
Tania benar-benar memperhatikan Rakha, mengurus pria itu dengan sangat baik, dan memperlakukan Rakha dengan sangat lembut, tak perduli kadang seberapa buruk perlakuan Rakha padanya. Bukan masalah bodoh, tapi ia masih mempunyai hati nurani dan mempunyai tanggung jawab atas pekerjaannya dan majikannya itu.
"Apa tuan masih merasakan pusing?" Tanya Tania menatap Rakha, Rakha membalas tatapan itu. Benar-benar memancarkan ketulusan.
"Tidak," jawab Rakha dengan senyum kecilnya.
"Semoga besok tuan segera membaik."
"Apa kau tak ingin merawat ku lebih lama?"
"Aku bisa merawat tuan walau tuan tak sakit sekalipun. Aku hanya ingin tuan bisa kembali beraktivitas seperti biasa." Jawab Tania.
"Terimakasih," lirih Rakha
"Kembali kasih, Tuan. Perbanyaklah istirahat."
*****
Tiga hari berlalu,
Rakha sudah merasa sehat, walau tubuhnya masih sedikit lemah. Pagi ini, ia berjemur di taman belakang rumah di temani Tania tak jauh dari tempat ia duduk.
Selama tiga hari ini mereka benar-benar selalu bersama, sehingga menimbulkan 'suatu' perasaan dari keduanya. Entahlah, mungkin perasaan nyaman dan mulai terbiasa.
"Bisakah kau kemari, Tania?" Pinta Rakha. Tania berjalan mendekat.
Rakha lantas menarik tangan gadis itu, membuat ia terjatuh tepat di pangkuannya.
__ADS_1
"Tuan!" Tania kaget dan hanya bisa ternganga.
"Diam, dan tetaplah seperti ini." Bisik Rakha.
"Ta--tapi,"
"Aku lebih nyaman seperti ini, Tania. Ikuti saja."
Tania mengangguk pelan, mengikuti apa yang Rakha perintahkan padanya.
Untuk beberapa saat mereka saling tatap, kemudian Tania memalingkan wajah, karena tak kuasa untuk menatap mata itu lebih lama. Jantungnya berdebar-debar. Begitu juga Rakha, entah kenapa ia seperti merasakan rasa yang pernah hilang.
Sinar mentari pagi yang hangat, seperti memberi kehangatan pada jiwa keduanya.
*****
"Tidak apa, Tuan. Masih ada bulan depan."
"Kenapa harus menunggu bulan depan? Kau boleh mengambil hari libur mu besok."
Mata Tania membulat, ia seperti tak percaya mendengar ucapan Rakha.
"Tuan serius?"
"Ya. Pulanglah." Rakha menyunggingkan senyumnya. "Tapi, tak bosan-bosan aku mengatakannya padamu, Tania. Kau tetap harus kembali lagi ke sini." Sambung Rakha.
"Iya, Tuan. Te--terimakasih." Tania masih tak percaya dengan kebaikan Rakha yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Ya. Tapi, tetap saja ... kau boleh pulang selama tiga hari."
"Baik, Tuan." Tania begitu sumringah.
Di rasa sinar mentari yang mulai menusuk kulit, Rakha menyudahi aktivitas berjemur nya. Sekarang Rakha merasa tubuhnya sudah kembali lagi seperti sedia kala. Lama berjemur membuat tubuhnya berkeringat. Ia malah merasakan lapar dan ingin segera makan.
Tania dengan sigap menyiapkan semuanya, ia sangat bersemangat. Apalagi mendengar ucapan Rakha kalau ia boleh pulang ke Desa semakin membuat semangatnya menggebu-gebu.
*****
Malam hari, Tania menyiapkan segala keperluannya untuk di Desa. Ia sangat tak sabar, karena begitu merindukan ibunya. Dan ... ada seseorang yang juga menantikan kepulangannya.
"Rey? Apa ia tak bohong? Apa ia juga akan kembali ke Desa seperti ucapannya pada waktu itu? Apa ia masih mempunyai perasaan padaku setelah jarang bertemu dan jarang komunikasi?" Tania gundah gulana.
"Tapi biarlah. Tak perlu mengharapkan. Karena, berharap pada manusia hanya kecewa yang akan di dapat."
"Berharap jangan, tak berharap pun jangan."
*****
Sementara itu,
Rakha berdiam diri di sofa kamarnya, memikirkan Tania yang akan pulang besok. Entah kenapa hatinya menjadi galau. Ia tak akan bertemu gadis itu berhari-hari. Ia akan sendirian dan kesepian untuk beberapa hari tanpa melihat gadis manis itu.
Ilustrasi di bawah sinar mentari
__ADS_1