
"Tania, kenapa kau masih memilih bertahan di sini?" Tanya Rakha tiba-tiba pagi ini sambil menikmati sarapannya.
Tania lantas menatapnya. "Tanggung jawab, Tuan." Jawab Tania.
Rakha tampak termanggut-manggut.
"Lagi pula, aku sudah terikat janji pada Tuan." Sambungnya.
Rakha tersenyum sinis mendengar ucapan Tania, entah apa maksud dari senyuman itu.
"Sampai sekarang aku tidak pernah mempercayai hal yang berkaitan dengan janji." Ucap Rakha meremehkan.
"Tuan boleh tak mempercayai orang lain mengenai janji, tapi tidak denganku. Sekali saja janji itu terucap, maka harus aku tepati dan ada tanggung jawab yang aku pikul, Tuan."
Rakha terdiam. Ia memperhatikan Tania yang sedang menuang teh hangat ke dalam gelas.
"Kau berbeda dari para pekerja ku sebelumnya."
Tania membuang wajah mendengar ucapan Tuan Rakha. Ia merasa akan di banding-bandingkan.
"Apanya yang berbeda?"
"Semuanya."
Mereka saling hening.
Tania masih berdiri tak jauh dari Rakha. Karena setiap kali sarapan, pria itu selalu meminta untuk menemaninya, walau dirinya dan Rakha tak duduk secara bersamaan di meja makan. Tania cukup berdiri menjawab semua pertanyaan dari Rakha atau hanya menjadi pengamat Rakha yang sedang sarapan.
__ADS_1
"Kebanyakan para pekerja akan kabur meninggalkan rumah ini saat aku sedang di masa sedang terpuruk. Mereka beranggapan aku gila, dan sangat ketakutan seolah-olah aku akan memangsa mereka saat itu juga. Mereka lantas pergi tanpa jejak, dan tak pernah kembali."
"Kita hanya perlu menjelma menjadi air saat seseorang menjelma menjadi api, Tuan."
"Kau tak takut?"
"Aku lebih takut saat Tuan sedang mabuk, di bandingkan saat Tuan sedang marah."
Rakha tampak tersenyum kecil mendengar jawaban Tania.
"Kenapa?"
"Saat sedang mabuk aku melihat Tuan berbeda. Dan aku..."
"Apa?"
Mereka kembali hening.
Ini untuk pertama kali Tania dan Rakha mengobrol dalam waktu yang cukup lama. Apalagi Tania yang seperti mengungkapkan ketidaksukaannya pada sikap Rakha.
Tak ada obrolan lagi sampai Rakha menyelesaikan sarapan, kemudian pria itu berlalu.
"Apa ia tak suka dengan ucapan ku? Tapi biarlah, aku hanya menyampaikan isi hatiku." Ucap Tania.
*****
Terdengar suara orang berteriak dari luar gerbang. Tania lantas bergegas menemui orang itu dan membukakan gerbang.
__ADS_1
Tampak seorang pria memakai seragam merah abu-abu, bertuliskan JN* di bagian dada sebelah kirinya. Ia memegang sebuah kotak besar yang di bungkus plastik berwarna hitam.
"Maaf Mbak, mau anter paket." Ucap pria itu ramah.
"Paket?" Tania kebingungan. Ini untuk kali pertama ia menerima benda seperti ini.
"Benar ini rumah Bapak Rakha Adimas Satya?"
Tania hanya melotot memandangi pria yang ada di depannya itu. Ia bertanya-tanya, untuk apa pria ini menanyakan majikannya.
"Iya, benar." Ucap Rakha yang sudah berada di belakang Tania. Gadis itu hanya terdiam kaget dan tak tau harus berbuat apa.
"Maaf, Pak. Boleh tanda tangan di sini?" Ucap pria itu lagi, lantas Rakha langsung memberikan tanda tangannya.
"Makasih ya, Pak." Pria itu tersenyum ramah, kemudian berlalu. Ia sangat terburu-buru. Mungkin tidak kuat melihat wajah Tuan Rakha yang sangat dingin.
"Untuk kamu!" Rakha langsung menyodorkan kotak besar itu pada Tania. Gadis itu gelagapan karena Rakha yang memberi secara tiba-tiba.
'Ikhlas gak, sih?' Batin Tania.
Tak banyak bicara Rakha langsung masuk ke rumah. Tania segera menutup gerbang, lalu ia membawa masuk kotak itu ke dalam rumah, tak sabar untuk membuka dan melihat isi di dalamnya.
"Tuan, terimakasih." Ucap Tania, tapi tak mendapat respon sedikitpun dari Rakha yang sudah naik ke lantai atas.
***
Tania sudah berada di dalam kamar, bersiap dengan gunting yang akan ia gunakan untuk membuka kotak itu.
__ADS_1
'Apa isinya? aku sangat penasaran.'