Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 8 - Tak Sadar


__ADS_3

"Tania! Buka pintunya!" Seruan Rakha mengagetkan Tania. Gadis itu bertanya-tanya, dari mana saja majikannya itu, jam segini baru pulang? Tania memperhatikan jam dinding yang hampir menunjukan pukul 12 malam.


Perlahan Tania membukakan pintu, tubuh Rakha langsung terjatuh menimpanya, hal ini membuat Tania terkejut. Di tambah ia harus menahan tubuh Rakha yang berat.


"Tuan," Tania berusaha membopong tubuh Rakha sekuat tenaga.


Tania membawa Rakha ke sofa di ruang tamu. Ia tak akan kuat jika harus membawa pria itu ke lantai atas, tempat kamarnya berada.


Perlahan Tania membaringkan tubuh Rakha, dan membuka beberapa kancing kemeja yang pria itu gunakan, agar lebih leluasa untuk bernafas.


Tiba-tiba tangan Rakha mencengkram tangan Tania. Lagi-lagi gadis itu terkejut. Cengkraman yang sangat kuat, hingga sulit Tania lepaskan.


"Tania," lirih Rakha masih dalam keadaan setengah sadar. Tania tau pria ini sedang mabuk, karena ia mencium bau minuman dari mulutnya.


"Tetaplah di sini, Tania." Sambung Rakha. Untuk kali ini ia berucap begitu lembut, tak seperti biasanya yang selalu membentak dan menusuk hati.


Tiba-tiba saja Rakha bangkit lalu memeluk erat tubuh Tania.


Tania terbelalak, 'Astaga! Apalagi ini?!'


"Jangan pergi," ucapan Rakha yang sama sekali tak di pahami oleh Tania. Apa pria ini masih sadar? atau ini hanyalah efek dari mabuknya? Akh! Yang jelas Tania tak mau larut dalam suasana ini.


"Tuan, lepaskan aku." Tania mencoba melepaskan diri. Tapi, bukannya melepaskan, Rakha semakin memeluk erat, membuat gadis itu semakin kesulitan mengatur nafas.


"Aku bilang jangan pergi." Lirih Rakha lagi.

__ADS_1


Tania menarik nafas. "Tenang ... tenang ... tenang."


"Berbaringlah, Tuan. Aku tak akan kemana-kemana. Aku di sini bersama dirimu."


Mendengar ucapan Tania, Rakha mulai luluh. Akhirnya ia kembali berbaring di sofa.


Tania terus memperhatikan, wajah Rakha terlihat teduh saat sedang tidur. Perkataannya juga lembut kalau sedang tak marah. Hal ini membuat Tania berandai-andai. Andai saja Rakha semanis ini ... bekerja tanpa di gaji pun ia pasti mau.


Tania menyunggingkan senyum.


Baru saja Tania hendak beranjak, lagi-lagi tangan Rakha menarik lengannya. Bahkan sekarang, ia berada tepat di atas tubuh Rakha. Rasanya, nano-nano.


Tania hanya bisa diam melotot, mulutnya seakan terkunci. Ingin teriak tapi tak bisa. Malah sekarang, Rakha memeluknya semakin erat seolah tak membiarkan ia beranjak pergi.


"Tetaplah seperti ini, Tania." Lirih Rakha seolah semua ini adalah hal biasa di lakukan. Tapi tidak dengan Tania. Tania adalah wanita dan Rakha adalah lelaki. Lalu apa posisi ini? Jantung Tania seakan mau copot saat ini juga.


Pagi,


"Astaga!" Tania terbangun.


Ternyata semua kejadian tadi malam bukanlah mimpi. Tania sekarang masih berada di pelukan Rakha.


'Apa aku masih bisa di sebut seorang gadis? Secara, aku sudah tidur bersama seorang pria.' Tania masih tak habis pikir.


Tania benar-benar panik. Ingin teriak, tapi dari semalam tak bisa ia lakukan. Ingin beranjak tapi pelukan Rakha masih sangat erat, bahkan sangat sulit di lepaskan.

__ADS_1


'Apa jadinya kalau dia terbangun nanti? Dan pasti dia sudah dalam keadaan sepenuhnya sadar.'


Tania tetap memberanikan diri membangunkan Rakha sambil tetap berusaha melepaskan pelukannya.


"Tuan, bangunlah."


Mata Rakha perlahan terbuka. Ia memicingkan mata karena keadaan yang sudah terang benderang. Wajah Rakha terlihat bingung. Ia tak mengingat semuanya.


"Tania apa yang kau lakukan?" Rakha langsung melotot memperhatikan Tania, dan ia segera melepas pelukannya.


Tania bangkit, meregangkan otot-otot. Tidur dalam posisi seperti itu membuat tubuhnya menjadi ngilu, dan pegel. Sedangkan Rakha masih kebingungan, dengan menatap aneh pada gadis itu.


"Apa yang sudah kau lakukan, Tania?" Rakha mengulangi pertanyaannya.


"Hah? Aku tidak ngapa-ngapain, Tuan." Tania membela diri, ia merasa seperti tertuduh.


"Kau ini, sok polos saat aku dalam keadaan sadar. Dan sekarang kau malah seperti itu saat aku sedang tak sadar."


"Heh? Apa maksud, Tuan?"


"Kau pasti telah melakukan sesuatu, Tania!"


"Tidak, Tuan. Tuan sendiri yang menyuruhku tak pergi dan memelukku begitu erat hingga aku kesulitan melepaskan diri."


Rakha terdiam. Ia berusaha mengingat semua kejadian tadi malam.

__ADS_1


'Huh! Apa maksudnya? Apa ia mengira aku telah melakukan pelecehan padanya. Kan lucu, seorang perempuan melakukan pelecehan kepada laki-laki. Ada-ada saja!'


Rakha semakin bingung, terlihat dari raut wajahnya. Ia lantas beranjak dengan tatapan tajam ke arah Tania. Tatapan penuh curiga.


__ADS_2