Dari Nyaman Jadi Cinta

Dari Nyaman Jadi Cinta
Bab 31 - Bahan Gosip


__ADS_3

Pukul 7 malam Tania baru tiba di rumah. Ia memang sengaja pulang malam hari untuk menghindari Rakha. Sekali lagi ia katakan, ia tak suka Rakha berada di sana.


Saat Tania masuk ke rumah, ia tak menemukan Rakha. Tania celingak-celinguk, siapa tau pria itu berada di ruangan lain, atau izin ke tandas sebentar.


"Bu, Tuan Rakha mana?" Tanya Tanya basa-basi.


"Sudah pulang tak lama setelah kamu pergi." Jawab bu Ayu.


"Syukurlah." Ucap Tania lega.


"Kamu ini, kenapa malah pergi saat ada tamu? Lagian dia kan atasan mu, Nak. Tak sopan jika bersikap seperti itu." Ucap bu Ayu lembut.


Tania berdecak kesal. "Bu, mana ada tamu yang seharian berada di rumah orang. Itu mah bukan tamu. Lagian, aku sekarang lagi libur dan ingin menikmati liburan, kenapa ia malah kemari? Bos yang tidak profesional!"


"Aku sengaja pergi karena emang tidak suka Tuan Rakha berada di sini." Sambung Tania cemberut.

__ADS_1


Bu Ayu hanya menggelengkan kepala mendengarkan ocehan anaknya itu.


"Sudah, sana mandi. Lain kali tidak boleh lagi berada di luar saat waktu magrib."


"Iya, Bu maaf. Ini semua karena Tuan Rakha!"


*****


Hari ke-3 di Desa, itu berarti besok Tania harus kembali lagi bekerja.


Seperti biasa, rutinitas pagi Tania adalah berberes-beres dan menyiapkan sarapan. Semua kegiatan ini sudah biasa ia lakukan, hingga pada saat tidak melakukannya ia merasa seperti ada yang kurang.


"Ada apa, Bu lek?" Tanya Tania penasaran.


Bu Rohimah melipat kedua tangannya ke dada. "Itu tadi di warung bu Endang, ibu-ibu di sana pada gosipin kamu kemarin jalan sama anaknya pak Rustam. Bu lek dengar sendiri. Pas Bu lek hampiri, mereka semua diam. Dasar! Apa gak ada kerjaan lain selain menggosipkan orang? Pagi-pagi buta, juga!" Oceh bu Rohimah penuh emosi.

__ADS_1


"Udah Bu lek, biarin ajalah. Aku pernah dengar kata nasihat, yang katanya kek gini, kita hanya punya dua tangan tak mungkin bisa untuk menutup mulut-mulut mereka. Maka, gunakanlah dua tangan ini untuk menutup telinga kita. Udah, pura-pura gak tau aja. Pura-pura gak denger, ntar mereka capek sendiri."


"Iya, Nia. Tapi Bu lek kesel orang-orang pada menghina kamu dan ibu kamu."


"Udah biarin aja, Bu lek." Ucap Tania menenangkan, walau dalam hatinya tak usah di tanyakan lagi betapa nyeseknya.


Ya beginilah kalau jadi orang miskin. Saat jalan bersama yang kaya akan di hina, di caci maki, di kata-katain segala macam hal. Pun saat jalan dengan sesama orang miskin, mulut mereka akan lebih jahat lagi menghina dan mencaci maki. Serba salah.


Tapi beginilah dunia, tak ada yang resek rasanya sepi. Yang resek-resek itu menguatkan mental mu. Tergantung pada dirimu, akan menanggapi atau mengangap sekedar angin lalu.


*****


Hari terakhir liburan Tania memutuskan untuk memasak berbagai macam masakan, karena ia ingin mengajak ibunya dan bu Rohimah piknik. Ya, piknik ala-ala, yaitu makan di tepi sungai Taman Desa. Berhubung hari ini minggu, pasti ramai para keluarga juga berkumpul di sana dan melakukan acara makan-makan.


Taman Desa itu sudah menjadi tempat wisata umum. Tak jarang orang-orang dari luar datang kesana untuk menikmati keindahan sungai yang luas serta jernih, di tambah udara di sini begitu sejuk dan tempatnya yang masih asri.

__ADS_1


Kebanyakan yang datang adalah orang-orang dari Kota. Mungkin mereka sudah lelah dengan hiruk pikuk keramaian hingga memutuskan untuk mencari ketenangan dengan berlibur ke Pedesaan.



__ADS_2