
Pagi-pagi sekali seseorang datang. Seroang wanita yang terlihat seperti dokter. Ia memakai blazer putih lengkap membawa peralatannya yang sekarang masuk ke kamar Tania bersama dengan Rakha.
"Silahkan berbaring dulu, ya, Bu." ucap dokter itu membuat Tania sedikit melotot karena panggilan 'ibu' itu. Rakha pun demikian.
Dokter itu mulai memeriksa Tania, membalut lengannya dengan alat yang entah apa namanya Tania tak tau.
"Tensinya agak rendah. Perbanyak istirahat, cukupkan tidur dan makannya ya, Bu." Ucap dokter itu lembut.
Tania hanya membalas dengan senyum kecil.
"Apa ada keluhan mual-mual?" Tanya dokter itu, sembari memeriksa perut Tania.
"Tidak ada, Dokter. Cuma sering pusing saja."
"Terakhir haid?"
"Sudah telat satu mingguan."
"Oh, oke." Dokter itu mengangguk, kemudian ia memberi Tania sebuah alat lalu menjelaskan cara penggunaannya.
Di rasa Tania sudah mengerti, dokter itu lantas mempersilahkan Tania ke kamar mandi untuk melakukan tes urin dengan alat yang sudah ia berikan.
__ADS_1
Dengan ragu-ragu Tania berjalan ke kamar mandi. Sesekali ia menatap Rakha yang wajahnya terlihat sangat tegang.
*
Beberapa menit berlalu,
Tania keluar dari kamar mandi membawa alat yang sudah ia gunakan, dan memberikan hasilnya pada sang dokter.
Dokter itu terlihat mengangguk-angguk. Lalu mencatat, entahlah.
Rupanya Tania tak melihat hasil tes urin tadi. Sepolos-polosnya ia, ia tau membaca hasil test pack. Garis dua berarti hamil, dan garis satu bearti tak hamil. Ia ingin menunggu dokter saja yang membacakan hasilnya, ia tak berani jika harus melihat hasilnya sendirian.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" Tanya Rakha pada sang dokter. Ia lebih mendekat setelah tadi berdiri agak jauhan.
Dokter itu tersenyum. Senyumnya itu menambah ketegangan saja.
"Maaf, Pak. Untuk saat ini istri Bapak belum hamil." Ucap dokter itu pada Rakha. Rakha dan Tania sempat salting saat dokter itu menyebutkan kata 'istri'.
Rakha melirik Tania, wajahnya terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
"Telat datang bulan bukan berarti langsung hamil. Bisa jadi karena hormon atau terlalu kecapean. Dan setres juga bisa menjadi faktornya." Jelas sang dokter melihat Tania dan Rakha bergantian.
__ADS_1
Dalam hati Tania membenak, 'Dokter tau aja, kalau aku setres berada di sini. Tekanan batin rasanya. Tapi aku sedikit lega, setidaknya aku belum menjadi Ibu sebelum menikah.'
"Iya, Dokter. Terimakasih." Ucap Rakha.
"Istirahat yang banyak, ya, Bu. Dan terus coba lagi." Ucap dokter itu di sertai tawa kecilnya. Tania hanya tersenyum getir.
Tak lama kemudian dokter itu pulang, setelah Rakha membayarnya. Tania melihat Rakha memberikan begitu banyak lembaran uang berwarna merah. Tentu saja, itu karena Ia mendatangkan Dokter itu ke rumah.
*****
"Kau pikir aku mau mendapatkan anak darimu, Tania?" Teriak Rakha marah-marah.
Tania hanya diam.
"Selama ini tak ada pelayan ku yang hamil itu karena aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku tidak sudi jika harus menikahi pelayan-pelayan seperti kalian!"
"Itulah kenapa aku bisa seperti ini, Tuan. Ini semua salah Tuan! Sikap Tuan yang membuatku tekanan batin. Dan Tuan ... Tuan ibarat manusia yang tidak ber Tuhan. Tuan sama sekali tak takut akan dosa! Memperlakukanku seenaknya saja. Aku juga beruntung jika tak mengandung anak Tuan!" Balas Tania penuh amarah, tentu saja air matanya luruh membasahi pipi.
Rakha menatap Tania sangat lama. Apa ia hendak meluapkan emosinya? Atau akan melayangkan pukulan untuk Tania yang sudah berani menjawab ucapanya?
Ternyata tidak. Rakha lebih memilih keluar dari kamar itu. Setelah membanting pintu, terdengar Rakha berteriak sangat keras di luar sana.
__ADS_1