
Tania masih berdiam diri di kamar. Tentu saja ia masih takut pada Rakha kalau saja tiba-tiba pria itu akan melakukan hal seperti itu lagi. Tapi, di sisi lain ia juga merasa malu, karena Rakha juga sudah melihat semua darinya.
Tania memberanikan diri keluar dari kamar. Ya! Ia memutuskan akan pergi dari rumah ini. Pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang ia harapkan. Ini tidak benar dan ia harus meninggalkannya walau ia akui gaji di sini sangatlah besar. Tapi, apalah artinya kalau ternyata di balik gaji besar itu ia harus menjual diri? Ibunya pasti sangat marah dan kecewa.
Baru saja kaki Tania selangkah keluar dari kamar, sosok bertubuh tinggi itu sudah berada di depannya dengan tatapan sama seperti sebelumnya, tajam menusuk.
"Mau kemana? Pergi?" Rakha menatap Tania penuh curiga.
"A--aku," Tania tertunduk. Jelas ia benci melihat sosok Rakha, orang yang hampir saja merenggut kesuciannya.
Tangan Rakha mengulurkan secarik kertas, entah apa maksudnya.
"Baca." Ucapnya dingin.
Ragu, di sertai tangan yang gemetar Tania mengambil kertas itu.
"Bisa baca, kan?" Tanya Rakha begitu merendahkan.
Tania mengangguk pelan, kemudian ia mulai membaca tiap kalimat yang bertuliskan dengan tinta hitam. Membaca kalimat awalnya saja ia sudah memahami, kalau kertas ini berisi perjanjian kontrak selama ia bekerja di sini.
Kalimat terakhir yang membuat mata Tania membulat sempurna,
Apabila saya melanggar kontrak dan mengakhiri masa kerja sebelum masa kontrak berakhir, maka saya bersedia berurusan dengan hukum atau denda sebesar 1 milyar.
Di sertai tanda tangan Tania lengkap dengan nama.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Tuan?!" Sergah Tania sangat tak percaya.
Tanpa menghiraukan Tania sedikitpun, Rakha berlalu dengan wajah dinginnya itu.
"Apa-apaan ini? Kenapa situasinya jadi rumit seperti ini? Kalau aku pergi, aku bisa saja di bawa ke Kantor polisi. Aku tidak mau semua itu terjadi." Tania masih mematung di tempat.
"Lalu bagaimana dengan Ibu? Aku tidak mungkin kembali ke Desa, aku tidak mau melibatkan Ibu dalam masalahku ini." Sambung Tania sangat kebingungan.
'Astaga!'
'Apa aku harus tetap bertahan? Bertahan dalam kondisi yang tidak aku inginkan. Ibarat berjalan di atas duri.'
*****
Pagi,
"Sampai kapan kau mau berdiri di sana?" Suara Rakha mengagetkan Tania yang sedang menyiram bunga. Saat ia tersadar, ia begitu terkejut karena air dari kran sudah menggenang di depannya. Ia melamun dalam waktu yang cukup lama hingga tak menyadari air sampai menggenang seperti itu. Secepat mungkin ia mematikan kran air.
"Maaf, Tuan." Ucap Tania tetap tak mau menatap majikannya itu.
"Sebentar lagi akan ada bi Ani, dia adalah pekerja paruh waktu yang akan membantumu."
"Iya, Tuan."
Rakha berlalu masuk ke dalam mobilnya yang berwarna putih. Dalam hati Tania berharap hari ini pria itu pulangnya lama, jadi Tania tak begitu was-was jika berada di rumah ini.
__ADS_1
Mendengar akan ada pekerja paruh waktu, Tania sedikit lega. Berarti ia tak akan sendirian lagi. Dan tak takut lagi jika hanya berduaan dengan Rakha dirumah ini. Tania bersyukur akan hal itu.
Sempat berpikir kalau hati Rakha akan sama seperti wajahnya yang tampan dan penuh karisma, Tapi ternyata Tania salah. Di balik ketampanan dan kesempurnaan diri Rakha , menyimpan perilaku yang sangat buruk.
Tania benar-benar tidak bisa melupakan kejadian tadi malam. Semakin ia ingat, semakin benci pula dirinya pada Rakha.
Tak lama kemudian datanglah seorang wanita paruh baya dari balik pagar. Tania menerka, kalau itu pasti bi Ani yang di sebutkan majikannya tadi.
"Permisi, Neng." Ucapnya ramah.
"Bi Ani, ya?" Tania sangat merasa senang dengan kedatangan bi Ani di sini.
"Iya, Neng. Maaf ya, agak kesiangan."
"Gak apa-apa, Bi. Ayo masuk!"
Mereka segera masuk, bi Ani langsung menuju ruang di samping dapur. Di mana di sana alat-alat kebersihan di simpan. Dari sapu, pel, apa saja yang berhubungan dengan kebersihan. Ia seperti sudah terbiasa melakukan semuanya di rumah ini.
"Maaf ya, Neng. Bibi ngerjain tugas Bibi dulu."
"Ah, iya, Bi."
Tania memperhatikan bi Ani, ia begitu cekatan melakukan semua pekerjaan. Saat Tania ingin membantu pun ia menolak secara halus dengan bilang kalau ini adalah rutinitas biasanya di rumah ini. Ini tentu membuat Tania heran.
'Kalau semuanya di kerjakan oleh Bi Ani, lalu apa tugasku?' Benak Tania.
__ADS_1
'Tuan Rakha ada-ada saja, apa aku memang di tugaskan untuk selalu melayaninya? Astaga!' Membayangkannya saja membuat Tania bergidik ngeri.