
Sejuknya udara pedesaan mulai di rasakan Tania saat ia sudah berada di gerbang Desa. Seperti biasa, ia akan menaiki ojek untuk sampai ke rumahnya, bedanya kali ini ia sama sekali tak melihat sosok Rey di sana.
Selama di perjalanan, Tania terpikirkan Rey yang entah akan pulang atau tidak ke Desa sama sepertinya. Di lain sisi ia juga memikirkan Rakha, merasa kasihan pada pria itu yang harus ia tinggal sendirian di rumah.
"Fokus! Fokus! Fokus liburan!" Ucap Tania pada diri sendiri, saat wajah Rakha terus saja membayang di ingatan. Kang Ojek sampai geleng kepala dengan tingkah gadis itu.
Sesampai di rumah, Tania di sambut oleh bu Rohimah yang merasa kaget sekaligus kegirangan atas kedatangannya itu. "Lha, Nduk? Bu le kira kamu gak pulang?"
"Iya, Bu le. Tania sengaja gak ngabarin. Mau kasih kejutan." Ucap Tania tak kalah sumringah.
Mereka lantas masuk.
Diam diam, Tania menemui ibunya. Memberi isyarat bu Rohimah untuk tak berisik dan tak memberitahu, karena lagi-lagi ... Tania ingin memberi kejutan pada ibunya juga.
"Ibu!" Teriak Tania memeluk ibunya dari belakang.
"Ya ampun! Tania?!" Teriak bu Ayu kaget,
Tania dan bu Rohimah terbahak-bahak memperhatikan bu Ayu itu.
"Nak?" Bu Ayu lantas memeluk putrinya itu.
"Bu," Tania membalas pelukan ibunya dan menciumi wajah wanita paruh baya itu.
"Kenapa tidak mengabari? Ibu pikir kamu benar tak jadi pulang."
"Sengaja. Aku mau kasih kejutan sama Ibu dan juga Bu le."
Mereka semua tertawa bersama, kemudian melanjutkan makan siang karena bu Ayu yang memang sudah selesai memasak.
*****
__ADS_1
"Nia!" Panggil bu Rohimah pada Tania yang sedang duduk di teras rumah.
"Iya, Bu lek?" Tania bergegas menghampiri.
"Ini ada telepon dari nak Rakha." Ucap bu Rohimah menyerahkan HP pada Tania.
Tania memicingkan alis, kemudian ia menerima HP itu. Ia lantas kembali ke teras, untuk berbicara di sana saja.
"Ha--halo, Tuan?" Ucap Tania lembut.
"Sudah sampai?" Tanya Rakha dari seberang sana.
"Dari jam sebelas tadi, Tuan."
"Syukurlah kalau kau sudah sampai dengan selamat."
"Tuan sudah makan siang?" Tanya Tania. Entah kenapa hatinya begitu senang mendapat telepon dari majikannya itu.
"Vitamin Tuan jangan lupa di minum, biar tubuh Tuan benar-benar fit. Tuan juga harus banyak istirahat. Jangan kemana-mana dulu, di rumah saja."
Rakha tertawa kecil mendengar ucapan Tania padanya. "Kau bawel sekali, Tania."
"Bukan bawel! Aku hanya mencoba memperhatikan kesehatan Tuan." Balas Tania cemberut.
"Aku bisa menjaga diriku. Kau di sana juga, dan ini adalah perintah."
"Baik, Tuan." Tania tersenyum simpul.
"Yasudah, selamat berlibur. Aku menunggu kepulangan mu."
"Iya ..."
__ADS_1
Telepon di matikan. Lagi-lagi Tania tersenyum, membuat bu Rohimah keheranan memperhatikannya.
"Kok kayak seneng banget sih, Nak?" Goda bu Rohimah sembari mecolak-colek pinggang Tania.
"Ah, enggak kok, Bu lek." Tania cengar-cengir, kemudian ia memberikan HP itu kembali pada bu Rohimah.
"Makasih, ya, Bu lek."
"Sama-sama. Kalau perlu HP, bilang saja sama Bu lek."
"Iya, Bu lek."
*****
Sore menjelang,
"Bu, Tania ke warung dulu, ya. Mau beli bahan makanan." Ucap Tania pada ibunya.
"Iya, Nak. Hati-hati, ya."
"Iya, Bu."
Baru saja Tania berjalan keluar rumah, dari dalam bu Rohimah muncul dengan berlarian kecil menyusul gadis itu.
"Tania!" Panggil bu Rohimah.
Tania lantas menoleh. "Bu lek?"
"Bu lek. Ikut." Ucap bu Rohimah ngos-ngosan. Tania hanya bisa cekikikan memperhatikan.
"Ayo, Bu lek. Sekalian kita jalan sore."
__ADS_1