
Pintu di buka dengan sangat kasar, pak Hermanto yang sedang duduk di ruang tamu terperanjat dengan kedatangan Rakha yang penuh dengan amarah.
"Tuan Rakha?" Pak Hermanto terbelalak. Belum sempat ia bertanya maksud kedatangan Rakha ke rumahnya, pria itu tiba-tiba tersungkur akibat pukulan yang tepat mengenai wajahnya.
"Pekerja macam apa yang kau berikan padaku, Hermanto?"
"Maksud Tuan, apa?" Lirih pak Hermanto, mengusap wajahnya yang terasa sakit.
Pak Hermanto bangkit, ia bahkan tak berani melawan sedikitpun. Malah sekarang ia tertunduk di hadapan Rakha, karena begitu takut pada pria itu.
"Pekerja yang kau bawa sama sekali tak mau melayani ku! Apa kau tidak menjelaskan detail pekerjaannya?"
"Maafkan saya Tuan, saya kira dia akan melakukan semuanya, karena saya pikir ia hanyalah Gadis Desa yang polos dan pasti nurut."
"Nurut katamu? Yang ada dia hanya membangkang dari tugasnya."
Pak Hermanto terdiam.
"Kembalikan saja dia ke Desanya,"
"Tapi Tuan, ia sangat membutuhkan pekerjaan. Jangan pecat dia, berilah ia kesempatan sekali lagi, Tuan."
"Memangnya kenapa? Kenapa aku harus mempertahankan seorang pembangkang?"
"Ibunya sedang sakit-sakitan, Tuan. Itu informasi yang saya dapatkan tentang dia."
"Lantas?"
"Saya hanya ingin menolong atas dasar kemanusiaan, Tuan."
"Jangan bicara soal kemanusiaan kalau kau masih menggeluti dunia bisnis seperti ini Hermanto! Aku muak mendengarnya."
"Tolong berikan dia kesempatan, Tuan."
"Kau bicara seperti ini karena tidak mau mengembalikan uang yang sudah ku berikan pada mu, bukan?"
Lagi-lagi pak Hermanto terdiam. Sebenarnya ia tak ingin berurusan dengan Rakha. Tapi apa mau di kata, mencari pekerja yang seperti Rakha inginkan tentu sangat sulit. Bisa di bilang paket lengkap.
Tania adalah sasaran empuk, karena gadis itu yang memang terdesak dengan keadaan. Pak Hermanto juga tak akan mengira masalahnya akan merembet seperti ini.
__ADS_1
"Bersabarlah, Tuan. Mungkin gadis itu butuh waktu untuk menerima semua ini." Dengan gemetar pak Hermanto kembali menjawab.
Sekali lagi pukulan mendarat pada pak Hermanto, kali ini mengenai perutnya yang buncit. Pak Hermanto hanya mengerang kesakitan.
"Itu untukmu karena bekerja tak becus!"
Rakha berlalu meninggalkan kediaman pak Hermanto, menuju suatu tempat. Tempat yang paling nyaman untuk meluapkan semua emosi.
*****
Bar,
Di sini Rakha sekarang. Kejadian lima tahun yang lalu membuat pria ini menjadi terbiasa menggeluti dunia malam, minuman, wanita, dan hal-hal yang menurutnya menyenangkan dan mengusir kesepian dalam hidupnya.
Di tempat ini Rakha sudah membiasakan diri, walau harus menghabiskan uang dan waktu untuk kesenangan yang sesaat. Walau kesepian akan tetap datang menghampiri, setidaknya ia bisa menghilangkan rasa itu walau hanya sebentar.
Dalam keadaan setengah sadar, kenangan lima tahun itu kembali melintas.
***
Saat itu Rakha adalah pemuda yang penuh dengan prestasi dan sedang di puncak kesuksesan pada bisnis yang sedang ia jalani. Yaitu bisnis keluarganya sendiri.
Di umur yang masih muda--23 tahun, Rakha mampu menjadi pebisnis yang patut di acungi jempol. Perusahaan lain mulai berbondong-bondong melakukan kerja sama pada Perusahaannya. Hingga Perusahaan Rakha semakin melejit dan melambung tinggi.
Rakha dan Karisma, pasangan yang sangat serasi. Dan menjadi buah bibir orang-orang kala itu. Rakha begitu mencintai gadis itu melebihi apapun, bahkan dari dirinya sendiri sekalipun.
