Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 21 Jaring-jaring (21+)


__ADS_3

Mata Tania tak bisa berkedip kala menatap isi kotak di hadapannya. Beberapa helai pakaian lengkap. Ada tas, dan juga sepatu. Rakha, di balik sikap cuek dan dinginnya ... ternyata ia juga mempunyai sisi baik.


Tania memindahkan semua pakaian di dalam kotak itu ke dalam lemari kecil yang ada di kamarnya. Ia menyusun rapi pakaian-pakaian itu dan juga baju-baju lamanya.


Ada satu baju terlihat aneh. Bukan baju menurut Tania, lebih tepatnya jaring-jaring. Ya, karena bentuknya seperti jaring ikan yang transparan. Berwarna merah muda. Tapi anehnya jaring ikan ini bentuknya seperti dress mini.


Mungkin saja penjahitnya belum selesai mengerjakan baju ini, lalu tak sengaja terkirim bersama baju-baju yang lain, Tania hanya bisa menebak. Lalu, ia sisihkan baju jaring-jaring itu dan ia letakan di lipatan baju paling bawah. Karena ia tak akan menggunakannya.


"Tania!" Panggil Rakha dari luar.


Tania mengernyitkan dahi. Setiap kali Rakha mengetuk pintu kamarnya, pria itu pasti ada niat tertentu. Tania memang harus selalu waspada dengan pria satu itu.


Tania membuka pintu perlahan. Seperti biasa, hanya kepalanya yang muncul dari balik pintu.


"Sedang apa?" Tanya Rakha, pandangannya tertuju ke dalam kamar gadis itu.


"Apa aku tak boleh mempunyai privasi, Tuan?" Tania balik bertanya.


"Privasi apa? Kau tak mempunyai privasi di rumah ini, karena setiap bagian atau apapun dari rumah ini aku berhak mengetahui."


Tania mendengus kasar.


"Kau sedang apa?" Rakha mengulangi pertanyaannya.


"Menata baju yang ada di dalam kotak tadi, Tuan."

__ADS_1


"Sudah kau coba?"


"Belum,"


"Apa ada baju berbeda di antaranya?"


"Maksud Tuan jaring-jaring?"


"Itu bukan jaring-jaring, Tania."


Tania mengernyitkan dahi.


"Apa kau tak tau?" Tanya Rakha heran.


Tania menggelengkan kepala, karena ia benar-benar tak tau.


Tania mendongak, terbelalak menatap Rakha. "Bagaimana mungkin aku memakai itu, Tuan?" Ia berusaha protes.


"Ikuti perintahku!"


"Ta--tapi, tapi itu sama sekali tak terlihat seperti baju, Tuan."


"Terserah apa katamu! Ucapanku adalah perintah."


Rakha berlalu, Tania hanya menatapnya dengan perasaan sangat kesal.

__ADS_1


Baru saja Tania berpikir Rakha adalah orang yang baik. Ternyata ... sekali pemaksa tetap saja pemaksa! Bisa-bisanya ia menyuruh Tania memakai baju transparan seperti itu.


*****


Malam,


Tania mengamati diri di depan cermin. Baju jaring-jaring berwarna merah muda ini masih menggantung di pundak, belum ia kenakan.


Tania merasa sangat malu jika aku harus mengenakan baju seperti ini, apalagi harus menemui Rakha di kamarnya.


Tania menghela nafas, jantungnya berdetak kencang. Ia tak berani. Nyalinya menciut. Ia benar-benar bingung harus bagaimana.


Ingin rasanya Tania pura-pura pingsan saja.


*****


Tania membuka pelan pintu kamar Rakha, perasaannya semakin tak karuan. Apalagi melihat Rakha yang memperhatikannya dari atas hingga ke bawah, dengan tatapan entahlah. Tania bisa melihat senyum sekilas pria itu.


Baju merah muda transparan itu sama sekali tak bisa menutupi rasa malunya.


Rakha duduk di bibir kasur tanpa memakai baju, hingga memamerkan dada bidangnya. Ia hanya menggenakan celana jeans pendek selutut. Dengan segelas minuman berwarna merah di tangannya.


Tania sangat tau apa yang akan terjadi malam ini. Pasrah, hanya itu yang ia bisa. Ia masih berusaha menutupi bagian tubuhnya walau semua itu sebenarnya sia-sia, karena Rakha yang tetap leluasa melihat dengan jelas semua bagian-bagian itu.


Tania tak ingin mengingat hal seperti ini, hal yang sudah sering Rakha lakukan padanya.

__ADS_1


'Aku sebenarnya,


Sangat membenci hal ini.'


__ADS_2