
Tania dan Rakha mulai bekerja sama untuk merombak isi kamar ini.
Semua mereka lakukan bersama-sama. Mengganti sprei kasur, mengganti gorden baru yang sudah sampai, merubah posisi sofa, dan beberapa perabotan lainnya.
Beberapa lukisan yang baru mulai di pasang di dinding, karpet di kamar juga di ganti. Terakhir, Tania meletakkan bunga lavender imitasi di atas meja yang tak jauh dari ranjang.
"Hah! Selesai juga akhirnya." Tania merenggangkan otot-otot pinggang, membuat Rakha tersenyum kecil menatapnya. "Capek?"
"Lumayan,"
Rakha mendekat ke arah Tania, gadis itu mendongak menatapnya, karena tubuh Rakha yang memang lebih tinggi darinya.
"Ke--kenapa?" Tania mulai salting.
Tangan Rakha lantas menyentuh pipi gadis itu. Ia Sedikit mengusap bagian di sana.
"Debunya menempel di sini." Ucap Rakha. Tania semakin salting di buatnya. Bisa-bisanya gadis itu tadi sempat memejamkan mata. Memang mau ngapain?
Tania memalingkan wajah, mengusap pipinya berkali-kali. Ah, seperti biasa ... wajahnya mulai terasa panas.
"Apa kau tak ingin mencobanya di suasana baru ini, Tania?" Rakha tersenyum kecil pada Tania.
"Ma--maksudnya bagaimana, Tuan?" Tania mengernyitkan dahi.
Rakha mendorong Tania ke kasur. Benar saja, sudah lama ia tak melakukan itu pada gadis itu.
"Apa harus sekarang, Tuan?"
"Aku menginginkannya."
"Ta--tapi, aku lelah, Tuan. Apa Tuan tak mencium bau keringat pada tubuhku?" Tania berusaha untuk menghindar. Lagi pula, ia benar-benar lelah. Merenovasi isi kamar ini sangat menguras tenaga.
__ADS_1
Rakha diam, ia menatap Tania dengan raut wajah kecewa. "Sana bersihkan dirimu!" Ucapnya, seolah mengalah.
"Ba--baik, Tuan. Aku permisi."
Secepat kilat Tania beranjak. Untuk saat ini gadis itu selamat. Tapi, bagaimana jika nanti jika tuannya itu akan mengulangi keinginannya?
*****
"Langit malam yang indah. Saat melihat ke langit, ada bulan dan bintang yang seakan menyapa. Mereka dapat di lihat dari sini."
"Sedang apa?" Tanya Rakha datang menghampiri Tania yang sedang duduk di teras depan rumah.
"Lihat langit, Tuan." Jawab Tania, masih fokus pada keindahan alam itu.
"Kau sudah sering melihatnya."
"Hanya pemandangan ini yang bisa ku lihat di sini."
"Apa mau di kata? Memangnya Tuan mengizinkan ku pergi keluar?" Tania melirik Rakha.
"Tidak."
Tania mendengus. Kembali fokus. Sedangkan Rakha berlalu, masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian ia kembali datang. Melemparkan sesuatu pada gadis itu. Seperti baju.
"Apa ini, Tuan?" Tanya Tania heran. Saat ia bentangkan, itu merupakan jaket.
"Buruan pakai!"
"Untuk apa? Aku tidak kedinginan."
__ADS_1
"Jangan membantah!" Ucap Rakha, ia mulai berjalan ke arah Garasi.
"Apa sih, maksud orang ini?" Tania hanya bisa bergumam.
"Hoi!!! Buruan naik!!!" Teriak Rakha dari dalam mobil.
"Ah! I--iya, Tuan!" Balas Tania. Gadis itu berlarian kecil menuju mobil, kemudian masuk.
"Kenapa belum di pakai juga jaketnya? Nanti kau menyusahkan ku karena kedinginan!"
"Iya, ini juga mau di pakai, Tuan." Jawab Tania masih berusaha memasang resleting jaket yang berwarna biru tua itu.
"Lama sekali!" Celetuk Rakha, yang berusaha membantu Tania menutup resleting jaket itu
Dengan jarak wajah yang tak beberapa senti, mata mereka kemudian saling bertemu.
Degh!
Detak jantung,
Detak jantung Tania mulai berdebar-debar. Seperti nge-blank. Ia terpaku menatap mata hitam pekat milik Rakha.
...
"Sudah selesai," ucap Rakha. Raut wajahnya terlihat aneh. Terlihat, wajahnya ... memerah.
Rakha kemudian melajukan mobil, tak tau kemana ia akan membawa Tania malam ini, yang jelas ini kali pertama gadis itu keluar rumah pada malam hari saat bekerja padanya.
Tania merasa sangat senang, karena aku bisa melihat keindahan cahaya lampu-lampu di Kota ini.
"Jujur saja,
__ADS_1
Debaran itu masih ku rasakan hingga saat ini."