Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 3 - Sangat Mebutuhkan


__ADS_3

"Tuan," pagi ini Tania memberanikan diri berbicara pada Rakha sebelum ia berangkat kerja. Ya, mungkin saja pria itu akan berangkat kerja. Kalau bukan kerja, mau kemana lagi ia pagi-pagi seperti ini?


"Ada apa?" Rakha menatap heran.


"Apa aku boleh izin sebentar?"


"Belum juga satu hari bekerja, kau sudah berani meminta izin?" Rakha membanting pintu mobil yang sempat ia buka tadi.


"Maaf, Tuan. Tapi aku harus mengirimkan uang ini pada Ibuku." Tania memelas, mengharapkan iba dari Rakha. Rakha menatapnya tajam.


"Ibu?"


"Iya, Tuan. Ibuku sedang sakit di Desa. Aku harus mengirimkan uang ini untuk berobat Ibuku."


"Sekarang kau memelas dan ingin mendapatkan iba dariku dengan menjual nama Ibumu?"


"Tidak begitu, Tuan."


"Kenapa kau tak pulang saja menemui Ibumu?"


"Tapi aku memerlukan pekerjaan ini, Tuan."


"Kenapa kau malah merepotkan ku? Aku tak ingin mendapat pegawai yang penuh dengan alasan."


"Tapi aku tidak bohong, Tuan. Aku mohon, setelah ini aku tak akan meminta izin lagi. Aku hanya sebentar."


"Sekarang kau malah mengaturku?"


"Tuan..."


Tania menatap Rakha dengan mata yang berkaca-kaca. Berharap Rakha akan luluh, karena ia memang berkata jujur dan tak ada dusta di sana.


Rakha masih hening.


"Mana nomor rekeningnya?" Ucapnya kemudian. Tania mengernyitkan dahi mendengar ucapan Rakha. Ia seperti lega.


"Malah ngelamun!"


"Eh, i--iya, Tuan."

__ADS_1


Tania merogoh saku bajunya dan mendapatkan nomor rekening serta nomor HP bu Rohimah.


"Ini, Tuan." Ia menyerahkan nomor rekening itu dengan penuh hati-hati. Tak tau apa yang di lakukan Rakha, ia terlihat memencet-mencet HPnya. HP yang baru kali ini Tania lihat. Bentuknya yang pipih dan begitu tipis, di Desa kebanyakan memakai HP biasa, paling bagus mah biasanya yang bisa di lipat.


"Sudah selesai. Uangnya sudah di transfer."


"Ta--tapi," Tania malah bingung.


"Ba--bagaimana caranya? Uang ini masih utuh di genggaman tanganku. Bukankan uang ini harus di serahkan terlebih dahulu baru bisa di transfer?" Tanya Tania dengan polosnya.


Rakha hanya menggelengkan kepala. Mungkin ia juga bingung menghadapi gadis desa seperti Tania yang gaptek dan tak mengerti masalah kirim-mengirim uang yang sekarang bisa di lakukan Via-Hp.


Rakha berlalu masuk ke dalam mobil dan mulai melaju.


"Tuan, lalu uang ini bagaimana?" Tania menggedor pintu mobil Rakha.


Kaca mobil sedikit terbuka memperlihatkan wajah Rakha. Raut wajahnya begitu kesal melihat Tania.


"Pakai uangnya untuk membeli pakaian. Aku sangat benci melihat pakaianmu yang sudah lusuh warnanya itu!" Ucap Rakha yang sangat makjleb menembus jiwa dan raga.


"Jangan sekali-kali meninggalkan rumah, karena rumah ini tidak ada security-nya. Jadi kau juga bertugas menjaga rumah ini. Kalau ada apa-apa telepon saja di nomor 878, nomor itu terhubung ke nomor Hpku." Rakha menjelaskan panjang lebar.


"Ku rasa kau sudah paham?!" Sambungnya.


Kemudian mobil Rakha semakin menjauh meninggalkan Tania. Orangnya sudah hilang, tapi sakit ucapannya masih membekas di dalam dada.


'Gila! Kalo ngomong gak pakai di saring lagi!'


'Mumpung gak ada orangnya aku bisa ngomel sepuas hati. Untung saja Majikan ku! Kalau bukan, udah tak picek-picek!'


'Tapi, Tuan Rakha baik juga. Uang sudah di kirim sama Ibu, dan dia juga memberiku.'


'Ah, entahlah. Baik sih baik, tapi ucapannya kadang sulit di kontrol.'


*****


Sepi, sunyi, senyap.


'Bagaimana mungkin ia betah tinggal di sini sendirian? Apa tidak bosan?'

__ADS_1


Tania masih tak habis pikir, sambil terus membersihkan rumah dengan pikiran melayang entah kemana. Selama tidak ada yang aneh-aneh di rumah ini, ia akan tetap bertahan. Begitu tekad Tania.


***


"Hei! Kau!"


Suara yang sangat mengagetkan Tania, membuat ia sedikit terperanjat.


Tania mengatur nafas, berusaha agar tak gugup. Ia hanya bisa bertanya dalam hati. Perasaan majikannya itu tadi sudah pergi ... tapi kenapa sekarang ia malah balik lagi?


Tania bergegas menemui Rakha, tak ingin pria itu mengatainya tuli lagi.


***


Tania berdiri di hadapan Rakha. Pria itu sedang duduk bersila kaki di atas sofa yang terlihat sangat empuk, menatap dengan tatapan aneh.


Sesekali ia mendongak, memperhatikan wajah Tania. Bak di tatap oleh ribuan pasang mata.


"Berhentilah menunduk, coba lihat ke sini!" Ucap Rakha, dengan nada khasnya seperti memerintah.


Tania masih diam dan enggan mengangkat wajahnya.


"Tania!" Bentaknya, membuat dada Tania terasa bergemuruh.


"I--iya, Tuan." Tania menatap sepasang netra Rakha yang tajam.


Rakha bangkit dari duduknya menuju ke arah Tania. Tania semakin gugup. Dalam hati ia bertanya-tanya. Apakah ia mempunyai kesalahan? padahal dari tadi ia sudah melakukan pekerjaan di rumah itu.


"Bersiaplah untuk malam ini." Ujar Rakha membuat Tania bingung.


Tania mendelik, ia kembali menunduk karena tak kuasa jika harus lebih lama menatap Rakha yang sekarang tepat berada di hadapannya.


'Dia bilang malam ini? Apa maksudnya? Bibirku terasa berat untuk sekedar bertanya.'


Rakha berlalu, wajahnya terlihat sangat kesal.


Tania lagi-lagi berbenak.


'Kenapa? Apa ada yang salah dengan ku? Hingga nanti malam akan di berikan hukuman?'

__ADS_1


Tania hanya memperhatikan Rakha yang masuk ke ruang kerja yang sudah selesai ia bersihkan.


'Aku tidak mau pusing-pusing, yang penting semuanya sudah aku kerjakan dengan baik. Dan Tuan Rakha ... pria ini benar-benar membingungkan.' Lanjut Tania.


__ADS_2