Tatapan dan perlakuan dari Karisma bagaikan candu yang memabukkan. Mendengar kabar, kalau mereka tak lama lagi akan menikah.
****
"Sayang, besok aku akan ke Luar Negeri selama lima hari. Kamu jangan nakal, ya." Ucap Rakha pada Karisma, di sertai kecupan manja di kening gadis itu.
"Kenapa pergi-pergi mulu? Padahal pesta pernikahan kita akan di laksanakan sebentar lagi." Karisma cemberut, tapi raut wajahnya tetap terlihat cantik.
"Cuma sebentar, ada pertemuan penting dengan rekan bisnis."
"Kamu selalu gak ada waktu buat aku."
"Aku kerja juga buat bahagiain kamu, Sayang."
__ADS_1
"Yaudah." Karisma memeluk manja. Hingga adegan peluk-cium dan lain sebagainya tak bisa di hindarkan.
***
Esoknya, Rakha segera berangkat menuju Bandara.
Entah kenapa, hari itu keberangkatan Rakha di batalkan setelah ia mendapat telepon, dan pria itu segera bergegas pulang. Pulang ke rumah Karisma.
Perasaan Rakha semakin campur aduk saat mendapat kiriman foto Karisma yang sedang 'bermain' bersama pria lain. Dan sebagian foto memperlihatkan tubuh Karisma tanpa sehelai benang pun.
Pintu kamar Karisma di buka oleh Rakha yang masih tak percaya dengan semua yang di kirimkan oleh seseorang itu.
dan benar saja, adegan panas itu di saksikan sendiri oleh Rakha yang tak bisa berkata-kata. Bagai di hujam tombak panas, dada Rakha terasa sangat sakit dan seperti terbakar. Kepala serasa ingin meledak.
Tanpa basa-basi, Rakha membanting pria yang bersama Karisma. Pria yang masih dalam keadaan telanjang. Dan pria itu adalah rekan bisnis Rakha sendiri, bahkan ia adalah Sahabat Rakha--Dani.
Serangan membabi-buta di tujukan Rakha pada Dani. Tanpa ampun Rakha membantai pria itu yang hanya bisa meraung kesakitan.
Dan yang paling menyakitkan adalah, Karisma membela Dani, membuat Rakha seketika menjadi lemas tak berdaya.
"Kenapa? Kenapa, Karisma?" Rakha terduduk lemas bersandar di dinding. Hatinya remuk, hancur berkeping-berkeping.
"Aku tidak tau, Rakha! Kamu tidak bisa memaksakan kehendak mu. Aku memang cinta sama kamu, tapi aku lebih nyaman saat bersama Dani. Kau tau, Dani selalu ada untukku."
"Apa tak ada lagi ruang untuk diriku, Karisma?" Rakha menangis, mengiba pada pada gadis yang begitu ia sayangi dan cintai.
"Tidak, Rakha. Sekarang aku lebih memilih Dani." Karisma membopong Dani bangkit. Mereka memunguti pakaian yang berserakan.
"Kita bisa memulai semuanya dari awal, Karisma. Pikirkan lagi, pernikahan kita sudah di depan mata." Rakha masih berusaha menyakinkan Karisma, menyebut nama gadis itu berkali-kali dan tetap mencoba berdamai dengan keadaan.
"Tidak, Rakha! Kita batalkan semuanya. Sekarang juga kamu pergi!" Teriak Karisma. Tekadnya sudah bulat untuk mengakhiri semuanya dengan Rakha.
Rakha hanya diam, pasrah dengan semuanya. Saat itu juga hatinya terasa hancur dan tak mungkin untuk sambungkan kembali.
Hingga saat ini, Rakha lebih nyaman dengan dunianya sendiri. Fokus pada kerjaan dan memilih untuk tidak percaya dengan siapapun.
Ketenangan dan jauh dari keramaian adalah hal yang di sukai nya saat ini. Walau terkadang sesekali Bar juga menjadi tempat bersinggah.
Fokus hidup sendiri, walau banyak yang tak tau di rumahnya Rakha mempunyai Pekerja yang siap melayaninya dalam segala hal, hanya untuk menghilangkan kesepian hati yang tak mungkin hilang.
__ADS_1
Karena semua perasaan itu sudah di bawa oleh Karisma. Wanita yang benar-benar bisa merenggut separuh hidupnya.