Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 6 - Bukan Suka


__ADS_3

"Maaf, bi Ani. Bibi sudah lama kah bekerja di sini?" Tania memberanikan diri bertanya pada bi Ani yang sedang menggoreng ayam. Sedangkan ia membantu mencucikan sayuran.


"Iya, Neng. Sudah lima tahun." Jawab bi Ani, dengan tangannya yang tak bisa diam tetap melakukan aktivitasnya.


"Berarti ... Bibi tau banyak dong?" Ucapan Tania terhenti, memastikan Rakha benar-benar tidak ada di sana. Takut saja, kalau tiba-tiba pria itu datang dan mengetahui dirinya yang sedang mengkepoi.


"Tau apa, Neng?"


"Tentang tuan Rakha?" Lanjut Tania.


Bi Ani menatap Tania lekat. Ia seperti merasa kasihan. Tangannya lantas memegang tangan Tania lembut.


"Bibi tau Neng ini orang baik." Ucap bi Ani semakin membuat penasaran.


"Dulu, tuan Rakha itu pria baik-baik. Sejak kejadian lima tahun yang lalu ia berubah." Bi Ani mulai menceritakan.


"Memangnya tuan Rakha kenapa, Bi?"


Bi Ani seketika tertunduk, ia mendelik seolah memberitahu ada yang datang. Tania kebingungan, dan tak mengerti. Akh! Kadang otak Tania agak lola.


"Sedang apa?" Benar saja, seseorang datang dan suaranya sangat Tania kenali. Rakha.


Rakha sudah berdiri di belakang Tania, membuat gadis itu gelagapan. Pria itu benar-benar seperti hantu, tiba-tiba pergi dan tiba-tiba datang.


"Bi Ani, kau boleh pulang." Ucap Rakha.


"Baik, Tuan. Semuanya sudah saya selesaikan."


"Ya."

__ADS_1


Bi Ani berlalu, dalam hati ingin rasanya Tania ikut bersama bi Ani, tapi kakinya terasa berat serta mulutnya seolah kaku.


Tania sangat yakin, bi Ani mengetahui segala akitivitas di rumah ini. Termasuk tentang Asisten Plus plus seperti dirinya.


"Kenapa Tuan begitu cepat pulang?" Ucap Tania spontan.


"Apa maksudmu? Kau tak suka jika aku pulang?"


"Bukan begitu, Tuan." Tania meremas jari-jarinya, perasaan takut mulai menguasai dirinya.


"Siapkan makan ku, aku sudah lapar." Rakha segera duduk di kursi makan. Dengan sigap Tania menyiapkan semuanya. Menyiapkan apa yang sudah ia dan bi Ani masak tadi, dan menghidangkannya pada Rakha.


Tania hanya berdiri dan menatap Rakha dari kejauhan. Kalau sedang tidak marah-marah, pria itu benar-benar tampan. Wajahnya teduh dan penuh pesona.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" Bentakan Rakha membuyarkan lamunan Tania.


Gadis itu hanya bisa membenak. 'Astaga! Bisa-bisanya aku tertangkap basah sedang memperhatikannya.' Hawa panas terasa di wajah Tania karena menahan rasa malu. Sedangkan, Rakha tetap melanjutkan akitivitas makannya.


"Tania!" Panggil Rakha dari ruang kerja. Sedangkan Tania masih sibuk membersihkan lantai di depan ruang kerja itu.


Tania bergegas menemui Rakha, walau sebenarnya rasa takut itu tak pernah hilang dari dirinya, tapi ia tetap berusaha tenang dan berpikir positif.


"Ada apa, Tuan?" Tanya Tania, ia berdiri di tengah pintu.


"Masuklah." Perintah Rakha, yang membuat nyali Tania menciut.


Perlahan ... Tania mulai melangkahkan kaki sembari menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Ia berdiri tak jauh dari Rakha duduk.


Rakha sedang fokus pada komputernya. Entah apa yang ia lakukan, Tania sama sekali tak paham. Angka-angka di komputer membuat kepala Tania bertambah pusing.

__ADS_1


Mereka masih hening, mata Tania tak bisa fokus bergerak ke sekeliling ruang. Sesekali ia melihat tirai jendela yang bergoyang karena tertiup angin.


Tak sia-sia Tania membersihkan ruangan ini kemarin, jauh berbeda dari sebelumnya. Ruang ini sekarang lebih enak di pandang. Udara di sini juga tidak pengap lagi. Buku-buku dan berkas-berkas tersusun rapi di rak, sofa kecil yang sebelumnya pudar tertutup debu kini kembali terlihat warnanya.


Rakha mematikan komputernya. Memutar kursi kerja hingga kini mereka saling berhadapan. Tatapan Rakha begitu aneh membuat Tania risih dan tak enak hati.


"Cobalah untuk lebih mendekat." Ucap Rakha dengan nada memerintah.


Tania tak bergeming, suasana yang hening membuat detak jantungnya pasti terdengar oleh Rakha. Rakha mulai bangkit dari tempat duduknya, tangannya mulai bergerak menelusuri wajah Tania.


Jantung Tania semakin bergemuruh, ini bukanlah debaran suka, tapi debaran ketakutan. Ia hanya bisa menahan rasa, dan memejamkan mata dengan tubuh yang mulai gemetar.


"Aku menginginkanmu." Bisik Rakha. Mulut Tania seakan terkunci, dan tubuhnya seakan tak bisa bergerak.


Hingga perlahan, ia bisa merasakan bibir Rakha yang menyentuh bibirnya.


'Tidak! Ini tidak benar!'


"Tuan!" Tania mendorong Rakha hingga pria itu terjatuh di kursi kerjanya. Tatapan tajam itu kembali menatap Tania.


"Maaf, Tuan." Tania bingung harus bagaimana. Dalam kepanikan ia tetap membantu Rakha untuk berdiri. Tapi Rakha malah menepis tangannya.


"Pergilah!!!" Bentak Rakha kasar.


"Tuan..."


"Aku bilang pergi!!!"


Tania berlalu, dengan air mata yang berlinang.

__ADS_1


'Sudah ku katakan berulang-ulang, aku tak siap dengan semua tugas itu, Tuan! ' Tania hanya bisa membenak dengan air mata yang semakin tumpah.


__ADS_2