
Rakha terus saja memperhatikan Tania yang masih tertidur. Untuk beberapa saat ia seperti terpaku dengan wajah gadis manis itu. Bulu mata lentik, bibir mungil dan hidungnya yang mancung membuat mata tak jenuh untuk memandang.
Tania banyak perubahan. Sangat berbeda dari pertama ia datang kemari.
Jika dulu ia terlihat sangat kurus dan lusuh. Kini pipinya lebih terlihat berisi, begitu juga badannya. Kulitnya yang semakin halus dan semakin bersih. Tentu saja ini semua karena Tuan Rakha yang memberikannya peralatan untuk merawat tubuh.
Tangan Rakha seperti bergerak sendiri membelai wajah gadis itu. Perlahan ... sangat lembut. Hingga akhirnya Tania terbangun.
"Tu--tuan?" Tania memicingkan mata.
Rakha segera mungkin mengalihkan pandangan. Ia terlihat gugup.
"Kau kesiangan, Tania!" Celetuk Rakha. Ia seperti menyembunyikan rasa groginya.
"Ma--maaf, Tuan. Aku akan segera membuatkan Tuan sarapan."
"Ya."
Tania bergegas, bangkit dari sofa tempat mereka 'nonton' tadi malam. Ia tampak meregangkan otot-otot pinggang dan lengannya, hingga menimbulkan bunyi 'krek!'
Mata Rakha tetap mengikuti Tania yang berjalan hingga ke dapur.
***
"Manis," ucap Rakha tiba-tiba, saat ia selesai menyeruput kopinya. Tapi tatapannya tepat pada Tania, membuat gadis itu sedikit memicingkan alis.
"Ko-kopinya terlalu manis. Apa kau ingin membuatku diabetes?" Rakha mengulang ucapannya.
"Ma--maaf, Tuan. Tapi, takaran gulanya sama seperti biasanya, kok." Tania keheranan.
__ADS_1
"Sudahlah."
"Kalau begitu, aku buatkan yang baru saja, Tuan."
"Tidak perlu," balas Rakha.
Rakha kembali melanjutkan sarapannya. "Hari ini kita masih harus merenovasi ruang kerjaku, Tania." Ucapnya kemudian.
"Baik, Tuan."
Setelah Rakha menyelesaikan sarapannya, Tania bergegas membereskan. Kemudian, tanpa sepengetahuan Rakha, ia meminum kopi yang katanya 'kemanisan' padahal takaran gulanya sama seperti yang biasa Tania buat. Bukan apa, hanya penasaran.
"Gak manis, kok. Tuan mengada-ngada!" Umpat Tania saat kopi itu sudah ia cicipi.
*****
"Iya, Tuan?"
"Jaket yang tadi malam mana?"
"Ada di kamarku. Maaf, Tuan. Jaketnya belum sempat aku cuci."
"Tidak apa-apa. Buruan ambil!"
"Ta--tapi, Tuan." Tania merasa tak enak hati.
"Buruan!"
"Ba--baik, Tuan."
__ADS_1
Rakha membuntuti Tania menuju kamar.
"Tuan tunggu di sini, biar aku ambilkan."
"Iya."
Tak lama kemudian Tania keluar dengan membawa jaket yang Rakha maksudkan di tangannya.
"Maaf, Tuan. Seharusnya, tadi pagi aku langsung mencuci jaket ini." Tania menyerahkan jaketnya pada Rakha. Tetap saja, ia merasa tak enak hati.
"Em," ucap Rakha langsung mengambil jaket itu dari tangan Tania. Kemudian berlalu.
Tania melanjutkan aktivitasnya mencuci piring.
*****
Rakha terus saja memegangi jaket yang sudah di pakai Tania tadi malam. Ada bau khas dari tubuh gadis itu yang masih melekat di jaket. Rakha tak marah, justru ia tersenyum, dengan wajah Tania seolah melintas di depan mata.
"Ada apa dengan diriku akhir-akhir ini? Kenapa ada perasaan yang begitu aneh? Tania ..." Gumam Rakha.
Tak sengaja tangan Rakha meraba di dalam kantong jaket yang seperti terdapat sebuah benda di dalamnya.
Rakha lantas mengambil benda itu, dan memperhatikan secara seksama.
"Kartu nama? Reyhan Aditiya?" Rakha mengernyitkan dahinya.
Di saat bersamaan, Tania teringat pada kartu nama yang di berikan Rey tadi malam yang ia simpan di kantong jaket. Dan jaket itu sekarang sudah ada di tangan Rakha.
"Astaga! Aku lupa!" Tania menepuk jidatnya. Bergegas Tania menaiki anak tangga untuk menemui Rakha dan menanyakan perihal kartu nama itu.
__ADS_1