
Berhari-hari berlalu sejak kejadian malam itu. Tapi Tania terus saja teringat dan memikirkan. Ia malu, malu pada dirinya sendiri dan juga Rakha. Semakin ingin mencoba melupakan, semakin kuat pula ia teringat. Bagaimana tidak? Setiap hari ia selalu berjumpa dengan pria itu, membuatnya semakin sulit untuk melupakan kejadian malam itu.
Jam hampir menunjukkan pukul 12 siang, tapi Rakha tak kunjung turun ke bawah. Padahal ini hari biasa, bukan hari minggu. Atau mungkin, ia mengambil cuti?
***
"Tania!" Bisa Tania dengar dari sini teriakan Rakha memanggil namanya. Ia bergegas meninggalkan dapur menuju asal suara.
Rakha sedang duduk santai di ruang tamu, sambil menikmati acara televisi.
"Iya, Tuan?" Ucap Tania saat sudah berada tak jauh dari Rakha.
"Apa kau sedang memasak?" Tanya Rakha tanpa melirik sedikitpun. Tatapannya masih fokus ke arah televisi.
"Iya, Tuan."
"Baguslah, aku sudah lapar."
"Kenapa Tuan tidak pergi hari ini?" Pertanyaan Tania membuat Rakha menoleh ke arahnya.
"Pergi? Apa kau tidak suka aku berada di rumah?"
Tania tertunduk, dan tak enak hati. Bisa-bisanya kalimat itu terucap dari bibirnya. "Bukan begitu maksudku, Tuan,"
__ADS_1
"Lalu?"
"Apa Tuan tidak bekerja?"
"Jaman sekarang, bekerja bisa di lakukan dari rumah, Tania. Asal ada jaringan internet."
Tania menggaruk kepala. Ah, ia tak akan paham masalah teknologi. Ia jadi malu pada dirinya sendiri.
"Tapi sampai kapan? A-anu, ma-maksudku..." Tania gemetar, dan hanya bisa menggigit bibir saat Rakha memperhatikannya.
"Sepertinya kau memang tidak suka aku berada di rumah, Tania?"
"I--iya! Eh, bu--bukan! Bukan begitu, Tuan!" Tania semakin gelagapan. Tapi memang benar, ia lebih suka Rakha berangkat ke Kantornya, dari pada bekerja dari rumah.
"Aku akan terus bekerja dari rumah sampai aku sendiri yang bosan." Rakha beranjak meninggalkan ruang tamu. Ia menuju meja makan, karena tadi ia bilang ia sudah lapar.
***
Tania menyambar buku resep yang masih ia letakkan di meja tak jauh dari kompor dan mulai membaca masakan yang tadi ia buat. Berbahasa inggris, ia sangat kesulitan menyebutkannya.
"bef stek, sama blek paper bef." Jawab Tania sangat percaya diri sembari menghidangkan hasil masakannya.
Seketika tawa Rakha pecah, ia tertawa terbahak-bahak dan sangat lama. Tania semakin salah tingkah. Ia bertanya-tanya, apa ada yang salah?
__ADS_1
"Astaga, Tania. Maksudmu beef steak, sama black pepper beef?" Ucap Rakha di sela tawanya.
Wajah Tania sekarang merah padam, karena Rakha yang tak henti menertawakannya. Ia seperti ingin kabur untuk menyembunyikan rasa malu, tapi tak bisa. Ia hanya bisa tersenyum getir. Sedangkan wajahnya terasa panas sekali.
*****
Malam,
"Tuan mau kemana?" Tanya Tania pada Rakha yang baru saja melewati pintu utama.
"Sopankah bertanya seperti itu, Tania? Kan sudah ku bilang, jangan pernah mengusik privasi ku." Jawab Rakha kembali pada sikap utamanya--ketus.
"Maaf Tuan," ucap Tania tertunduk.
"Kau keberatan membukakan pintu saat aku pulang?"
Tania sedikit melirik, "Karena Tuan biasanya pulang begitu larut, dan itu adalah waktu aku sedang tidur pulas." Ucap Tania mengutarakan isi hati.
"Tak usah risau. Kau tidur saja, aku punya kunci cadangan untuk membuka pintu."
"Kenapa harus pergi?" Tania mendongak menatap mata Rakha. Tania tau, dan sangat tau tujuan Tuan-nya itu pasti tempat tak benar. Karena setiap kali ia pulang larut, ia pasti pulang dalam keadaan mabuk. Dan Tania sangat tidak suka dengan hal itu.
"Bukan urusanmu, Tania!" Bentak Rakha, kemudian ia berlalu.
__ADS_1
Tania dapat melihat perlahan mobil Rakha mulai meninggalkan pekarangan rumah, dan hilang di telan malam.