
Pagi hari Tania terbangun. Ia masih berada di sini, di kamar Rakha. Ia tak ingin mengingat apa yang sudah terjadi.
Tangan Tania tak sengaja menyentuh tubuh Rakha. Tubuh pria itu terasa sangat panas, ia seperti demam. Tania memegang kening Rakha, benar saja, tuannya itu sedang demam dan wajahnya terlihat sangat pucat.
Tania segera menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia kembali ke kamar untuk memakai baju dan mengambil handuk kecil. Kemudian ia menuju dapur untuk mengambil wadah yang akan ia gunakan menampung air untuk mengompres kening Rakha.
Saat handuk kecil yang sudah Tania basahi menyentuh kening Rakha, pria itu terbangun. Ia menatap Tania sendu, tapi tak Tania hiraukan, dan memilih untuk pergi.
"Tunggu, Tania." Panggil Rakha saat Tania hendak beranjak.
"Ada apa, Tuan? Beristirahatlah, Tuan sedang demam."
"Ya,"
"Panggil saja saat Tuan butuh sesuatu."
"Tania."
Tania menarik nafas, "Iya, Tuan?"
"Aku ... aku butuh kamu."
Tania terdiam. Rakha masih menatapnya.
Rakha terlihat berbeda dari biasanya. Selain mabuk, ternyata demam juga bisa membuatnya berhalusinasi.
"Aku mau kau di sini saja."
"Tapi aku harus masak, Tuan. Untuk sarapan dan juga makan siang."
"Beli saja,"
__ADS_1
"Beli? Dimana?"
"Ambilkan Hpku."
'Apa dia mau makan Hp? Ah, ada-ada saja. Apa hubungannya makan dengan Hp?' Tania bergumam.
"Kau tau Tania, jaman sekarang semua bisa kita lakukan secara online."
Tania hanya diam menyimak.
"Mulai dari belanja online, pesan makan online, dan apa saja."
'Orang ini, sedang sakit saja dia sangat cerewet!'
"Aku tak mengerti semua itu, Tuan. Karena di Desa ku tak ada semua itu. Kalo mau makan ya masak, kalau mau beli-beli pun ya harus ke warung atau ke pasar."
"Itulah bedanya kehidupan di Kota dan di Desa."
"Kau tak betah di sini?"
"Bukan begitu. Aku di besarkan di Desa. Walau sebagus dan sehebat apapun di Kota aku akan tetap kembali ke Desa."
Rakha hanya tersenyum mendengarkan ucapan Tania itu.
"Bahkan nanti, aku akan menikah dengan orang Desa. Bukan orang Kota." Celetuk Tania sebagai isyarat tak akan menikahi orang Kota seperti Rakha.
Rakha semakin tersenyum lebar. Dan, ini kali pertama Tania melihatnya seperti ini.
"Sepertinya kompresnya sudah kering, Tania." Ucap Rakha memegangi handuk kecil di keningnya.
Tania kembali duduk di bibir kasur sebelah Rakha. Ia harus mengerjakan semua ini. Mengurus Rakha, karena ini memanglah tugasnya.
__ADS_1
Tania lalu mengambil handuk kecil itu, membasahinya dan kembali meletakkan di kening Rakha. Rakha terus saja memperhatikan wajahnya. Dan itu ... membuat Tania sedikit salah tingkah.
"Wajahmu memerah," ucap Rakha menyunggingkan bibir.
Tania memalingkan wajah, tak ingin melihat ke arah Rakha. 'Apa ini? Bisa-bisanya aku berdebar.'
"Kenapa kau malah membuang wajah, Tania? Aku sedang berbicara padamu."
"Berhentilah menatapku, Tuan."
"Kenapa? Apa ada larangan?"
Tania berdecak kesal, kemudian menatap Rakha sinis.
Rakha merubah posisi, yang tadinya ia berbaring kini ia sandaran, ia mengambil handuk kecil yang menempel di keningnya dan meletakannya ke dalam wadah. Tatapannya masih tertuju ke arah Tania. Entah apa maksudnya bersikap seperti ini. Apa dia bermaksud mempermainkan perasaan gadis itu?
Tapi ia sekarang sudah berhasil. Wajah Tania terasa panas, serta detak jantung yang semakin berdebar-debar.
Tania semakin salah tingkah, matanya melihat ke segala arah, enggan untuk membalas tatapan tuannya itu.
Rakha semakin mendekatkan wajah. Kini wajah mereka hampir tak berjarak. Tania bisa merasakan hembusan nafas Rakha yang hangat, dan tangannya yang memegangi pipi gadis itu.
Dalam sekejap, bibir Rakha sudah menempel di bibir Tania. Tania hanya diam mematung. Tak bisa berkata-kata, hingga Rakha menyudahi ciumannya.
"Kau tau apa obat demam yang paling mujarab, Tania?"
Tania menggelengkan kepala dengan cepat. Mulutnya seperti terkunci.
Rakha hanya tersenyum, dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Tak peduli air kompres yang berhamburan tumpah ke lantai.
Mereka akan mengulangi apa yang sudah terjadi tadi malam.
__ADS_1