
Setelah perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit. Baru kali ini Tania dan juga bu Rohimah menginjakkan kaki di sini, karena biasanya, mereka hanya berobat di Puskesmas terdekat. Begitu juga kebayakan warga Desa, yang sangat jarang pergi ke Rumah Sakit. Apalagi jaraknya yang lumayan.
***
Tania dan bu Rohimah menunggu di depan pintu ruangan bu Ayu di rawat. Rakha tak ikut, setelah mengantar bu Ayu, ia lebih memilih menunggu di mobil. Tapi entahlah, atau mungkin saja ia sudah pulang, karena sudah tau Tania tak akan kembali ke rumahnya.
"Sabar, Nia. Berdoa saja semoga Ibu mu tidak apa-apa." Bu Rohimah menenangkan.
"Iya, Bu lek." Jawab Tania. Tentu saja ia tak akan bisa tenang sebelum ia mendapat jawaban kalau Ibunya baik-baik saja.
Tak lama kemudian seorang Dokter keluar dari ruangan. Tania bergegas menghampiri ingin mengetahui keadaan Ibunya.
"Bagaimana keadaan Ibuku, Dokter?" Tania langsung saja menanyakan, berharap akan mendapat jawaban yang melegakan.
"Ibu Adik terkena tumor di otaknya. Dan harus segera di operasi." Jawaban Dokter yang membuat kaki Tania seketika lemas dan tak kuat berdiri. Ia terduduk di kursi tunggu, dengan bu Rohimah yang berusaha memberinya kekuatan.
Tania menangis, dadanya terasa sesak. "Kenapa tak aku saja yang menanggung semua ini? Kenapa harus Ibuku, Tuhan?" Ucap Tania marah pada takdir.
"Tenanglah, berdoa saja semoga Ibu Adik bisa sembuh. Kita bisa melakukan tindakan operasi." Dokter menenangkan Tania.
"Kalau Adik bersedia, Adik bisa langsung mengurus administrasinya dan menentukan jadwal operasi." Lanjut Dokter dan kemudian ia permisi dari hadapan Tania dan juga bu Rohimah.
Bu Rohimah ikut menangis. Ia memeluk Tania, mengusap punggung gadis itu. "Sabar, Nia."
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa membayar biaya untuk operasi Ibu, Bu lek? Sedangkan untuk makan saja kami sudah kesusahan. Lalu apa aku juga harus membiarkan Ibuku kesakitan?" Tangis Tania semakin pecah.
"Ambil harta yang Bu lek punya, Nia. Walau tak cukup tapi tak apa untuk tambahan."
Ini titik terapuh dalam hidup Tania. Ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa.
"Bu lek tolong jagain Ibu," Tania bangkit dari tempat duduknya.
"Kamu mau kemana, Nia? Di luar lagi hujan deras."
"Aku mau menemui Tuan Rakha, Bu lek. Aku tau, hanya dia yang bisa menolongku."
Tania segera bergegas, meninggalkan bu Rohimah menuju ke parkiran. Ia berharap, Semoga saja majikannya itu masih berada di parkiran dan belum pulang. Tania tak perduli lagi dengan dirinya, yang ia butuhkan saat ini adalah uang untuk operasi Ibunya.
"Tuan!" Tania menggedor kaca mobil. Dapat ia lihat dari balik jendela Rakha keheranan menatapnya.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Kau bisa sakit!" Teriak Rakha membuka sedikit kaca mobilnya.
Tania tak peduli walau saat ini tubuhnya menggigil kedinginan, ia masih tetap pada pendiriannya.
"Pakai ini!" Teriak Rakha menjulurkan payung padanya. Tania menerimanya, walau sebenarnya sudah tak di perlukan karena tubuhnya yang sudah basah kuyup.
Rakha membuka pintu mobil, ia kemudian turun ikut berdiri di bawah payung yang sudah Tania bentangkan. Lalu ia mengambil payung itu, dan menuntun Tania berjalan mengikuti langkahnya.
__ADS_1
Mereka berteduh tak jauh dari Pos Satpam
Tempat yang sempit membuat mereka sekarang sangat dekat, nyaris tak berjarak.
"Kenapa kau malah hujan-hujanan? Seperti anak kecil saja!" Teriak Rakha. Tania hanya tertunduk.
"Tuan ..." Lirih Tania, mulutnya terasa berat untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.
"Katakan saja,"
"Aku bersedia melayani mu, Tuan. Tapi aku, aku ingin Tuan membayar biaya operasi Ibuku." Mata Tania mulai berkaca-kaca. Ia berpikir, sekarang ia tak beda dengan seorang Pelacur, yang menjual diri demi mendapatkan uang.
Rakha hening. Ia mungkin tak percaya dengan apa yang sudah Tania ucapkan. Tapi Rakha menyadari, Tania melakukan semua ini tentu dengan alasan. Tania tetap tertunduk. Tertunduk malu. Ia merasa sudah tak punya harga diri.
Cukup lama mereka hening.
"Baiklah," ucap Rakha kemudian.
Tangis Tania tumpah. Ia tak tau apa ini air mata bahagia atau air mata kesedihan.
"Terimakasih, Tuan." Ucap Tania dengan bibir yang gemetar. Di dalam dada terasa semakin sesak, tapi ia tak punya pilihan lain dalam situasi mendesak seperti ini.
__ADS_1
*Ilustrasi*