Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 19 - Larut Malam


__ADS_3

Di Bar,


Rakha tampak sudah mabuk berat, tapi botol yang berkali-kali di ganti dengan yang berisi penuh itu seperti enggan ia lepaskan. Tegukan demi tegukan berhasil melewati kerongkongan. Seperti ada rasa puas dalam dirinya saat menegak minuman beralkohol itu.


"Pak, sebaiknya anda berhenti dulu. Anda sudah mabuk berat." Ucap Pelayan Bar yang seperti khawatir.


"Berisik!" Teriak Rakha dalam keadaan setengah sadar, sedangkan tubuhnya serasa sudah tak kuat untuk berdiri.


"Pak, apa anda baik-baik, saja?" Pelayan Bar yang semakin khawatir dengan keadaan Rakha.


"Apa urusanmu, hah?!" Teriak Rakha membuat Pelayan Bar itu ketakutan.


"Tidak, Pak."


"Apa kau takut aku tak membayar?" Teriak Rakha lagi, sembari menghamburkan sejumlah uang di wajah pelayan Bar.


Mendengar keributan, pihak keamanan Bar datang menghampiri. mereka langsung menarik Rakha, menuntunnya keluar dari Bar. Rakha yang sudah mabuk berat menurut begitu saja kemana pihak keamanan akan membawanya.


Bruk!

__ADS_1


Tubuh Rakha di lempar di parkiran hingga terjerembab. Tak lupa pihak keamanan menonjok wajahnya sebagai ungkapan kekesalan. Pria itu sama sekali tak melawan karena keadaannya yang sudah sempoyongan dan semakin tak sadar.


"Sial!" Umpat Rakha,


Beberapa lama Rakha tak juga bangkit, masih dengan posisinya yang terbaring di parkiran. Hingga hujan turun membasahi tubuh.


Dingin yang menusuk ke tulang membuat Rakha akhirnya mencoba berdiri walau kepalanya masih terasa sangat berat. Dengan gerakan sempoyongan ia berusaha berjalan menuju mobilnya, untung saja ia masih ingat. Ia segera pulang sambil berusaha untuk tetap tersadar.


*****


Tania tak tau sudah berapa banyak Rakha memanggilnya, hingga pria itu mempunyai inisiatif menggedor jendela kamarnya dari luar dan itu membuatnya sangat kaget, sampai ia mengira kalau itu adalah penjahat yang sedang berusaha untuk masuk ke rumah ini.


Setelah Tania mendengar teriakan dan ledakan amarah dari pria itu, ia baru aku sadar kalau itu adalah majikannya. Ia segera menuju pintu utama untuk membukakan pintu.


Tania mendapati tubuh Rakha yang sudah basah kuyup, serta wajahnya yang terlihat lebam. Tuannya itu tak banyak bicara, langsung nyelonong saja masuk ke dalam rumah.


"Kenapa keadaan Tuan seperti ini?" Tania mengamati wajah Rakha. Mencoba membantunya berjalan, karena pria itu terlihat sangat sempoyongan.


"Jangan sok peduli, Tania." Rakha menepis tangan Tania.

__ADS_1


Tania terdiam dan hanya memperhatikan Rakha yang menaiki satu persatu anak tangga, hingga akhirnya tubuh Rakha ambruk. Tania bergegas menangkap tubuh itu sebelum terjatuh.


"Tuan!" Teriak Tania, ia berusaha menuntun Rakha hingga sampai ke kamarnya.


Sesampai di kamar, Tania kebingungan karena harus menanggalkan semua pakaian Rakha yang basah kuyup. Ia memberanikan diri, walau jantungnya serasa akan copot. Ini untuk pertama kali ia menelanjangi seorang pria.


Perlahan,


Di mulai dari membuka sepatu pria itu, kemudian baju, dan terakhir celana. Tania berusaha untuk tidak melihat bagian-bagian itu. Sedangkan di dalam dada semakin berdegub kencang.


Tania menutupi badan Rakha dengan selimut, membiarkannya istirahat dengan nyaman. Tak lupa Ia mengompres lebam yang ada di wajah itu.


"Kenapa setiap kali pulang larut, Tuan pasti bau minuman?"


"Apa ada masalah yang harus di tutupi dengan mabuk-mabukan?" Ucap Tania walau tak mendapat jawaban.


Ia hanya bisa bertanya pada diri sendiri mengenai Rakha. Ada rasa kasihan pada pria itu yang seperti mempunyai beban berat tersembunyi di balik sikapnya yang dingin.


"Tuan istirahatlah, aku mau kembali ke kamarku." Ucapnya lagi, pada Rakha yang sudah tertidur lelap.

__ADS_1


"Terimakasih, Tania." Lirih Rakha masih dengan mata yang terpejam.


Tania hanya menyunggingkan senyum kecil, ia pikir pria itu hanya sedang tak sadar mengucapkan kata itu. Sama seperti sebelum-sebelumnya. Saat dalam keadaan seperti ini Rakha tak akan ingat keesokan harinya.


__ADS_2