Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 42 - Cahaya Lilin


__ADS_3

"Tania!" Teriakan Rakha di iringi dengan dobrakan pintu.


Sesaat kemudian tubuh Tania sudah berada dalam dekapan pria itu. Rakha, bau parfumnya sangat khas sekali. Ah! Dalam situasi seperti ini bisa-bisanya Tania malah terlena oleh bau parfumnya. Tapi, sekarang Tania merasa lebih tenang di dalam dekapannya.


"Kau kenapa?" Tanya Rakha, ia membantu Tania untuk berdiri. Dalam kekakuan gadis itu mengikuti kemana Rakha menuntunnya.


***


Dengan di temani cahaya lilin, mereka berdua berdiam diri di ruang tamu. Sama-sama hening, membiarkan suara hujan seperti menusuk telinga.


"Kau kenapa?"


"Em?" Tania sedikit menoleh dan ia menjadi gugup melihat wajah Tuannya itu.


"Kau seperti sangat ketakutan."


"Aku hanya teringat waktu di Desa, Tuan. kala hujan turun di sertai angin, aku dan Ibu pasti sangat khawatir. Takut, kalau seandainya rumah kami akan roboh."


Rakha menyunggingkan bibir. Ia seperti prihatin mendengar cerita Tania barusan.


"Mungkin setiap orang mempunyai rasa trauma." Ucap pria itu menatap langit-langit.


"Tuan juga?" Tanya Tania tiba-tiba.


Rakha hening. Tania tak tau apa yang sedang ia pikirkan. Tapi, dapat di lihat matanya sedikit berkaca-kaca di bawah pantulan cahaya lilin.


"Oh, ya. Kenapa Tuan tiba-tiba bisa ke kamar ku?"


Mendengar pertanyaan Tania Rakha gelagapan, ia menggaruk tengkuknya.


"Itu, tadi sekalian aku mau jalan ke ruang tamu."


"Oh,"

__ADS_1


"Memangnya kenapa? Tidak boleh? Kan itu hak ku mau kemana saja."


"Iya, Tuan. Ah! Gitu aja ngegas."


"Tapi untung saja ada aku, kan? Kalau tidak, kau pasti akan mati ketakutan." Jawab Rakha disertai senyum ala meremehkan.


"Hidup dan mati Tuhan yang menentukan." Lagi, Tania berhasil membuat Rakha terdiam.


Mereka kembali hening untuk beberapa saat.


*


Tania terus memperhatikan lilin yang ada di depannya. Lilin itu akan semakin habis karena menerangi mereka berdua dari kegelapan malam ini.


Lilin adalah contoh nyata 'Pengorbanan'.


"Ku lihat kau semakin hari semakin pintar, Tania. Itu yang aku suka. Kau begitu cepat belajar."


"Apa Tuan bermaksud memujiku?"


"Tidak." Jawab Tania, untung saja sekarang cahaya di sana remang-remang, jadi Rakha tak mungkin bisa melihat semburat merah di wajahnya.


*


"Kenapa Tuan tak menikah?" Tanya Tania lagi. Suasana ini membuat obrolan mereka jadi ngelantur kemana-mana.


Rakha menatap Tania sangat lama. Gadis itu jadi salah tingkah. Takut, kalau-kalau tuannya itu akan marah.


"Aku belum kepikiran ke arah sana."


"Bukankah dengan memiliki istri tentu lebih baik. Ada yang selalu menemani Tuan."


"Apa yang kau sebutkan tadi bisa aku tangani dengan uang, Tania."

__ADS_1


"Apa Tuan tak takut dosa?"


"Kenapa kau malah menggurui ku?"


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya memberi saran."


"Aku tidak butuh saran mu, Tania. Kau harus tau batasan dalam berbicara."


"Maaf, Tuan."


"Sudahlah."


Rakha beranjak, meninggalkan Tania sendirian.


Semakin hening.


Suara guntur bersaut-sautan di luar sana. Tania hanya bisa meringkuk dan menutup telinga. Tidak mungkin ia membuntuti Rakha yang pasti pergi ke kamarnya.


Guntur,


Suaranya begitu memekakkan telinga. Tania semakin metutup telinganya rapat-rapat. Hingga akhirnya ia refleks menjerit, karena suara guntur yang menggelegar terasa hingga ke dalam dada.


Lilin yang tadinya menyala kini sudah padam, di ikuti suara hujan yang semakin deras. Tania semakin meringkuk dalam kegelapan.


"Kemarilah," suara berat Rakha dapat Tania dengar, serta sentuhan hangat tangan pria itu bisa ia rasakan menyentuh lengannya.


Rakha menuntun Tania berjalan. Gadis itu tertatih-tatih dalam kegelapan memegang lengan tuannya sangat erat.


hingga akhirnya Tania menyadari, sekarang tubuhnya sudah terbaring di atas kasur.


"Hah?! Apa ini?!" Mata Tania membulat sempurna.


"Jangan banyak bicara, Tania. Tidurlah. Saat kau terbangun nanti, mungkin hujannya akan berhenti." Ucap Rakha.

__ADS_1


Dapat Tania rasakan tangan pria itu menindih perutnya, dan nafasnya yang menghembus di leher.


"Pengen teriak, gak bisa!!!"


__ADS_2