
Di sini Tania sekarang,
Hotel.
Tania duduk di bibir kasur seorang diri Tanpa Rakha. Rakha membawanya ke sini setelah mengurus semua biaya administrasi di Rumah Sakit.
Setidaknya, Tania tak perlu pusing lagi memikirkan biaya itu, karena besok ibunya akan segera menjalani operasi. Tania meminta tolong bu Rohimah menjaga ibunya. Sedangkan, ia beralasan untuk kembali kerja pada Rakha dan akan kembali besok pagi.
Baju yang Tania kenakan masih terasa lembab akibat basah terkena hujan, ruangan ber-AC terasa dingin menusuk kulit. Tania sangat gugup. Lagi-lagi ia berpikir ia tak ada bedanya dengan seorang pelacur yang menanti kedatangan pelanggan. Sangat menjijikan.
Pintu kamar terbuka, Tania mengira itu adalah Rakha, ternyata itu adalah Pelayan Hotel yang mengantarkan makanan dan minuman serta membawakannya baju untuk bersalin.
Tania menerima dengan perasaan tak enak, sedangkan Pelayan itu menatapnya dengan tatapan entahlah. Pelayan itu seperti heran ... gadis biasa, lusuh, acak-acakan bisa berada di kamar mewah ini, kelas VVIP pula! Pelayan itu kemudian berlalu masih dengan tatapan anehnya itu.
Tak lama, Rakha masuk. Tania tak tau pria itu dari mana, ia tak perduli. Ia bahkan tak berharap Rakha datang ke kamar ini.
Tapi, Rakha sekarang terlihat berbeda, tak lagi memakai jas. Ia memakai kemeja biasa. Tania akhirnya mengetauhui... pria itu pergi karena ingin mengganti jas nya yang juga lembab karena hujan.
"Kenapa kau belum berganti baju? Baju yang pakai itu masih basah apa kau tak kedinginan?"
"I--ya, Tuan." Jawab Tania beranjak dari bibir kasur menuju kamar mandi.
Dalam hati Tania bertanya-tanya. Apa setelah ini, Rakha akan melakukannya? Sebenarnya, Tania masih belum siap.
***
Tania keluar dari kamar mandi. Sekarang ia mengenakan piyama. Piyama yang sangat tipis. Ia sangat risih memakainya. Apalagi, pelayan tadi sama sekali tak membawakan dalaman. Rakha bisa melihat jiplakan dari balik piyama itu. Apalagi bagian dadanya yang sangat jelas.
Tania sangat risih. Ia berusaha menutupi bagian dadanya dengan melipat kedua tangan.
Rakha yang sedang duduk santai di kasur menatap Tania sangat lama, itu semakin membuat Tania risih. Tania sangat gugup dan sangat takut. Itu yang ia rasakan sekarang.
__ADS_1
Rakha terus saja memperhatikan setiap lekuk tubuh gadis yang ada di depannya itu. Rambutnya yang masih lembab menambah kesan tersendiri. Ada rasa yang bangkit.
"Kemarilah, Tania." Ucap Rakha memerintah.
Tania mematung, matanya terasa panas. Rasanya, ia ingin menangis meraung-raung.
"Aku bilang, kemarilah!" Rakha membentak. Tania masih hening,
"Kenapa kau ini?" Rakha bangkit dari kasur menghampiri Tania.
"Tuan, aku--aku."
"Kenapa? Kau ingin membatalkan perjanjian kita?"
"Tuan," Tania mendongak menatap Rakha dengan wajah memelas.
"Yasudah, kalau begitu batalkan saja. Dan aku juga akan membatalkan operasi Ibumu besok!" Rakha berlalu menuju pintu, tapi Tania mencegahnya. Menghadang agar Rakha tak pergi.
"Jangan, Tuan! Jangan batalkan operasinya." Tania mulai menangis.
"Tidak mau!"
"Aku bilang minggir!"
"Tidak mau, Tuan!!!"
"Lalu apa mau mu, Tania?"
Tania hening, tangisnya semakin terisak.
"Jangan batalkan operasinya." Lirih Tania menatap Rakha.
__ADS_1
Rakha menarik tubuh Tania dan menjatuhkannya ke kasur. Ia mulai melucuti semua pakaian gadis itu dan menindihnya. Tania hanya diam, walau dalam hati terus saja memberontak. Sedangkan matanya, matanya tak bisa berhenti menangis.
*****
"Kamu kenapa, Tania? Kamu sakit?" Tanya bu Rohimah saat Tania tiba di ruangan ibunya.
"Ah, enggak, Bu lek."
"Tapi kamu kelihatan pucat, apa kamu kecapekan?"
"Enggak kok, mungkin hanya kurang tidur, Bu lek."
"Jaga kesehatan. Istirahat yang cukup."
"Iya, Bu lek. Makasih Bu lek udah jagain ibu semalaman."
"Gak apa-apa. Ibumu sudah Bu lek anggap sodara sendiri. Kamu jangan sungkan."
Tania tersenyum, ia merasa beruntung kenal pada bu Rohimah yang sangat baik dan peduli pada mereka.
Tak lama, seorang Suster datang masuk ke ruangan bersama beberapa rekannya yang sudah bersiap membawa bu Ayu ke Ruang Operasi. Ya, sekarang adalah jadwal bu Ayu melakukan operasinya.
Tania hanya mengangguk saat seorang Suster meminta izin membawa Ibunya. ia dan bu Rohimah lantas bergegas mengikuti kemana bu Ayu akan di bawa.
Mereka berhenti tepat di depan ruangan yang bertuliskan Ruang Operasi. Mereka hanya bisa menunggu di depan ruang, karena seorang Suster melarang mereka ikut masuk. Tania melihat seorang Dokter dan beberapa Suster memakai pakaian hijau di sertai penutup kepala yang senada warnanya.
Tania sangat cemas dan sangat mengkhawatirkan Ibunya. Ia hanya bisa melihat dari luar jendela, walau tirai hijau menutupi semuanya.
"Semoga operasi Ibu berjalan lancar ya, Bu lek." Ucap Tania penuh harap.
"Iya, Tania. Semoga saja."
__ADS_1
Doa terus Tania panjatkan untuk keselamatan Ibunya. Walau sebenarnya ia merasa malu kepada Tuhan atas dosa yang sudah ia perbuat.
'Semoga Tuhan tetap mendengar doa dari seorang pendosa sepertiku.'