Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 17 - Di Bawah Sinar Rembulan (21+)


__ADS_3

"Apa kau tak pernah pacaran, Tania?" Tanya Rakha. Entah apa yang membuat mereka malam ini bisa duduk berdua di tepi kolam dan mengobrol seperti ini. Bagaikan magnet.


Wajah Tania memerah mendengar pertanyaan Rakha itu. Kemudian ia hanya tersenyum kecil.


"Kenapa tak menjawab?"


"Tidak pernah, Tuan." Jawab Tania, membuat Rakha terkekeh mendengarnya.


"Pantas saja."


Tania menatap heran.


"Kau begitu kaku saat berada di dekat seorang laki-laki." Jawab Rakha.


Tania tersenyum getir. Karena memang ia tak biasa berdekatan pada seorang lelaki, dan Rakha ... ia adalah orang pertama yang sedekat ini padanya, bahkan orang pertama yang menyentuhnya.


Tania kembali hening, menatap ke tengah kolam. Walau di akui, rasa bencinya tak berkurang sedikit pun pada Rakha. Tapi ia harus membiasakan diri jika sewaktu-waktu ia akan melakukan hal itu lagi, karena ... ia sendiri yang menyerahkan dirinya pada pria itu dengan datang kembali ke sini.

__ADS_1


Byur!


Tiba-tiba Rakha melompat ke dalam kolam, membuat percikan air mengenai tubuh Tania. Tania terperanjat, dan sedikit mundur. Tapi Rakha malah santai berenang ke sana ke mari.


Suara kecipak air yang di hasilkan dari gerakan Rakha seperti menghipnotis. Tania terus saja memperhatikan.


Rakha berdiri menghadap Tania. Entah sejak kapan ia melepas baju, hingga terpampang jelas dadanya yang kekar. Tania segera memalingkan wajah, tak ingin menatapnya lebih lama.


"Naiklah, Tuan. Apa Tuan tak merasa dingin?" Teriak Tania memecah keheningan.


Rakha tak menghiraukan, malah sekarang dirinya menyelam. Air seperti menelan tubuhnya, sangat lama. Beberapa menit ia masih belum muncul juga kepermukaan.


"Tuan!" Teriak Tania semakin panik. Ia berjongkok untuk lebih memastikan.


"Tuan!" Teriak Tania lagi. Matanya masih mencari ke segala arah kolam.


Hingga,

__ADS_1


Rakha muncul tepat di depannya. Pria itu menarik tubuh Tania hingga masuk ke dalam kolam. Tania yang kaget memeluk erat, tak ingin melepaskan karena ia tidak bisa berenang.


"Astaga, Tuan!" Jantung Tania seakan mau copot. Bisa-bisanya Rakha membuatnya khawatir. Yang di khawatirkan malah tertawa terbahak-bahak.


"Apa kau takut?" Tanya Rakha begitu santai. Ia tak tau saat ini Tania sedang panik. Tania semakin memeluk erat, tak peduli tuan-nya itu akan marah.


"Tania," lirih Rakha. Tania sama sekali tak merasa dingin. Pelukan Rakha membuatnya merasa sangat hangat.


Tania menatap mata Rakha, jarak wajah mereka begitu dekat, dengan Tania yang menggantungkan tangan di leher pria itu. Dapat Tania rasakan, tangan Rakha mulai bergerak melingkar di pinggangnya. Perlahan gerakan tangan itu menjalar ke punggung. Hingga menelusup ke dalam sana.


Rakha memiringkan wajahnya, lalu mengecup bibir Tania lembut. Tania hanya diam. Nafasnya mulai tak beraturan serta detak jantung yang mulai berdebar-debar.


Tangan Rakha semakin menjalar ke segala arah, kecupannya terasa semakin memburu. Dan semakin turun ke bawah. Tania tidak mengerti dengan perasaannya saat ini. Ia benar-benar terhanyut dalam suasana indah ini. Di bawah sinar rembulan yang memberikan kehangatan.


Dingin sama sekali tak mereka rasakan. Tania bertumpu pada tepi kolam dengan Rakha yang berada di belakangnya. Lirihan kecil Tania beradu dengan suara kecipak air.


Ia benar-benar seperti terhipnotis dengan kehangatan yang di berikan Rakha malam ini.

__ADS_1



__ADS_2