Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 15 - Kembali Bekerja


__ADS_3

Tiga minggu berlalu.


Tania kembali ke rumah Rakha setelah izin selama tiga minggu untuk menemani dan merawat ibunya dalam proses pemulihan pasca operasinya waktu itu.


Syukur, keadaan ibunya semakin membaik. Bahkan beliau terlihat lebih sehat dan lebih gagah dari sebelumnya, hingga Tania lebih tenang meninggalkannya untuk kembali bekerja.


"Ya, aku akan menepati janjiku. Janji ke pada Tuan Rakha karena ia telah membiayai semua pengobatan Ibu dan operasi ibu juga. Ditambah kontrak kerjaku yang memang belum berakhir." Ucap Tania.


*****


"Bagaimana keadaan Ibumu?" Tanya Rakha saat Tania meletakkan sarapannya.


Tania tersenyum sinis mendengar pertanyaan Rakha yang terdengar sok peduli itu. "Baik," jawab Tania singkat, kemudian berlalu.


"Aku senang kau kembali ke sini," ucap Rakha entah apa maksudnya.


Tania melirik sekilas, "Aku bukanlah tipe orang yang suka ingkar janji, Tuan."


"Bagus,"


"Tapi bolehkah aku meminta sedikit keringanan?"


"Katakan."


"Setiap akhir bulan izinkan aku pulang untuk menemui Ibuku."


"Baiklah."


"Terimakasih, Tuan."


"Ya."


Entah kenapa hari ini Rakha terlihat berbeda. Tutur katanya yang biasa menyakitkan hati tak terdengar hari ini. Ia bersikap begitu santai dan tenang. Apa mungkin mood nya lagi bagus? Andai saja Rakha selalu seperti ini, tentu Tania akan betah bekerja.

__ADS_1


***


Tania heran. Ia bertanya-tanya, selama ia tak bekerja, siapa yang mengurus rumah ini? Soalnya, semua terlihat bersih, seolah tetap di bersihkan setiap hari.


Ia mengira majikannya itu memiliki Pekerja lain yang menggantikannya selama Tiga minggu kemarin? Tania terus saja membenak sambil terus menyapu rumah yang sebenarnya sudah bersih. Lama tak ke sini membuatnya sedikit canggung.


"Tania!" Panggil Rakha mengagetkan, suaranya yang besar menggema se isi rumah. Tania mendongak, menatap ke lantai atas mencari sumber suara. Ternyata Rakha sedang memperhatikannya dari atas sana.


"Kemarilah!" Teriaknya lagi.


Tania meletakkan sapu, dan bergegas menaiki anak tangga untuk menghampiri.


"Iya, Tuan?"


"Aku ingin kamar ku di bersihkan."


"Bukankah Tuan selalu melarang ku masuk ke sana?"


"Tapi sekarang ini perintah."


"Ya."


*****


"Masuklah," perintah Rakha saat Tania tiba di depan kamarnya membawa semua peralatan, seperti sapu, kemoceng dan lap.


Ini kali pertama Tania masuk ke kamar Rakha


Selama bekerja, belum pernah sekalipun Tania menginjakkan kaki di sini karena Rakha yang tak mengizinkan. Ia di perbolehkan masuk ke ruang mana saja, asal tak ke kamar ini.


Tania kira ada hal aneh, hal mistis misalnya atau apalah di kamar ini. Ternyata tak ada. Kamar Rakha sama seperti kamar-kamar di sini pada umumnya, bedanya kamar ini terlihat lebih luas dari kamar-kamar yang lain dan lebih mewah.


Biar Tania tak pernah masuk ke sini untuk membersihkannya, tapi kamar ini cukup bersih. Rakha tipe orang pembersih, ia juga rajin membersihkan kamarnya sendiri.

__ADS_1


Kamar yang bernuansa klasik nan mewah. Membuat siapapun pasti terkagum-kagum seperti Tania saat ini.


Di kamar ini terdapat jendela begitu besar di sisi sebelah kanan. Saat melihat ke bawah dari jendela, terlihat kolam renang di bawah sana. Kamar ini sangat nyaman.


'Andai saja aku yang tidur di sini pasti aku akan tidur lebih awal dan bangun paling siang.' Tania terkekeh dalam hati.


Tania mulai membersihkan, merapikan lagi bad-cover di kasur, lebih membuka lebar tirai di jendela, dan menyapu debu-debu yang menempel di setiap benda di kamar ini. Sedangkan Rakha hanya memperhatikan dari sofa yang tak jauh dari kasurnya berada.


Saat membersihkan dan merapikan peralatan di atas meja, mata Tania tertuju pada sebuah foto yang berbingkai putih di atas meja itu. Foto seorang wanita yang sedang tersenyum. Sangat cantik.


Tania memandang foto itu sangat lama. Senyum wanita yang ada di foto itu benar-benar menghipnotis dan menyejukkan.


"Kau sedang apa?" Tanya Rakha mendekati Tania.


"Dia sangat cantik, Tuan." Jawab Tania masih menatap pada foto yang sedang ia pegang.


Rakha malah tersenyum. Senyum yang miris. Tak ada raut senang di wajahnya. Malah Tania melihat kesedihan, kesedihan yang seolah di tahan.


"Dia siapa?" Tanya Tania, iseng.


"Kau tak perlu tau, letakkan kembali. Dan kau keluarlah dari sini. Aku mau sendiri."


"Tuan?" Tania menatap Rakha. Kenapa pria itu tiba-tiba berubah drastis?


"Pergilah, Tania."


"Ba--baik, Tuan." Mata Tania masih menatap Rakha. Dapat ia lihat, mata majikannya itu sedang berkaca-kaca.


Tania bergegas mengambil semua peralatannya dan meninggalkan kamar itu.


Saat Tania sudah keluar dan menuruni anak tangga, ia mendengar teriakan Rakha yang begitu keras. Pria itu seperti meraung menyebut nama seseorang.


KARISMA!!!

__ADS_1



__ADS_2