
Malam,
Malam ini Tania tak bisa tidur. Ia sudah mencoba memejamkan mata agar segera terlelap, tapi tetap tak bisa. Ini di karenakan kekhawatirannya akan ucapan Rakha tadi siang. Ia takut, kalau tiba-tiba Rakha masuk ke kamar, dan melakukan yang sama seperti malam itu.
"Tania!" Suara Rakha membuat Tania terperanjat. Panik? Panik lah, masa enggak!
Segera Tania melompat ke kasur, menyelimuti diri, dan pura-pura sudah tidur. Ia membiarkan Rakha berteriak-teriak di luar sana. Ia berpikir, toh pria itu tidak akan bisa masuk karena kamar sudah ia kunci. Lagi pula, Rakha pasti memahami kenapa tak kunjung mendapat jawaban.
Beberapa saat, Tania tak mendengar lagi suara Rakha dari luar sana. Hening.
Tania bingung, apa majikannya itu sudah pergi? Tania berharap, semoga saja. Akhirnya Tania bisa bernafas lega. Kembali ia merebahkan diri di kasur, dengan perasaan plong tanpa rasa khawatir lagi.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar Tania terbuka. Sosok tinggi itu sudah berada di bibir pintu, dengan menyandarkan sebelah bahunya. Tania terperanjat kaget.
Rakha! Pria itu dengan senyum sinis nya memamerkan begitu banyak kunci di tangannya. Tania semakin terbelalak, tubuhnya seketika mematung tak bisa bergerak.
"Kau lupa sekarang berada di mana, Tania?" Ucap Rakha, raut wajahnya sangat marah.
"Tuan, aku ... aku ..." Tania menjadi gugup. Gugup yang bercampur dengan rasa takut.
"Apa seperti ini sikap Pekerja yang baik?"
"Tuan, maaf ..."
Rakha langsung menjatuhkan tubuh Tania ke kasur. Kejadian seperti malam itu terulang lagi. Tania tetap berusaha memberontak walau Rakha tetap saja memaksanya, bahkan ia membuka paksa baju yang sedang Tania kenakan.
"Aku benci Tuan Rakha! Aku benci Tuan Rakha yang seperti ini!" Teriak Tania masih berusaha melepaskan diri.
"Layani aku, Tania!"
__ADS_1
"Sudah aku katakan, aku tak bisa, Tuan!"
"Kenapa?" Rakha menatap tajam.
Suasana menjadi hening. Tania mulai menangis. Ia tak perduli Rakha akan iba atau tidak. Ia hanya berusaha mempertahankan kehormatannya sebagai seorang perempuan.
"Jika kau tak melakukan tugas mu, aku pastikan kau beserta Ibumu akan mendapat ganjaran. Lagi pula, Ibumu juga sudah menerima uang dari ku."
"Jangan, Tuan! Jangan libatkan Ibuku!" Tania menggeleng sangat cepat dengan tangis yang terisak-isak.
"Kalau begitu, layani aku sekarang!"
Tania tak menjawab sepatah katapun, hanya air mata yang berbicara. Ia diam, ia pasrah dengan semua ini. Ia hanya bisa memendam perasaan. Perasaan benci, marah, tak suka pada Rakha. Juga rasa bersalah pada ibunya.
Sementara itu, Rakha tanpa rasa bersalah menyentuh, dan merasakan apa yang tak seharusnya ia rasakan. Sementara Tania, ia hanya bisa merasakan sakit yang luar biasa. Di sana, dan di dalam dada.
Malam ini, kesuciannya benar-benar sudah terenggut.
*****
Tania tak kuat untuk bangun. Badannya terasa sakit. Ia tak mau mengingat kejadian tadi malam, itu membuatnya semakin jijik pada dirinya sendiri. Ia merasa sangat kotor. Semakin ia ingat, semakin besar pula rasa bencinya pada Rakha.
Tania bergegas membersihkan diri, mencoba kuat walau sebenarnya saat ini ia benar-benar rapuh.
***
Roti dan selai sudah tersedia di atas meja makan. Tania berusaha menyibukkan diri di dapur agar Rakha tak memanggilnya sewaktu-waktu. Lagi pula, ia sangat muak melihat wajahnya majikannya itu.
"Tania! Buatkan aku kopi!" Teriakan Rakha dapat Tania dengar dengan jelas dari tempatnya. Tapi sengaja tak ia hiraukan.
__ADS_1
"Tania!" Teriak Rakha lagi.
Lalu kemudian hening,
"Kenapa kau ini, hah?!" Bentak Rakha yang rupanya sudah berada di belakang Tania.
"Tu--tuan," Tania terbata-bata.
"Kenapa tak menjawab panggilan ku?"
"Aku tak mendengarnya, Tuan."
"Kau kira aku percaya?"
Rakha menarik tangan Tania, membuat gadis itu semakin merapat ke tubuhnya. Tania hanya diam, tak ada perlawanan seperti biasanya.
"Kenapa sekarang kau malah diam, Tania? Apakah kau sudah membiasakan diri, dan mulai menikmati semuanya?" Ucap Rakha dengan senyum sinis nya.
Tania mendongak, menatap mata Rakha, tajam. Tatapan yang penuh dengan kebencian.
"Percuma. Percuma aku memberontak karena pada akhirnya aku akan tetap kalah, Tuan. Karena kau akan tetap memaksa ku walau seribu kali ku katakan tidak." Ujar Tania, membuat Rakha terdiam.
Akhirnya Rakha melepaskan Tania. Tania kembali melanjutkan aktivitasnya, bersih-bersih. Sedangkan, Rakha hanya mematung mengamati setiap gerak-gerik gadis itu, lalu kemudian beranjak pergi.
Sesaat kemudian terdengar suara mobil yang semakin menjauh.
*****
Tania terduduk di lantai. Meratapi nasib buruk yang menimpanya. Ia tak bisa berbuat banyak. Ia hanya orang biasa yang takut akan hukum. Terlebih ... Rakha yang akan melibatkan ibunya.
__ADS_1
"Aku tak ingin terjadi hal-hal yang tak di inginkan pada ibu, hanya itu." Isak Tania.