
"Nak!" Bu Ayu meraih Tania, saat anaknya itu sudah berada di depan pintu rumah bu Rohimah. Tania memeluk Ibunya erat, satu bulan tak bertemu membuat ia sangat merindukan sang ibu.
"Gimana kabar Ibu?" Tanya Tania seraya mencium punggung tangan ibunya.
"Ibu sehat. Sekarang sudah tak ada lagi pusing-pusing di kepala, dan Ibu juga sudah bisa berjalan normal kembali setelah melewati masa terapi." Jawab bu Ayu.
"Syukurlah, Bu. Tania senang kalau Ibu sudah sehat." Tania tersenyum lega.
Kemudian, Tania bergantian mencium punggung tangan bu Rohimah.
"Bu lek gimana kabarnya?"
"Baik, Nak."
Mereka masuk ke dalam rumah. Tania mengeluarkan oleh-oleh untuk ibunya dan juga bu Rohimah, berupa berbagai macam makanan dan juga beberapa helai baju.
Lalu, Tania mengeluarkan amplop dari Rakha, dan menyerahkannya pada bu Ayu.
"Ini gaji bonus Tania, Bu. Ibu ambil saja semuanya untuk keperluan Ibu dan juga Bu lek." Ucap Tania sembari meletakkan amplop itu ke tangan Ibunya
__ADS_1
Bu Ayu seperti sungkan dan terlihat menolak. Matanya berkaca-kaca menatap anaknya. "Tak usah, Nak. Kamu yang capek kerja. Dengan kamu pulang menemui Ibu saja Ibu sudah senang. Pakai saja uang ini untuk kebutuhan kamu."
"Tak apa. Ibu ambil saja. Kan Tania kerja juga demi Ibu. Ibu bisa gunakan uangnya untuk apa saja. Bu lek juga jangan sungkan."
Mendengar ucapan Tania, bu Ayu lalu menerima uang dari anaknya itu.
"Ibu akan tabung untuk memperbaiki rumah, biar kita dan juga Bu lek Rohimah bisa tinggal di rumah yang lebih layak. Kalau panas tak kepanasan karena cahaya yang masuk dari lobang-lobang atap, dan kalau hujan juga tak kebocoran."
"Iya, Bu. Jangan lupa juga untuk membeli semua kebutuhan Ibu dan juga Bu lek."
"Terimakasih banyak, Tania." Ucap bu Rohimah. Beliau juga terlihat berkaca-kaca.
Tania senang sekarang. Sekarang ibunya sudah terlihat sangat sehat, dan juga ia yang sudah mempunyai penghasilan yang lebih dari cukup. Perlahan mereka bisa memperbaiki rumah yang sudah mulai rapuh itu. Dan juga bisa memenuhi kebutuhan sehari-sehari.
'Hm, aku jadi kepikiran pria dingin itu. Sedang apa ia sekarang? Apa ia sudah makan?' Benak Tania.
*
Tania melihat jam yang tergantung di dinding. Sudah menunjukan pukul 3 sore.
__ADS_1
Tania bergegas membersihkan diri dan kemudian beristirahat sejenak untuk mengusir kepenatan selama di perjalanan.
******
Malam hari,
Khas suasana di Pedesaan. Sangat tenang, bahkan suara jangkrik terdengar sangat jelas. Tania merindukan suasana seperti ini. Rasanya begitu damai.
Rumah bu rohimah menggunakan lampu bohlam berwarna kuning, hingga menimbulkan cahaya temaram di rumah ini. Untung saja listrik sudah masuk ke Desa, jadi tak perlu lagi memakai lampu pelita seperti saat Tania masih kecil dulu.
***
Suasana malam yang sudah jarang terjadi di perkotaan.
Tania, bu Ayu dan bu Rohimah duduk di ruang tengah sambil menikmati acara dari televisi. Televisi kecil yang hanya berukuran 14in itu menjadi hiburan terbaik untuk mereka saat sedang santai seperti ini.
Bahkan beberapa kali Tania melihat bu Rohimah ngomel-ngomel pada acara sinetron yang sedang beliau tonton. Tania hanya menahan tawa memperhatikan.
"Aduh! Bu lek jadi ikutan baper." Tania tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Iya abis Buk lek Kesel! Kenapa bodoh sekali, kok mau-maunya dia balik sama lakinya yang tukang selingkuh itu. Kayak gak ada lelaki lain saja!" Bu Rohimah masih terlihat ngomel-ngomel.
Tania dan bu Ayu saling pandang menahan tawa. Berada di dekat bu Rohimah memang menyenangkan. Tingkahnya yang selalu saja membuat orang tertawa. Ah, panjang umur selalu bu Rohimah pecinta sinetron.