
Dua hari berlalu sejak kepergian Rakha.
Tania sekarang sedang menyapu halaman karena banyak sekali daun-daun kering berguguran berasal dari pohon yang ada di depan rumah.
Semalam hujan lumayan deras, wajar saja jika sekarang halaman nampak kotor, belum lagi sampah-sampah yang terbawa angin datang kemari.
Tania nyaris saja tak tidur akibat hujan yang di sertai petir tadi malam, belum lagi rasa takut yang ia rasakan. Ia hanya bisa menahan rasa dan terdiam di bawah selimut. Sekarang ia harus bekerja ekstra untuk mengurus sampah-sampah yang berserakan.
Sesekali Tania melirik gerbang. Tak bisa di bohongi dalam hati ia sedikit mengharapkan Rakha segera pulang. Bukan rindu, tapi lebih tepatnya sepi.
*
Suara klakson mobil terdengar dari balik gerbang. Itu adalah Rakha. Bergegas Tania menggeser gerbang untuk membukakan.
Mobil berjalan pelan melewati Tania, ia kembali menggeser gerbang untuk menutupnya.
*
Sosok lelaki tinggi gagah itu kemudian muncul dari dalam mobil. Ya memang dan Tania pun mengakui, kalau Rakha itu ... benar-benar tampan.
Saat Rakha berada di hadapan Tania, gadis itu seakan tak bisa berkedip. Betapa sempurna Tuhan menciptakan keindahan wajah Rakha.
'Sayang sekali, wajahnya itu tak seindah akhlaknya!' Celetuk Tania di dalam hati.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Tania?" Tanya Rakha yang sudah berada di hadapan Tania.
'Sial! Kenapa aku malah terciduk seperti ini?'
Tania segera mungkin mengalihkan pandangan, tentu saja salting itu tak dapat ia sembunyikan.
__ADS_1
"Ah! Ti--tidak, Tuan."
"Apa kau merindukanku?"
Tania mendongak mendengar ucapan Rakha. Seketika ia memicingkan alis. Sementara Rakha, pria itu malah senyum sinis.
"Rindu? Aku malah senang Tuan pergi," ucap Tania tak kalah sinisnya.
"Pelayan macam apa kau ini? Berani sekali berbicara seperti itu kepada majikan."
"Tapi, yang aku katakan merupakan kejujuran, Tuan. Apa Tuan tak menginginkan mempunyai pelayan yang jujur?"
Rakha menatap Tania sebentar. Lalu kemudian ia berlalu sambil menggeleng kepala. Kali ini Tania merasa menang berdebat dengan majikannya itu.
*****
"Tidak ada,"
"Kau bermalas-malasan?"
"Maksudku, tidak ada yang berbeda, Tuan. Sama seperti hari-hariku biasanya."
"Ngapain?"
Tania mendengus. Apa tuannya itu sengaja ingin mengerjainya dengan pertanyaannya seperti itu? Padahal ia sudah tau semua tugas di rumah ini.
"Berberes, bersih-bersih. Aku juga lebih membersihkan lagi ruang kerja Tuan."
"Apa kau tak takut berada di rumah sendirian?"
__ADS_1
"Sejauh ini, tidak ada. Tetap saja, aku lebih takut pada Tuan kalau sedang mabuk."
Rakha menyunggingkan senyum kecil mendengar jawaban Tania.
"Kau boleh pergi, Tania."
Tania berasa merdeka mendengar ucapan Rakha yang memang itu kalimat yang ia tunggu dari tadi.
"Aku ingin istirahat malam ini, jangan mengganggu ku." Sambung Rakha seraya beranjak dari meja makan.
"Iya, Tuan."
'Ya! Beristirahat lah. Kalau perlu untuk selamanya!!!' Batin Tania berteriak dan tertawa jahat. Sebelum ia menikmati waktu istirahat, ia membereskan dulu sisa makan malam Rakha tadi.
*****
Malam ini terasa sunyi, dingin.
Malam begitu gelap mencengkram. Semilir angin membuat tirai di jendela kamar bergerak-gerak.
Segera Tania menutup jendela, karena hawa dingin mulai menusuk kulit. Sepertinya malam ini akan turun hujan yang sangat deras sama seperti tadi malam.
Baru saja Tania mengunci jendela, tiba-tiba suasana menjadi gelap gulita di sertai petir yang menyambar-nyambar.
Tania terduduk seraya menutup telinga. Sedangkan di luar sana mulai terdengar suara hujan yang di sertai angin. Hujan yang lebih deras dari tadi malam.
Dada Tania terasa sesak. Ia takut dengan keadaan dan suasana seperti ini. Ia tak suka gelap.
Seketika kenangan bersama ibunya saat di Desa teringat. Kalau hujan di sertai angin seperti ini, ia dan ibunya akan segera mengungsi, berlari menerobos hujan dan angin serta petir yang terus menggelegar menuju rumah bu Rohimah yang lebih kokoh dari rumah mereka. Itu sering kali mereka lakukan ketika hujan di sertai angin, karena takut kalau-kalau rumah mereka akan roboh bersama hujan dan angin yang datang bersamaan.
__ADS_1