Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 33 - Maaf


__ADS_3

Pagi selanjutnya,


Seperti biasa, sarapan sudah Tania siapkan di atas meja makan. Tapi Rakha tak kunjung turun padahal ini adalah jam biasa ia sarapan.


30 menitan berlalu, barulah Rakha muncul di hadapan Tania. Tania sedikit tersenyum, yang sebenarnya entahlah apa maksud senyumnya itu.


Mereka sama-sama hening. Hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring, karena Rakha yang mulai memakan sarapannya. Tania hanya diam dan memperhatikan dengan seksama.


Hingga detik ini Rakha tak kunjung mengajak Tania berbicara, atau sekedar memanggil namanya. Pria itu sekarang lebih banyak diam. Entah kenapa ... itu membuat Tania kesal.


*****


Tania duduk di tepi kolam, tempat yang selalu menjadi temannya berkeluh kesah. Malam ini tak ada rembulan. Bukan hanya Rakha, rembulan pun bahkan seperti menjauhinya.


Entah ada angin apa Rakha datang menghampiri. Tania segera bangkit dan berdiri di sebelahnya.


"Tuan," ucap Tania pelan.


"Sedang apa?" Tanya Rakha.


"Cuma duduk."


"Memikirkan Pacar?"


"Pacar? Siapa?"


"Pria yang kemarin jalan denganmu."

__ADS_1


"Namanya Rey,"


"Aku tidak bertanya, Tania."


Tania terdiam. Ia lebih memilih memperhatikan air kolam.


"Sudah sejauh mana?" Tanya Rakha yang membuat bingung.


"Maksud Tuan apa?" Tania mengernyitkan dahi.


"Kalian sudah tidur bersama, bukan?"


Mata Tania membulat mendengar ucapan Rakha itu. Dadanya terasa bergemuruh. Ibarat petir tiba-tiba menyambar.


"Jaga ucapan, Tuan!" Bantah Tania.


"Kenapa? Bukankah itu benar?"


"Aku tidur dengan anda bukan berarti aku tidur bersama segala pria, Tuan!" Ucap Tania menatap tajam Rakha dengan air mata yang mulai berlinang.


"Dan asal Tuan tau, aku tidur bersama Tuan juga karena terpaksa!" Sambung Tania.


Sekuat apapun Tania menahan untuk tidak menangis, tapi pertahanannya itu akhirnya roboh. Air matanya tumpah membasahi pipi. Segera ia berlari masuk ke dalam rumah meninggalkan Rakha yang masih terdiam mematung.


*****


Tania duduk di lantai bersandar di dinding. Rasanya begitu sesak. Ia berpikir ... wajar saja Rakha mengatai nya demikian, karena ia memanglah wanita murahan. Wanita murahan yang sudah menjual harga diri demi uang. Tania semakin terisak.

__ADS_1


Tapi, semua itu ia lakukan karena suatu hal. Jika tak ia lakukan, bagaimana nasib ibunya? Ibunya mungkin tak akan sehat seperti sekarang ini. Jika tak diobati ibunya pasti masih berteman dengan kesakitannya setiap hari. Tania tak akan setega itu membiarkan ibunya menderita.


Hanyalah Tuhanlah yang tau...


*


Perlahan pintu kamar Tania terdengar berderit. Rakha masuk, dan sekarang ia sudah berdiri di hadapan Tania.


Tania tak menghiraukan. Hanya saja secepat mungkin ia menyeka air mata.


"Maaf," ucap Rakha. Mungkin tadi ia memikirkan ucapannya yang sudah menyakiti perasaan gadis itu, makanya sekarang ia datang kemari untuk meminta maaf.


Tania mendongak. Memperhatikan wajah Rakha yang merasa bersalah. Dan ini, untuk pertama kali kata 'maaf' di ucapkan oleh pria itu. Padahal sebelum-sebelumnya ia sudah sering menyakiti perasaan Tania.


Tania masih hening. Kemudian Rakha berjongkok di hadapannya, memegang pipinya, lalu kemudian pria itu menyeka air mata yang masih membasahi pipi.


"Aku tidak bermaksud mengatakan demikian, Tania." Ucap Rakha menatap Tania.


"Kau tau, aku tak suka jika pekerja ku mempunyai lelaki lain. Aku merasa seperti di khianati. Dari dulu, aku melarang pekerja ku untuk berhubungan dengan lelaki lain. Karena aku memang tak suka berbagi wanita." Sambung Rakha.


Tania membalas tatapan Rakha, ia melihat ada rasa trauma dari pancaran mata pria itu. Lagipula, Rakha sekarang terlihat sangat tulus meminta maaf padanya.


'Apakah ada kisah Rakha di masa lalu? Entahlah.' Tania membenak.


"Sekali lagi aku minta maaf," ucap Rakha seperti membujuk.


"Asal Tuan tau, sebelum bekerja di sini aku adalah wanita baik-baik." Ucapku kembali terisak.

__ADS_1



🖤


__ADS_2