
Pagi-pagi pintu rumah bu Rohimah di ketuk. Tania yang sedang menyiapkan sarapan keheranan. Siapa lagi pagi-pagi buta seperti ini?
Tania membuka pintu rumah. Betapa kagetnya ketika ia melihat siapa yang datang. Wajah menjengkelkan itu! Tania sangat kesal, kenapa paginya harus di sambut oleh pria itu. Rakha!
"Ke--kenapa Tuan datang kemari?!" Ucap Tania.
"Sopankah bersikap seperti ini pada tamu, Tania? Seharusnya kau mempersilahkan aku masuk."
"Tak ada tamu yang datang di pagi buta seperti ini!"
"Sekarang sudah menunjukkan pukul 7 pagi, bukan subuh."
Tania terdiam. Ia celingak-celinguk melihat ke dalam. Tapi ia masih belum mempersilahkan Rakha masuk.
Bu Ayu tiba-tiba datang menghampiri mereka. Melihat Rakha datang, bu Ayu begitu sumringah.
"Nak Rakha?" Ucap bu Ayu.
Rakha kemudian mencium punggung tangan bu Ayu. "Maaf Bu pagi-pagi sudah bertamu." Ujar pria itu, membuat Tania merasa geli. Tania semakin memasang wajah muak.
"Tania kenapa nak Rakha tidak di ajak masuk?" Tanya bu Ayu pada Tania. Tania hanya diam, ia melirik Rakha dengan tatapan sinis.
Baru saja Rakha ingin melangkahkan kaki, Tania menarik lengannya menuju mobil. Bu Ayu keheranan melihat mereka berdua. Juga Rakha, wajahnya tampak bingung memperhatikan Tania.
"Hei! Apa-apaan ini?" Tanya Rakha melihat Tania masih menarik lengannya.
__ADS_1
"Ke pasar!" Jawab Tania ketus.
Mendengar jawaban Tania, Rakha diam saja dan mengikuti Tania masuk ke dalam mobilnya.
Dari balik kaca mobil, Tania melihat ibunya hanya tertegun serta geleng-geleng kepala memperhatikan, di sertai senyum kecil melengkung di bibir.
'Ibu mengira pria ini berhati malaikat yang sudah membiayai semua pengobatan waktu itu secara gratis.'
'Tanpa Ibu tau, pria ini tak ada bedanya dengan iblis. Ia yang suka memaksa, dan suka seenaknya.'
*****
Suasana ramai yang sudah menjadi ciri khas. Di sini Tania dan Rakha sekarang. Pasar.
Tania jadi bernostalgia, waktu sebelum bekerja di rumah Rakha. Di sini ia biasa mangkal menjajakan kue buatan ibunya. Rasanya menyenangkan, apalagi kue yang ia bawa habis terjual.
Tania berjalan menelusuri setiap tempat, Rakha berjalan di sebelahnya. Ia sengaja membawa pria itu ke tempat seperti ini untuk mengerjainya.
'Rasakan!'
Raut wajah Rakha terlihat tak nyaman berada di sini. Berkali-kali ia mengusap wajahnya dan menutup hidung. Tentu saja Tania kesenangan melihatnya seperti tertekan. Kapan lagi ia bisa mengerjai majikannya itu?
"Kenapa harus berbelanja di sini, Tania?" Tanya Rakha,
"Emangnya di mana lagi? Di sini semua penduduk Desa ini membeli bahan makanan dan lain-lain."
__ADS_1
"Kenapa tak beli di supermarket atau di tempat lain?"
"Mana ada tempat seperti itu di sini."
Rakha berdecak kesal. Tania semakin merasa menang.
Jalanan semakin ke dalam semakin becek dan licin, tapi ya wajar saja. Di sini tempat orang-orang menjual ikan. Tania celingak-celinguk mencari ikan apa yang ingin di beli.
Rata-rata di sini menjual ikan sungai yang masih segar bahkan masih hidup. Tentu rasanya akan lebih enak dari pada ikan yang sudah mati atau yang di bekukan.
Langkah mereka menapaki air yang sedikit menggenang. Hingga tak sengaja Tania terselibet. Dan,
"Ah! Aku akan jatuh!"
Hap!
Rakha berhasil menangkap gadis itu. Mata mereka saling bertemu. Adegan tangkap-tangkapan ini berlangsung cukup lama. Dapat Tania dengar suara orang-orang yang menyoraki mereka heboh. Dan juga suara tepuk tangan.
'Apa mereka kira ini adegan kayak di filem-filem?'
Tak sedikit kalimat "Cie!" itu mereka dengar.
Wajah Tania terasa panas, serta jantung yang tiba-tiba berdetak kencang. Perasaannya campur aduk, yang jelas. Malu.
Secepat mungkin Tania memperbaiki posisinya. Dan pura-pura tak terjadi apa-apa.
__ADS_1