi Ani yang sudah dua hari tak kunjung datang.
"Sudah tidak bekerja."
"Di pecat? Bukankah beliau sudah lama bekerja pada Tuan?"
"Dari mana kau tau?" Rakha balik bertanya, ia mengernyitkan dahi. Tania menutup mulut dengan satu tangannya.
"Ah, itu..." Tania menjadi gugup.
"Diam-diam kau mencari tau tentang ku, ya?" Tanya Rakha tersenyum sinis.
"Ti--tidak, Tuan."
"Terserah kau saja. Sekarang di rumah ini hanya ada kau dan aku."
Tania hanya diam. Kemudian Rakha beranjak.
__ADS_1
"Aku masih menanti kesiapan mu untuk melakukan tugas utamamu, Tania." Ucap Rakha melirik tajam, sebelum ia benar-benar pergi dari hadapan Tania.
'Astaga! Apa itu sebuah pertanda ia akan melakukan hal itu lagi?'